
Hari demi hari terus berganti, waktu berlalu begitu cepatnya. Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya dia bekerjasama dengan perusahaan besar milik Aiden. Dan selama dua bulan terakhir, penjualan semakin meningkat begitupun dengan minat masyarakat akan desain yang Aster ciptakan.
Disebuah boutique yang terletak di jantung kota Seoul. Terlihat seorang wanita muda yang tengah sibuk melayani para pembeli. Hari ini boutiquenya sangat-sangat ramai, sampai-sampai dia harus turun juga untuk membantu para pelayan melayani para costumer yang datang.
"Sepertinya kau sangat sibuk, apa butuh bantuan." Tegur seseorang dari belakang.
Sontak wanita itu pun menoleh dan mendapati seorang laki-laki dalam balutan pakaian hitam lengan terbuka berjalan menghampirinya.
Lalu pandangannya meniti pada penampilan laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki, ada yang berbeda dengan penampilannya. Rambutnya tak lagi berwarna hitam melainkan platinum blonde. Dan selama dia mengenalnya, ini kedua kalinya ia melihat laki-laki itu memakai pakaian lengan terbuka.
Dan jika boleh jujur, penampilan Aiden saat ini mampu membuat Aster sampai lupa bagaimana caranya bernapas. Rambut barunya membuatnya terlihat lebih fresh dan ekhemm... Tampan.
"Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu, Nona Nero?!" Dan Aster pun segera tersadar dari lamunan panjangnya.
Aster menggeleng. "Percaya diri sekali kau, memangnya siapa yang menatapmu?!" Dia membela diri.
Aiden terkekeh geli melihat ekspresi wanita itu yang sangat menggemaskan. "Dasar kau ini," Aiden mengusap kepala Aster dan membuat rona merah seketika muncul di kedua pipinya. Wanita itu tersipu malu.
"Kalau kedatanganmu hanya untuk mengganggu saja. Sebaiknya pergi saja sana,"
"Kau mengusirku?"
"Menurutmu?"
"Jangan bawel lagi. Aku datang kemari bukan untuk ribut denganmu, tapi untuk membantumu!! Sudah sana, cepat kerja lagi!!"
Aster menatap lelaki itu dan mendecih sebal. Kemudian dia beranjak dari hadapan Aiden untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Sedangkan Aiden tampak menarik sudut bibirnya sambil menggelengkan kepala, dia selalu gemas dengan tingkah Aster yang terkadang seperti bocah.
Dan entah sejak kapan, hubungan mereka berdua semakin dekat dari hari ke hari. Aster tidak lagi merasa canggung ataupun sungkan ketika bersama dengan lelaki itu, bahkan dia tak sungkan lagi menunjukkan sifat aslinya pada Aiden.
.
__ADS_1
.
Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Matahari yang tadi masih tampak malu-malu menunjukkan dirinya di ujung timur sana, saat ini telah membumbung tinggi dan merajai hari. Cuaca hari ini lumayan agak terik dan suhu udara baik hingga beberapa derajat Celcius.
Semakin siang bukannya semakin sepi, Boutique Aster malah semakin ramai pembeli apalagi sejak kemunculan Aiden empat jam yang lalu. Wajah tampannya mampu menarik perhatian banyak orang, dan hampir semua yang datang ke boutique Aster adalah perempuan. Adapun laki-laki, dia yang sedikit ehemmm... Begitulah.
"Jika kau lelah, sebaiknya istirahat saja." Pinta Aster pada Aiden yang sudah berdiri begitu lama membantunya melayani konsumen.
"Bukan aku yang seharusnya istirahat, tapi kau... Karena yang terlihat lelah itu adalah dirimu, Nona Nero. Kau sudah bekerja terlalu keras hari ini pergilah ke ruanganmu dan istirahatlah." Pinta Aiden.
Benar apa yang Aiden katakan, yang sebenarnya lelah itu adalah Aster bukan Aiden. Gadis itu berdiri hampir seharian dengan memakai heels shoes, kakinya pegal-pegal dan bagian tumitnya juga terasa perih.
