I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 13: Aileen, Bukan Alien


__ADS_3

"SETAN BELANG!!!"


Aileen dan William berlari tunggang langgang meninggalkan tempat pemandian. Hampir saja mereka berdua menjadi korban keganasan seorang hidung belang. Saking cantiknya mereka berdua sampai-sampai orang lain tak bisa membedakan mereka berdua pria atau wanita.


Napas mereka tersengal-sengal. Aileen dan William berlari sejauh 500 meter, beruntung laki-laki hidung belang itu tidak sampai mengejar mereka.


"Alien, berhenti dulu. Aku sudah tidak kuat berlari lagi!!" Seru William sambil memegang kedua lututnya.


"Yakk!? Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk berhenti memanggilku Alien, namaku bukan Alien tapi Aileen!!" Seru Aileen melayangkan protesnya. Dia tidak terima dipanggil Alien oleh William. Karena namanya Aileen, bukan Alien.


"Ck, kenapa kok harus ribet sekali masalah nama. Toh sama-sama berakhiran En, mau Alien ataupun Aileen itu sama saja!!"


"Tentu saja tidak sama!! Sama dari mananya, Aileen itu nama mahluk luar angkasa. Sedangkan Aileen itu namaku si pemuda tampan dan imut,"


"Hoek!!" William bereaksi seolah-olah dia ingin muntah mendengar apa yang Aileen katakan. Takut jika pria itu tiba-tiba saja mengejar mereka. Buru-buru William berlari lagi meninggalkan Aileen yang sedang mengoceh tidak jelas.


Sadar telah ditinggalkan sendirian, Aileen buru-buru mengejar William yang sudah semakin menjauh. Dia menoleh ke belakang, takut-takut jika pria hidung belang itu tiba-tiba saja mengejar di belakang.


"William. Yakk!! Tunggu aku!!"


-


-


Siang yang terik dari telah berlalu, menandakan jika tugas matahari telah. Dan posisinya kini digantikan oleh sang penguasa malam, sang Dewi malam telah merangkak naik menuju singgasananya. Menggantikan posisi matahari yang telah kehabisan waktu untuk mengiringi bumi.


Di sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai terlihat satu keluarga yang terdiri dari ibu dan ayah serta seorang wanita muda yang pastinya adalah Putri mereka berdua.Keluarga kecil dan bahagia itu tengah menyantap makan malam. Dan kebersamaan mereka diwarnai oleh obrolan-obrolan kecil di sela-sela menyantap berbagai hidangan mewah yang tersusun di atas meja.


"Bagaimana pertemuan hari ini? Apakah berjalan dengan sukses?" Tanya sang kepala keluarga pada putrinya.


Wanita muda itu mengangguk. "Mereka menerima kerjasamanya, betulan CEO-nya adalah kenalanku. Jadi tidak terlalu sulit untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan Z Empire," jawab perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aster.


"Bagus dong, apa dia seseorang yang tampan?" Tanya Jessica penasaran.

__ADS_1


Aster mengangguk. "Ya, dia memang sangat tampan. Tapi sayangnya dia bukanlah pria yang normal, dia itu seorang duda impoten,"


"Duda impoten?" Steven dan Jessica mengulang apa yang diucapkan oleh putrimu,


Aster mengangguk. "Tapi rasanya sangat mustahil, dia terlihat normal seperti tidak memiliki celah apapun rasanya aku masih tidak percaya dia memiliki kelainan yang begitu serius." Ujarnya lagi.


"Mungkin saja itu tidak benar, dan bisa saja itu hanyalah akal-akalan pria itu sendiri karena dia masih trauma dengan gagalnya pernikahan pertamanya." Jawab Jessica menimpali.


Aster menggeleng. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu tapi apapun alasannya itu tidak ada hubungannya denganku. Karena yang terpenting adalah aku sudah mendapatkan kontrak kerjasama itu dan brand fashion ku bisa semakin dikenal banyak orang." Ujarnya.


"Betul juga apa yang kau katakan. Dan sebagai rasa bangga Papa padamu, papa akan membelikan mobil baru yang selama ini kau impikan."


