I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 53: Strawberry


__ADS_3

"Ini, minum dulu susunya."


Aster tersenyum lebar. "Terimakasih." Ucapnya sambil menerima segelas susu hangat yang Aiden buatkan untuknya. Aster pun segera meminumnya hingga tandas tak tersisa. Pagi, siang dan malam, Aiden selalu rutin membuatkan susu hangat untuknya.


"Bagaimana sekarang? Apa kau masih merasa mual?" Aiden menatap Aster dengan cemas.


Wanita yang tengah berbadan dua itu lantas mengangguk. "Ya, tak hanya mual saja tetapi pusing juga. Mungkin karena efek dari tidak makan nasi." Ujarnya menuturkan. Sudah satu bulan lebih sejak kehamilannya terdeteksi Aster tak pernah mau makan nasi lagi. Ia selalu memuntahkan nasi yang telah masuk ke dalam perutnya.


"Lalu kau ingin makan apa?"


Aster menggeleng. "Aku sedang tak ingin makan apapun, tetapi strawberry aku rasa boleh juga. Bagaimana jika kita keluar untuk membelinya? Aku ingin makan strawberry yang dipetik langsung di tempatnya."


"Kalau begitu segera ganti pakaianmu, jangan lupa memakai pakaian hangat udara hari ini cukup dingin. Aku akan menunggumu di luar,"


Aster mengangguk. "Baiklah,"


Aiden selalu mengabaikan apapun yang Aster minta. Selama itu tidak berbahaya untuk dia dan janin di dalam perutnya. Pasti apapun yang dia minta akan langsung Aiden turuti.


"Nunna, kau mau pergi kemana? Kenapa rapi sekali?" Aileen menatap Aster dengan bingung. Tidak biasanya kakak iparnya itu serapi ini di pagi hari. Lebih tepatnya sejak dia satu bulan belakangan ini. Karena Aster lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada pergi keluar.


"Pergi memetik strawberry," jawabnya sambil tersenyum riang.


Mendengar kata strawberry membuat mata Adrian berbinar-binar. Buru-buru ia melemparkan ponsel milik Aileen yang sedang dia pegang. "Yakk!!" Seru Aileen. Untuk saja dia menangkapnya dengan sigap. Jika tidak, ponselnya pasti tunggal almarhum.


"Nunna, boleh aku ikut?!" Seru Adrian sambil menatap Aster dengan mata berbinar-binar."sudah lama sekali aku ingin makan strawberry langsung ditempatnya. Tapi tidak pernah keturutan. Boleh ya,"


Melihat wajah penuh harap Adrian membuat Aster merasa tak tega. Akhirnya dia pun mengizinkan pemuda itu untuk ikut, bukan hanya Adrian saja tetapi Aileen juga. Karena tak mungkin dia membawa Adrian saja dan meninggalkan Aileen di rumah. Bisa-bisa terjadi drama panjang.


"Kalian berdua mau kemana?" Aiden menatap kedua adiknya itu penuh heran. Mereka berdua mengintil di belakang Aster.


"Mereka berdua akan ikut bersama kita, Adrian merengek ingin ikut dan tidak mungkin aku meninggalkan Aileen. Bisa-bisa dia menangis tujuh hari tujuh malam jika tidak diajak juga." Sahut Aster menimpali.


Aiden mengangguk paham. Dia pun mengizinkan mereka berdua untuk ikut."Kalau begitu hubungi William juga. Tidak adil jika hanya mengajak mereka berdua. Kalian berdua pergi dengan mobil Tao."


"Boss, kau memanggilku!!" Dan Tao pun langsung muncul setelah namanya di sebut. Dan kemunculannya mengejutkan mereka berempat. Alhasil dia pun mendapatkan amukan dari Aster.


"Yakk!! Panda gila, kau sudah bosan hidup ya?! Berani-beraninya kau mengejutkanku, bagaimana jika aku sampai terkena serangan jantung karena ulahmu?!" Amuk wanita itu.


Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Hehehe, maaf Nunna. Habisnya Boss menyebut namaku sih." Ucap Tao sambil menggaruk tengkuknya. Aster mendecih dan menatap laki-laki itu dengan sebal.


