
Malam sudah semakin larut, namun Aiden masih tetap terjaga. Padahal kedua matanya sulit sekali untuk diajak kompromi. Tapi anehnya dia tetap tidak bisa tidur meskipun rasa kantuk sudah menderanya sedari tadi.
Pria itu bangkit dari berbaringnya dan berjalan ke arah balkon. Udara malam yang dingin seketika menyambutnya ketika kaki Aiden mulai berpijak pada lantai marmer dengan kualitas terbaik itu.
Malam ini benar-benar sepi dan sunyi, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar sama sekali. Mega mendung di atas sana menandakan jika hujan akan segera turun, suasana malam ini benar-benar tidak bersahabat. Dan suasana malam seperti ini mengingatkannya pada kejadian yang ia alami satu bulan yang lalu.
Flashback:
Suasana malam ini begitu sunyi dan sepi. Di sebuah balkon di lantai dua bangunan mewah yang memiliki tiga lantai, seorang pria terlihat berdiri menatap langit malam yang tampak gelap tak berbintang sambil sesekali meneguk wine dari gelas berkaki tinggi yang ada di genggamannya.
Alisnya saling bertautan saat tanpa sengaja indera pengamatnya menangkap siluet seorang pria mencurigakan meletakkan sesuatu di depan pagar kediamannya. Dan setelah meletakkan barang misterius tersebut orang itu pun bergegas pergi. Tidak terlihat seperti apa rupanya karena dia memakai masker dan topi.
Aiden beranjak dari balkon kamarnya dan pergi keluar untuk memastikan benda apa itu. Saat ia tiba di teras depan, salah satu anak buahnya menghampiri Aiden sambil membawa bingkisan misterius tadi yang kemudian dia berikan padanya.
"Tuan, saya menemukan benda ini didepan pagar."
"Hn, aku tau."
"Tuan, Tunggu!! Biar saya saja yang membukanya, bagaimana jika itu adalah benda yang berbahaya,"
"Tidak perlu, biar aku saja." Jawabnya. Aiden tidak ingin orang lain terluka karena dirinya. Itulah kenapa dia memutuskan untuk membukanya sendiri.
Tanpa ragu sedikitpun, Aiden membuka bingkisan misterius tersebut karena dia sangat penasaran dengan isinya. Kemungkinan besar itu adalah sebuah benda berbahaya yang bisa mengancam nyawanya juga orang-orang yang ada disekitarnya.
"Tuan!!"
Laki-laki itu berteriak histeris saat bingkisan misterius itu meledak setelah dibuka. Membuat sisi wajah, leher dan lengan atasnya berlumur darah. Sebuah bom dengan daya ledak kecil, memang tidak mengancam keselamatan nyawa, namun tetap saja berbahaya karena bisa melukai dan juga fatal akibatnya.
__ADS_1
Aiden menekan mata kirinya yang terasa perih dan panas. Rupanya darah itu berasal dari mata kirinya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Aiden melenggang pergi. Dia harus pergi ke rumah sakit sekarang juga, luka-lukanya harus segera diobati terutama cidera pada mata kirinya. Karena jika terlambat penanganannya, maka bisa fatal akibatnya.
Dalam hatinya Aiden bersumpah akan segera menemukan pelakunya dalam keadaan hidup-hidup. Dia akan memberikan pembalasan yang setimpal pada orang itu karena sudah berani mencelakainya.
Flashback End:
Aiden membuka mata kanannya dan mendesah berat. Untung saja peristiwa malam itu tak sampai mengancam jiwanya dan hanya membuatnya mengalami sedikit cidera. Tangan Aiden terkepal kuat, dia pasti akan memberikan pembalasan yang setimpal pada Nicholas, orang yang menyebabkan dirinya nyaris buta.
"Nicholas, selamat datang di nerakamu. Aku pasti akan membuatmu membayar mahal apa yang telah kau perbuat padaku!!"
Pria itu lantas beranjak dari balkon dan kembali ke kamarnya. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, sekujur tubuhnya terasa lelah ingin segara diistirahatkan.