"Lalu bagaimana denganku, Pa? Masa cuma Nunna saja yang dibelikan mobil baru, sedangkan aku tidak." Sahut William. Pemuda itu baru saja tiba di rumah.


Mendengar sang ayah berencana membelikan mobil baru untuk kakaknya, tentu saja William tidak terima. Kakaknya sudah bekerja dan telah menghasilkan uang sendiri, sementara dirinya belum bisa mencari uang sendiri dan hanya mengandalkan pemberian ayah dan ibunya saja.


"Appoo. Mama sakit, kenapa kau malah menjitakku?"


"Ya kan itu motor bukan mobil," William membela diri.


"Memangnya apa bedanya motor dengan mobil? Lagi pula kau tidak butuh-butuh amat, sedangkan kakakmu membutuhkan mobil untuk bekerja." Ujar Jessica.


"Tidak adil, kalian kenapa malah pilih kasih?!" William memanyunkan bibirnya.


Aster mendengus. Dia menghampiri William lalu menyita kepalanya kalau keras dari ibu mereka. "Sebenarnya ada apa dengan otakmu ini?! Memangnya kapan Mama dan Papa pernah pilih kasih padamu?"


"Tidak pernah,"


"Lalu kenapa kau kesal karena Papa berencana membelikan mobil untuk Nunna?"


"Bagaimana aku tidak kesal, jika menggunakan motor aku hanya bisa membonceng satu gadis. Tetapi jika memakai mobil, aku kan bisa mengangkut dua-tiga gadis sekalipun. Kan lumayan itu, sekali menyelam sambil minum air." Jawab William.


Steven memijat pelipisnya yang terasa pening. Memangnya sifat siapa yang menurun pada putra bungsunya, dia sangat mesum dan bodohnya minta ampun. Yang seharusnya menjadi harapan keluarga, malah tidak bisa diandalkan sama sekali.

__ADS_1


"Cukup William!! Ini meja makan tapi kenapa kok malah membuat keributan?! Duduk, atau Papa akan mencabut semua fasilitasmu?!" Ancam Steven yang sontak membuat kedua mata William membelalak sempurna.


"Jangan, Pa!! Oke, aku tidak akan aneh-aneh lagi. Tapi please ya, jangan dicabut fasilitasku." Mohon pemuda itu.


"Makanya cepat duduk, ayo makan malam!!"


William pun mengangguk patuh. "Baik, Pa."


-


-


Aiden membuka lilitan perban yang selama hampir empat Minggu ini menutup mata kirinya. Keadaan matanya sudah mulai membaik, meskipun belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala.


Tiga kali dia melakukan operasi untuk kesembuhan matanya, meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit ia pun rela asalkan penglihatannya bisa kembali pulih. Aiden dan tidak ingin menjadi pria yang cacat dan tidak sempurna.


Tokk... Tokk... Tokk...


Ketukan pada pintu mengalikan perhatiannya, selang beberapa saat seorang pria memasuki kamarnya. Pria itu membungkuk lalu menyerahkan sebuah map pada Aiden. "Apa ini?"


"Ini informasi yang Anda minta, Tuan. Benar dugaan Anda, jika Tuan Nicholas lah yang ada di balik insiden yang Anda alami satu bulan lalu. Dia yang mengirimkan bingkisan misterius itu," terang pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah asisten pribadi Aiden.


Nicholas sendiri adalah kakak tiri Aiden. Putra Ibunya dengan suami pertamanya. Dia selalu merasa iri dengan apa yang air dan miliki, berkali-kali Nicholas mencoba untuk mencelakainya namun tak ada satupun usahanya yang berhasil. Dia selalu gagal, Aidan seperti memiliki 1000 nyawa.


"Perintahkan anak buahmu untuk menangkapnya, bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup-hidup." Perintah Aiden mutlak.


Pria berkacamata itu pun. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ia membungkuk lalu meninggalkan ruangan Aiden begitu saja. Kali ini Aiden tidak akan melepaskannya, pasti akan memberikan pelajaran yang setimpal pada kakak tirinya tersebut.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2