
Keheningan menyelimuti kebersamaan Aiden dengan seorang pria paruh baya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Aiden maupun pria itu. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan.
Jari-jari tangan yang sudah berkeriput itu saling meremas di atas pangkuannya. Sesekali dia menatap Aiden yang hanya menatap datar padanya. "Sebenarnya untuk apa kau mengajakku bertemu?" Tanya Aiden memecah keheningan.
"Sudah lama kita tidak bertemu, merindukanmu."
Aiden tersenyum sinis. "Oh, rupanya kau masih ingat jika memiliki seorang anak?! Aku pikir kau sudah lupa jika sebenarnya Kau adalah seorang ayah!!"
"Aiden, Papa tahu papa bersalah. Dan pasti kau sangat membenci papa, Papa tidak akan menyalahkanmu. Karena papa sadar, jika aku bukanlah orang tua yang baik untukmu dan Aileen."
"Kau terlalu berbelit-belit, sebenarnya apa tujuanmu mengajakku bertemu di sini? Jika tidak ada yang penting, sebaiknya aku pergi sekarang!! Kau sudah terlalu banyak membuang waktuku yang berharga!!"
Kebencian Aiden pada ayahnya sudah mendarah daging, bukan tanpa alasan kenapa dia sangat membenci ayahnya. Demi bersama istri muda dan putra sambungnya, dia rela meninggalkan dirinya dan Aileen yang saat itu masih berusia remaja. Dan kakek Zhang-lah yang merawat mereka berdua.
Ayah dan Ibu Aiden bercerai dan kini sudah menikah lagi. Ayah Aiden di usir dari kediaman Zhang dan namanya dihapus dari daftar ahli waris. Jadi semua harta milik mendiang kakek Zhang yang mewarisi adalah Aiden dan Aileen.
"Aiden, tunggu!!" Seru lelaki paru baya itu menghentikan langkah Aiden. "Papa butuh bantuanmu, saat ini perusahaan Papa sedang mengalami masalah dan membutuhkan suntikan dana. Untuk itu Papa ingin meminjam uang padamu."
"Oh, jadi ini alasanmu menemuiku?! Karena kau membutuhkan bantuanku?!" Aiden menatap ayahnya dengan sinis. Setelah bertahun-tahun pergi, tiba-tiba dia kembali hanya untuk meminjam uang darinya, apakah itu pantas?! "Pergilah dan cari bantuan ke tempat lain. Makanya jangan berpikir dangkal. Kau datang menemuiku hanya karena kau butuh. Apa menurutmu itu pantas?!"
Aiden meninggalkan beberapa lembar won diatas meja dan pergi begitu saja. Uang itu untuk membayar minuman yang telah dipesan. Bukan maksud Aiden ingin bersikap jahat pada ayahnya sendiri, dia hanya ingin agar ayahnya sadar. Jika dia telah mengambil sebuah keputusan yang salah.
-
-
"Apa kau yakin jika dia akan lewat jalan ini?" Seorang laki-laki menatap ragu pada beberapa pria lain yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Benar sekali, Kak Wang. Kami sudah memastikannya sendiri jika dia akan melewati jalan ini."
Pria yang dipanggil kak Wang itu tak memberikan respon apapun lagi. Dia akan mempercayai ucapan salah satu anak buahnya tersebut. "Kak Wang, sebenarnya siapa sih orang yang sedang kita tunggu ini? Memangnya kau memiliki masalah apa dengannya?" Tanya pria yang lainnya.
"Bukan aku yang bermasalah dengannya, tetapi Shilla. Dan aku tidak terima jika adik sepupuku disakiti olehnya!!" Jawabnya menimpali.
"Lalu apa kau mengenal pria itu?" Kakak Wang menggeleng. "Lalu kenapa kau malah ingin mencari masalah dengannya hanya karena adik sepupumu? Bagaimana jika dia adalah orang yang berbahaya?!"
Kak Wang menggeleng. "Tidak!! Dia adalah laki-laki yang lemah, yang sekali pukul saja langsung ambruk. Dia tak ada berbahayanya sama sekali!!" Jawab Kak Wang.
