I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 58: Kelahiran Si Kembar


__ADS_3

Aster tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada perutnya. Dari semalam rasanya begitu tidak nyaman, dia merasakan mulas hilang timbul hampir sepanjang malam. Kata ibunya, itu adalah salah satu tanda akan segera melahirkan.


Tetapi Aster tidak terlalu yakin karena HPL nya masih kurang satu Minggu lagi. "Nyonya, bagaimana rasanya? Apa masih sama seperti yang Anda rasakan semalam?" tanya seorang pelayan ketika melihat Aster mendatangi dapur.


Wanita itu mengangguk. "Ya, dan rasanya semakin parah dan lebih sering dari semalam mulesnya."


Jawaban Aster membuat wanita itu semakin yakin, jika nyonya ini memang sudah hampir melahirkan. karena yang Aster rasakan adalah tanda-tanda hendak melahirkan. "Bibi, rasa Nyonya akan segera melahirkan. Karena saat hamil dulu, ketika mau melahirkan Bibi juga sering merasakan mules dan perut kencang seperti yang Nyonya rasakan sekarang. Apa tidak sebaiknya Nyonya pergi ke rumah sakit saja?"


Aster menggeleng. "Nanti saja, aku masih menunggu Aiden." Jawabnya menimpali. Aiden sedang pergi keluar untuk membelikan Aster es krim kacang merah. Cuaca hari ini sangat panas dan Aster ingin memakan ice cream.


"Tapi jika mulesnya semakin sering dan mulai keluar lendir bercampur darah, sebaiknya Nyonya segera pergi. Karena itu sudah semakin mendekati waktu melahirkan. Dan bisa juga pembukaan hampir sempurna." ucap pelayan itu memberi saran.


Aster mengangguk. "Baiklah, Bibi."


Semakin lama, Aster merasakan mules yang luar biasa dengan durasi semakin panjang dan jarak yang semakin pendek. Lendir-lendir bercampur darah yang dia keluarkan pun sudah semakin banyak dan dia sudah tidak kuat lagi untuk menahannya lebih lama.


Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya Aster memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia pergi dengan diantar oleh sopir karena Aiden sedang pergi keluar bersama Tao. Aiden mengatakan padanya jika ada hal yang harus segera diurus dan diselesaikan.


Dan setelah dua puluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, Aster sudah pembukaan lima. Pantas saja dia merasakan mulas yang luar biasa. Aiden pun sudah dihubungi dan sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Ma, sakit!!" rengek Aster sambil menggenggam tangan Jessica. Peluh tampak di keningnya.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi rasa sakitnya juga akan segera terbayar lunas. Jadi kau harus bisa menahannya dengan sabar ya." Jessica mencoba menenangkan putrinya. Melihat Aster yang kesakitan membuatnya tak tega.


Di dalam ruangan Aster hanya ditemani oleh sang Ibu. Hanya dua orang saja yang boleh menemaninya. Satu lagi adalah Aiden, tetapi lelaki itu belum juga datang sampai sekarang. Ketika di telfon lagi dia mengatakan masih di perjalanan.

__ADS_1


-


-


Aiden berlari menyusuri lantai koridor lorong rumah sakit, menabrak semua orang yang membuat jalannya terhalang tanpa mengucapkan minta maaf dan tanpa peduli umpatan dan lirikan aneh semua orang yang ditujukan kepadanya.


Hanya ada satu kata dalam pikirannya.


Aster.


Aiden menghampiri Steven dan yang lain yang sedang menunggu di depan ruang bersalin. "Dimana, Aster?"


"Dia didalam bersama Mama, ia akan melahirkan," jawab William menimpali.


Tanpa menghiraukan mereka bertiga. Aiden segera mendorong pintu tetapi pintu terkunci dan terdengar suara erangan kesakitan Aster dari dalam sana. Rupanya dokter sudah masuk ke dalam sana karena pembukaan Aster sudah sempurna. Tak ingin melewatkan moment luar biasa itu, Aiden pun memutuskan untuk menerobos masuk ke dalam dan menemani Aster yang hendak melahirkan.


"Aiden," seru Aster yang tampak pucat. Aiden mendekati Aster lalu menggenggam tangannya dan meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


"Aku ada disini, kau jangan takut semua akan baik-baik saja." ucapnya meyakinkan.


Kedatangan Aiden memberikan kekuatan pada Aster untuk melahirkan buah hati mereka. Perjuangannya untuk melahirkan buah hati mereka tentu tidaklah mudah, saat ini nyawanya tengah dipertaruhkan. Aster berada diantara hidup dan mati, dia berjuang untuk melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Aiden tak kuasa menahan air matanya, melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan buah hati mereka. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berdoa, agar Aster dan bayinya sama-sama selamat. "Uhhh, sakit."


"Bertahanlah, sayang. Kau adalah wanita yang kuat, kau adalah ibu terhebat. Jangan takut, Aku ada di sini." Aiden menggenggam tangan Aster semakin erat, memberikan kekuatan padanya.

__ADS_1


Dan setelah perjuangan panjang dan melelahkan. Akhirnya Aster melahirkan bayinya dengan selamat. bukan hanya satu bayi, tetapi Aster melahirkan sepasang bayi kembar yang cantik dan tampan. Sungguh di luar dugaannya, jika dia akan melahirkan dua bayi sekaligus.


Rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya kini telah terbayar lunas setelah kedua bayinya dilahirkan. Rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya berubah menjadi rasa haru. Ini benar-benar luar biasa, sangat-sangat luar biasa malah. Saking bahagianya Aster sampai tidak bisa berkata-kata.


Jessica menyeka air matanya lalu memeluk putrinya itu. "Selamat, Sayang. Atas kelahiran Baby Zhang. Mama sangat bahagia karena kau memberikan dua cucu sekaligus pada kami. Ini sungguh-sungguh sangat luar biasa."


Aster tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan ibunya. Steven menghampiri kedua cucunya yang berada di gendongan Aiden dan gendongannya.


"Mereka cantik dan tampan, seperti kau dan Aiden. Kalian benar-benar luar biasa, gen sempurna memang tidak pernah salah, hahaha." Steven begitu bahagia karena akhirnya dia memiliki dua cucu yang sangat cantik dan menggemaskan.


Jessica mendengus. Kemarin dia mencibirnya ketika menunjukkan sikap berlebihan ketika tau jika Aster sedang hamil dan mereka akan memiliki cucu. Dan sekarang Steven juga menunjukkan ekspresi yang sama. Bahkan lebih menggemaskan dan menggelikan lagi.


"Dasar kakek-kakek labil. Kemarin saja mencibirku berlebihan. Lalu sekarang kau apa namanya?!"


Steven tak menggubris apa yang diucapkan oleh istrinya. Dia begitu asik menimang dan berbicara dengan si bungsu. "Cucu kakek yang cantik. Utututu,"


Aster dan Aiden saling bertukar pandang dan mereka sama-sama tertawa. Aster dan Aiden gemas sendiri melihat tingkah mereka berdua. Namun disisi lain mereka merasa bahagia karena kehadiran si kembar yang menyempurnakan kebahagiaan mereka.


Aiden mencium kening Aster sambil mengurai senyum lebar di bibirnya. "Sayang, terima kasih telah menyempurnakan hidupku. Kehadiran Kalian bertiga memberikan warna baru dalam hidupku yang kini jauh lebih berwarna. Terimakasih, Aster. Aku mencintaimu."


Aster tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya. "Aku juga mencintaimu."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2