Mengabaikan Tao, Aster segera masuk kemobil suaminya. Keberangkatannya harus tertunda gara-gara mereka bertiga. Padahal Aster sudah tidak sabar untuk segera memakan strawberry-strawberry tersebut.

__ADS_1


-


-


Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, akhirnya mereka tiba di Gangjin. Dengan sangat tidak sabaran, Aileen, William, Adrian dan Tao segera masuk ke dalam. Mereka berempat sudah tidak sabar untuk segera mencicipi strawberry berbentuk hati yang atau yang biasa disebut 'Love Very'


Aster dan mendengus mendengus melihat kelakuan mereka berempat. Yang ngidam siapa, yang semangat siapa. Mereka berempat benar-benar sudah tidak tertolong lagi dalam hal apapun.


Jika Adrian mereka berdua masih bisa memaklumi, karena pemuda itu memang belum pernah memakan strawberry yang dipetik langsung. Sedangkan Aileen, Tao dan William sudah sering. Tetapi tingkah dan kelakuan mereka sama saja, kampungan.


"Huaaa...! Strawberry ini sangat manis, Aku suka aku suka."


"Kalau suka makan saja sepuasnya, tenang saja kita memiliki ATM berjalan yang selalu bisa diandalkan," ucap Aileen sambil melirik Aiden.


Aster mendengus untuk kesekian kalinya. Tingkah mereka berempat benar-benar seperti bocah, dan mengajak mereka membuatnya sangat menyesal. Jika tahu akan berada di seperti ini, pasti Aster tak mengizinkan mereka untuk ikut.


"Ini," perhatian Aiden teralihkan oleh kemunculan Aster. Lelaki itu datang sambil membawa satu kotak strawberry berbentuk hati dengan ukuran besar. "Cobalah, ini adalah strawberry terbaik di kebun ini."


Kemudian Aster mengambil satu lalu mencobanya. "Emm, sangat manis. Aku menyukainya," ucapnya sambil tersenyum lebar. Strawberry yang Aster makan berbeda dengan yang dimakan keempat pemuda itu. Dari segi rasa, harga bahkan kualitas. Dan strawberry ini adalah yang terbaik. Yang satu bijinya bisa mencapai 50.000 won.


"Eh, Nunna kenapa strawberry yang kau makan berbeda dari yang kami makan?" William menghampiri Aster. Strawberry yang dimakan oleh kakaknya itu sangat menggugah selera. "Aku ingin mencicipinya satu,"


Pemuda itu mempoutkan bibirnya. "Nunna, kenapa kau ini pelit sekali pada adik sendiri? Aku kan cuma ingin mencicipinya satu, bukan semuanya. Ayolah, boleh ya." William memohon.


Aster menggeleng. "Pokoknya sekali tidak tetap tidak!!"


Aiden menembus berat melihat perdebatan antara kakak beradik tersebut. Benar-benar kekanakan, pikir Aiden. Kemudian dia membawa satu kotak lagi untuk William dan yang lain. "Hyung, masih punya satu kotak lagi. Sebaiknya kau bagi dengan yang lain."


Mata William berbinar-binar menerima kotak strawberry itu. "Hyung, kamu memang yang terbaik. Tidak seperti Aster Nunna, Dia sangat pelit!!" Ucap William sambil menjulurkan lidahnya pada Aster.


"Yakk!!"


"Wleekkk...!!" Sekali lagi William menjulurkan lidahnya pada kakaknya. Aster yang kesal segera melepas flat shoesnya lalu melemparkannya pada William. Tempat sasaran. Flat shoes yang lempar mendarat mulus pada kepala belakang pemuda itu."Nunna!!"


"Makanya jangan membandingkan aku dengan kakak iparmu. Tahu sendiri kan akibatnya!!"


Aiden pun segera membawa Asta pergi dari sana dan memisahkannya dari William. Karena jika tidak segera dipisahkan, bisa-bisa perdebatan mereka akan terus berlanjut dan tidak putus-putus. mengingat jika Aster dan William seperti kucing dan anjing ketika bersama.