-
-
Awan hitam menggantung di langit kota Seoul pagi ini. Menandakan jika hujan akan segera turun. Dan cuaca semacam ini tentu saja membuat beberapa orang merasa begitu terganggu. Bagaimana tidak, karena hujan di pagi hari bisa menghambat aktifitas mereka diluar rumah.
Tess.. Tess...
"Yakk!! Kenapa malah turun segala?!"
Hujan deras turun secara mendadak, tanpa melalui gerimis dan ini tentu saja mengejutkan Aster. Dengan sigap, wanita itu berlari menuju halte bus terdekat. Ia berteduh di sana menunggu hujan reda.
Sesekali gadis itu melirik ke kiri-kanan atau sekedar menatap kosong ke depan, kearah kendaraan yang tidak henti hilir mudik. Seoul memang selalu sibuk. Setidaknya itulah yang ia pelajari sejak kecil. Baik siang maupun malam hari, Seoul memang tak pernah mati.
Dan di saat dia sedang frustasi, sebuah mobil sport mewah tiba-tiba berhenti di depannya. Mobil itu tidak asing dan terlihat familiar, selang beberapa detik seorang pria tampan namun juga terlihat cantik keluar dari balik kemudi sambil menggenggam gagang payung berwarna transparan. Dia menghampiri Aster.
__ADS_1
"Aiden Zhang," lirih Aster memanggil nama laki-laki itu yang ternyata adalah Aiden.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dimana mobilmu?" Tanya laki-laki itu. Lalu Aiden mengikuti arah tunjuk Aster, mobilnya terparkir tak jauh dari halte tempatnya berteduh saat ini.
"Mobilku tiba-tiba saja mogok, padahal itu adalah mobil baru. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba saja berhenti dan tidak mau jalan lagi." Jelasnya sambil menghela napas.
Aiden menghampiri mobil Aster untuk memastikan apa permasalahannya, dan ternyata permasalahannya ada di bahan bakar. Mobil itu kehabisan bensin makanya tidak mau jalan. Aiden mendengus berat, kemudian dia menghampiri Aster lagi.
"Pantas saja mobilmu tidak mau jalan, kau lupa mengisi bahan bakarnya. Mobilmu kehabisan bensin,"
Aster menepuk jidatnya. Dia benar-benar malu, dia pikir mobilnya tidak mau jalan karena apa, ternyata karena habis bahan bakar. Aster menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sudah aku duga, memang itu permasalahannya. Tapi masalahnya pom bensin sangat jauh dari sini."
"Mobilmu serahkan padaku, biar orangku yang mengurusnya. Kau mau kemana? Aku akan mengantarmu,"
"Kebetulan sekali, aku berencana untuk menemuimu. Aku ingin membahas tentang rancangan terbaruku untuk musim gugur bulan depan," terangnya.
"Ya sudah, cepat naik." Aster mengangguk. Aiden memayungi Aster menuju mobilnya supaya tidak basah kuyup, dan apa yang Aiden lakukan membuat jantungnya tak baik-baik saja.
Aster benar-benar gugup setengah mati, belum pernah dia sedekat ini dengan laki-laki. Ia dan Aiden hampir saja tak berjarak, apalagi tangan pria itu yang sedang memeluk bahunya. Dan jantung Aster semakin berdetak tak karuan ketika ia dan Aiden melakukan kontak mata.
"Ya Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa jantungku jadi tidak sehat saat menatap matanya?" Lirih Aster membatin.
Aster adalah orang yang paling tak berpengalaman dalam hal yang namanya percintaan. Karena belum sekalipun dia memiliki hubungan special dengan lawan jenisnya, meskipun sebenarnya dia memiliki banyak penggemar. Namun tak satupun dari mereka ada yang berhasil menarik perhatiannya.
Sampai Aiden datang dan mengusik hidupnya. Dan akhir-akhir ini Aster merasakan perasaan tak biasa ketika melakukan kontak mata maupun kontak fisik dengannya. Bahkan dia tak tau perasaan aneh apa yang ia rasakan saat ini.
-
__ADS_1
-
Bersambung.