"Baiklah, aku pergi istirahat dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Aster benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Rasa kantuk yang menyerangnya membuat matanya tak bisa lagi diajak berkompromi. Sedangkan Aiden melanjutkan pekerjaannya sebagai sukarelawan di boutique gadis bermarga Nero tersebut.
-
-
"Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, Will. Dibandingkan dengan Aiden Hyung. Aku yang lebih dulu mengenal Aster Nunna, tapi kenapa malah dia yang mendapatkannya. Hiks, hyungku sendiri yang menikungku dari belakang. Huhuhu, aku tidak terima."
"Kalau begitu ya tinggal rebut saja. Apa susahnya?!"
"Kau gila ya? Itu saja saja dengan bunuh diri!! Bisa-bisa Aiden Hyung mengirimku ke Afrika Utara jika aku sampai merebut Aster Nunna darinya. Apalagi dia adalah keluargaku satu-satunya. Bisa-bisa aku di pecat jadi adiknya!! Aku tidak mau hidup menggelandang dibawah kolong jembatan!!"
William mendengus geli. "Kalau begitu ya menyerah saja. Kenapa kau malah membuat masalah yang mudah menjadi semakin sulit. Dasar gila!! Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja. Terlalu lama disini, bisa-bisa aku ikutan gila juga!!" Ucap William kemudian meninggalkan Aileen begitu saja.
"William, kenapa aku malah ditinggal?! Yakk!! William, aku jangan tinggalkan aku!!"
"Ahhh, masa bodoh. Aku pergi dulu, bye..."
__ADS_1
"William, kau jahat!!"
-
-
Awan mendung menggantung di langit kota Seoul petang ini. Menandakan jika hujan akan segera turun. Di dalam ruangan bernuansa putih biru di sebuah boutique, terlihat seorang gadis berdiri di depan jendela sambil menatap keluar dan menghela nafas panjang. Dia sama sekali tak mengharapkan hujan akan turun.
Dan perlu ditandai jika Aster adalah salah satu orang yang paling membenci datangnya hujan.
Di saat perempuan seumurannya sangat menyukai hujan, Aster justru sebaliknya. Dia sangat membencinya. Sampai-sampai dia bertanya-tanya dalam hati, memangnya apa istimewanya hujan sampai-sampai banyak orang yang menantikannya. Padahal hujan hanya membawa suasana yang kelam dan udara yang lembab, dan Aster benci itu.
"Benar-benar mengesalkan, kenapa harus mendung segala semoga saja tidak sampai turun hujan!!"
"Memangnya ada apa dengan hujan? Kenapa kau tidak suka saat hujan sedang turun? Apa kau pernah memiliki kenangan buruk dengan hujan?" Tanya Aiden memastikan.
Aster menggeleng. "Tidak juga!! Hanya saja hujan selalu membawa aroma tanah basah, dan Aku sangat benci itu!!"
"Dasar aneh!!! Kenapa di saat kebanyakan gadis menyukai hujan dan menantikan kedatangannya, kau malah bersikap sebaliknya. Aku pikir semua gadis menyukai hujan dan aroma tanah basah. Ternyata masih ada saja orang yang tidak menyukai aroma tanah basah!!"
"Asal kau tahu saja, memang tidak semua perempuan itu menyukai hujan apalagi aroma tanah basah. Salah satunya adalah aku, lagi pula apa istimewanya aroma tanah basah sampai-sampai orang-orang begitu menyukainya dan memberikan nama yang menurutku sangatlah tidak penting." Tutur Aster panjang lebar.
Aiden menatap gadis di sampingnya ini dengan tatapan tak terbaca. Tak hanya cantik saja, tapi aster sangat unik dan langka. Dia selalu menemukan kenyamanan setiap kali berada di dekatnya, sesuatu yang tak pernah lagi dia rasakan lagi sejak tiga tahun yang lalu. Dan Aiden sendiri tak mengerti akan arti kenyamanan yang dia rasakan saat ini.
-
-
Bersambung.
-
__ADS_1
-
Bersambung.