Di saat Aster dan William asyik berdebat. Tao, Aileen dan Adrian asyik menikmati strawberry yang diberikan oleh Aiden tadi. Dan parahnya lagi mereka tak menyisakan satupun untuk William. Menyadari hal itu, William pun langsung berteriak keras.


"Yakk!! Kenapa malah kalian habiskan dan tidak menyisakan satupun untukku?!"

__ADS_1


"Siapa suruh kau malah sibuk bertengkar dengan, Aster Nunna." Jawab Aileen menimpali.


"Aiisshh...! Kenapa hari ini semua orang begitu menyebalkan. Sudahlah, sebaiknya aku ngambek dulu pada kalian!!" ucap William dan pergi begitu saja. Dia kembali memetik strawberry dan memakannya dengan lahap.


.


.


Meninggalkan mereka berempati kebun strawberry, Aster dan Aiden pergi ke cafe. Aster mengatakan ingin memakan sesuatu yang hangat dan berkuah dan Aiden menurutinya.


Seorang pelayan menghampiri meja mereka berdua sambil sesekali mencuri pandang pada Aiden. Pelayan itu datang untuk mencatat pesanan mereka berdua. "Apalagi, Tuan? Apa anda ingin memesan yang lain lagi?" Tanya pelayan itu dengan malu-malu.


Aidan menggeleng. "Tidak, itu saja sudah cukup."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," pelayan itu pun segera pergi meninggalkan meja mereka berdua. Dan selepas kepergian pelayan itu, berubah menjadi masam.


"Dasar pelayan menyebalkan!! Apa tidak bisa matanya tidak jelalatan, apa dia buta dan tak melihat jika kau datang bersamaku?! Benar-benar cari masalah!!"


"Kenapa sekarang kau jadi sensitif sekali ketika ada wanita yang memandangku? Apa sebesar itu rasa cintamu padaku?" Goda Aiden sambil mengerlingkan matanya.


Aster menatap suaminya itu dengan sebal."Memangnya istri mana yang rela melihat suaminya ditatap seperti itu oleh wanita lain?! Jika aku tidak sedang hamil, pasti aku sudah memberinya pelajaran!! Sayangnya aku sedang tidak ingin membuang-buang energiku untuk perempuan seperti itu!!"


Aiden tertawa pelan. Dengan gemas dia mengajak rambut coklat istrinya. "Dasar kau ini, kenapa kau jadi pencemburu sekali. Tapi jujur saja aku suka, karena itu artinya kau tidak ingin kehilanganku."


"Dasar bodoh!! Memangnya istri mana yang mau kehilangan suaminya, apalagi jika dia hilang diambil wanita lain. Itu sangat mengenaskan, dan amit-amit jangan sampai terjadi dan menimpa diriku!!"


Aiden tersenyum mendengar ucapan istrinya. Hatinya menghangat. "Kau yang bodoh, siapa yang ingin membuang berlian demi batu kerikil! Kau adalah hidupku Aster, dan tanpa dirimu apalah arti diriku. Karena kau adalah hidup dan matiku!!"


Mata Aster berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan suaminya. Meskipun terdengar sederhana, tetapi apa yang Aiden katakan memiliki makna yang sangat dalam. Dan Aster sangat beruntung memiliki suami dan pendamping hidup seperti Aiden.


Meskipun terkadang dia sangat menyebalkan, namun yang terpenting adalah dia mencintainya dengan setulus hati. Dan bagi Aster itu sudah lebih dari cukup.


"Cepat makan sup-mu. Mereka bisa panik jika kita tidak segera kembali," Aster tersenyum lalu mengangguk.


Dan tentu saja mereka akan panik, karena yang membayar semua strawberry yang telah dipetik dan dimakan adalah Aiden. Sementara mereka berempat sudah pasti tidak memiliki uang. Aileen dan William sedang menjalani hukuman. Adrian tak memiliki uang sebanyak itu. Sedangkan Tao, uangnya sudah pasti habis untuk menghidupi para kucing liar peliharaannya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2