"Kak Wang, itu dia. Itu mobil orang yang kita tunggu dari tadi!!"
Kak Wang membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu memblokir jalanan untuk menghadang mobil tersebut. Mobil sport mewah itupun berhenti, seorang lelaki terlihat keluar dari mobil tersebut.
"Kau yang bernama Aiden?!" Tanya Kak Wang dengan angkuhnya.
"Oh, jadi kau yang sudah membuat Shilla nyaris saja kehilangan nyawa?! Benar-benar pria brengsekk. Jangan hanya diam saja, maju dan habisi pemuda ini!!"
Aiden mundur beberapa langkah ke belakang ketika beberapa orang menyerangnya secara bersamaan. Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi, Aiden yang sendirian dikeroyok sedikitnya enam orang.
Perkelahian sengit dan tak seimbang. Aiden tentu bukanlah lawan yang mudah untuk dihadapi, karena dia memiliki tehnik bela diri yang sangat baik. Tapi lawannya juga bukan orang yang mudah, mereka seperti yang terlatih. Dan menghadapi enam orang tentu bukan perkara yang mudah, dan dia tak pernah meremehkan lawan.
Satu persatu lawan berhasil Aiden tumbangkan. Bukan berarti tubuhnya bisa lolos dari luka. Beberapa luka ringan tampak di beberapa bagian karena yang dia hadapi bukanlah orang-orang yang mudah.
Aiden memiting lawannya dan mematahkan leherrnya agar aliran udara di tenggorokan lawan terputus dan... matii. Darah lawannya terciprat ke wajah dan kemeja yang ia kenakan. Tersisa dua orang lagi, termasuk kakak Wang. Keduanya tampak ragu untuk maju dan menghadapi Aiden.
Aiden menyeka darah yang ada dibawah mata kanannya. Dia menatap kak Wang dengan tajam. "Sebenarnya masalah apa yang kau miliki denganku? Kenapa tiba-tiba kau menghadang dan menyerangku?" Aiden meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ki..Kita memang tidak memiliki masalah apa-apa, tapi karena dirimu Shilla nyaris saja kehilangan nyawa. Untuk itu aku ingin membuat perhitungan denganku!!"
"Oh karena wanita itu. Ketahuilah bung, kau sudah membuat masalah dengan orang yang salah!! Sebaiknya jangan cari masalah denganku lagi, jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu dengan sia-sia!!" Aiden menepuk pundak Kak Wang dan pergi begitu saja.
Tubuh Kak Wang gemetar saat melihat sorot tajam Aiden yang tampak begitu berbahaya. Melihat sorot mata Aiden yang tajam membuatnya seperti uji nyali. Dia benar-benar mengerikan, membuat masalah dengannya ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Dan Kak Wang tidak akan mengulangi kebodohannya lagi.
-
-
"Omo!! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau babak belur begini?"
Aster terkejut ketika mendapati suaminya pulang dalam keadaan babak belur. Beberapa luka tampak menghiasi wajah tampannya. Aiden menepis tangan Aster yang hendak menyentuh luka di pelipis dan bawah matanya.
"Hanya luka kecil saja tidak ada yang perlu dicemaskan!!" Lalu Aiden melewatinya begitu saja. Aiden berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan darah yang ada di muka dan tubuhnya. Sebagian adalah darahnya sendiri dan sebagian lagi adalah darah lawannya.
Selang beberapa menit Aiden keluar dari kamar mandi. Kemeja yang dia pakai sebelumnya sudah dia tanggalkan menyisakan singlet putih yang melekat pas di tubuhnya. Aster pun bisa melihat dengan jelas luka yang menghiasi wajah suaminya.
"Meskipun hanya luka kecil, tetap harus di obati. Kemarilah, biar aku obati lukamu." Aster menuntun Aiden untuk duduk.
Ada tiga luka di wajah Aiden. Bawa mata, pelipis dan tulang pipi. Dan tak butuh waktu lama bagi Aster untuk mengobati dan membalut lukanya dengan plaster dan perban.
-
-
Bersambung.
__ADS_1