I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 18: Tampan-tampan Tapi Gila


__ADS_3

"Good Night, Baby."


"Shilla, apa yang sedang kau lakukan di kamarku?!"


Shilla tersenyum nakal. Kemudian wanita itu turun dari tempat tidur dan menghampiri Aiden. Dengan gerakan sensual, Shilla menggerakkan jari-jarinya menyusuri setiap inti dada dan punggung Aiden yang tersembunyi di balik kemeja dan vest-nya.


"Aiden, sampai kapan kau akan jual mahal padaku? Aku sudah tahu kalau kau diam-diam menyukaiku, bahkan demi bersamaku kau rela mengklaim dirimu sendiri sebagai seorang impote*. Tapi kenapa setelah aku berada di hadapanmu kau malah bersikap seolah-olah tidak menyukaiku sama sekali. Dan disini hanya ada kita berdua, jadi untuk apa kau berpura-pura lagi."


"Kemarilah, Sayang. Mendekatlah dan menjalankan aku malam ini. Aku sangat kesepian dan haus akan belaian. Puaskan dirimu dan gunakan diriku sesuka hatimu,"


Dengan kasar air dan menyentak tangan Shilla dari tubuhnya dan mendorongnya hingga wanita itu terhuyung kebelakang. "Kau benar-benar tidak waras, Shilla. Memangnya siapa yang mengatakan omong kosong itu padamu?! Keluar dari kamarku sekarang juga, sebelum aku hilang kesabaran!!"


Bukannya pergi. Shilla malah semakin mengintimkan tubuhnya pada Aiden. Jarak diantara mereka terbunuh sempurna. Baru saja Shilla hendak menyentuh Aiden seperti tadi, lebih dulu pria itu mendorongnya ke arah jendela.


"Aiden, apa yang kau lakukan?" Shilla panik bukan main ketika Aiden mendorongnya hingga setelah tubuhnya menggantung di kusen jendela. "Aiden, tarik aku kembali!!"


"Aku tidak akan segan-segan melemparmu dari jendela ini jika kau berani macam-macam lagi. Pergi dari rumah ini, dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di depanku!!" Kemudian Aiden menarik Shilla hingga dia tersungkur.


"Aiden, dulu kau tidak seperti ini padaku. Kau selalu baik dan memperlakukanku dengan hangat, tapi kenapa sekarang sikapmu berubah? Apa yang sebenarnya yang salah? Atau mungkin karena perempuan yang bersamamu hari itu? Apa karena dia kau sekarang mengabaikanku?!"


Aiden menatap Shilla dengan sinis. "Dia tak ada hubungannya sama sekali. Asal kau tau saja, Shilla. Kaulah yang sudah salah mengartikan sikap dan perhatianku padamu. Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang teman!!" Ucapnya tegas.


Shilla merasa jika Aiden sudah sangat keterlaluan padanya. Bukan, bukan Aiden yang keterlaluan melainkan Shilla yang sudah salah paham pada sikap dan perhatian yang Aiden berikan selama ini.


"Ingat Aiden, aku pasti akan membuatmu menyesal!!" Shilla menyeka air matanya dan pergi begitu saja.


Aiden mendesah berat. Di dunia ini memang tidak ada permasalahan yang lebih rumit dari kisah percintaan. Banyak orang yang berubah dari baik menjadi jahat, dari jahat menjadi baik dan semua itu disebabkan oleh cinta. Dan sekarang persetan dengan yang namanya cinta.


-


-

__ADS_1


"Omo...Omo... Omo...!! Len, jangan lewat sana. Di depan sana ada lubang yang sangat dalam!!"


Aileen memicingkan matanya memastikan apa yang William katakan. "Matamu buta ya?! Jelas-jelas itu adalah lautan bunga warna-warni, bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai lubang. Ayo, kita bermain dan berguling-guling disana!!"


William menggeleng. "Tidak mau!! Tidak mau!! Huaaa.... Kalau mau mati jangan ajak-ajak. Sendiri saja sana. Aku tidak mau, aku tidak mau. Huaaa... Siapapun tolong aku, bocah alien ini ingin mengajakku bunuh diri!!"


Orang-orang yang ada di sekeliling mereka menatap kedua pemuda itu dengan pandangan terheran-heran. Pasalnya keduanya bertingkah sangat aneh, ada yang menyebut jalanan beraspal sebagai lubang yang sangat dalam, ada pula yang menyebut itu adalah lautan bunga warna-warni. Padahal tidak ada apa-apa dan hanya jalanan beraspal khusus pejalan kaki.


"Mereka berdua itu kenapa? Apa mereka berdua tidak waras? Bagaimana bisa mereka menyebut jalan beraspal sebagai lautan bunga dan lubang yang dalam. Mereka benar-benar mabuk."


"Iya, aneh. Sangat disayangkan, tampan-tampan tapi kok gila!!"


Seolah tuli. Aileen dan William mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang tengah membicarakan mereka berdua. Mereka tengah asik dengan dunianya sendiri."Hehehe, lihatlah-lihatlah banyak kupu-kupu cantik yang menghampiriku."


"Huaa... Huaa...!! Kobaran api, kobaran api. Huhuhu... Siapa pun tolong aku, aku tidak mau terbakar hidup-hidup!!"


Mereka berdua pun semakin menjadi-jadi. Minuman beralkohol yang mereka minum benar-benar memberikan efek yang sangat luar biasa. Hingga orang-orang yang ada disekelilingnya sampai menyebut mereka berdua kurang waras.


"Aisshhh... Mana ada raksasa. Kau ini menghayal ya, jelas-jelas hanya ada para Dewi yang cantik dan bahenol. Oh surga dunia, benar-benar sangat luar biasa." Aileen berputar-putar sambil merentangkan kedua tangannya.


Orang-orang bergidik ngeri melihat mereka berdua. Mereka pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kedua pemuda tampan tersebut. Sementara itu, Aileen dan William masih tetap asik dengan dunianya sendiri.


-


-


Byurrr...


"BANJIR... BANJIRRR...." Aileen berteriak histeris seraya bangkit dari berbaringnya. Lalu pandangannya menyapu. "Eh, kenapa tidak ada air sama sekali? Dan kenapa aku bisa tidur di lantai?!" Ia bertanya-tanya penuh keheranan. Kedua mata Aileen kemudian membulat sempurna. Dia mengangkat kepalanya dan.... "Hyung!!!"


Bulu kuduk Aileen berdiri seketika melihat tatapan Aiden yang begitu mematikan. Sang kakak berdiri dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi. "Hehehe... Damai, Hyung. Damai," dia mengangkat tangannya membentuk huruf V.

__ADS_1


"Mulai malam ini aku akan mencabut semua fasilitasmu, terutama motor dan ponsel. Tidak ada lagi menonton televisi apalagi kelayapan tidak jelas, kau harus belajar dengan benar sampai kau bisa dapat nilai terbaik seperti yang aku harapkan. Akhir-akhir ini nilaimu turun drastis. Tidak ada fasilitas tidak ada tambahan uang jajan."


"Apa?!" Aileen memekik kencang setelah mendengar apa yang Aiden katakan. "Hyung, apa kau bercanda? Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa ponsel itu Hyung, bagaimana aku bisa berinteraksi dengan para gadis-gadis yang selama ini menggagumiku. Dan jika kau melarangku menonton tv, bagaimana bisa aku mengikuti perkembangan semua kartun dan animasi favoritku. Dan lagi, jika tidak ada motor dan tambahan uang jajan bagaimana bisa aku hidup." Aileen berkata panjang lebar, mencoba melayangkan protesnya pada Aiden.


Pria itu memutar bola matanya jengah dan berlalu begitu saja. "Tao aku ingin kau mengawasi bocah ini, pastikan dia belajar dengan benar." Ujar Aiden di tengah langkahnya.


Dengan sigap Tao bangkit dari duduknya."Dengan senang hati, Tuan." Balas Tao dengan senyum penuh kemenangan. Dalam hatinya dia berkata. 'Hahahah tamat sudah riwayatmu, Aileen Zhang.' Entah kenakalan seperti apa yang telah Aileen perbuat pada Tao, sampai-sampai dia memiliki dendam kesumat padanya.


-


-


"Pagi,"


Suara bak lonceng yang berkaur di indera pendengarnya mengalihkan perhatian Aiden dan tumpukan dokumen yang ada di depannya. Pria itu mengangkat wajahnya dan mendapati Aster memasuki ruangannya sambil membawa sebuah paper bag di tangan kirinya.


"Ini hasil dari desain yang aku kebut semalam. Ini contohnya, menurutmu bagaimana?" Aster menunjukkan sebuah mantel musim gugur yang baru selesai dia jahit pagi ini. Itu adalah salah satu contohnya. Dan untuk keseluruhan barangnya, tentu saja pabrik yang mengerjakannya.


Aiden menatap hasil rancangan dan jahitan tangan Aster dengan luas. Seperti yang dia harapkan. Semua begitu sempurna. "Bakatmu sangat luar biasa, Nona. Amazing, aku sangat puas dengan hasilnya."


"Dan mantel ini akan kuberikan secara cuma-cuma untukmu. Anggap saja sebagai hadiah kecil dariku. Dan percayalah jika ini satu-satunya, karena selebihnya bukan aku yang menjahitnya."


"Dan sebagai imbalannya, aku akan membawamu makan di restoran mewah. Anggap ini sebagai ucapan terimakasih dariku."


Aster tersenyum lebar. "Setuju!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2