I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 27: Pernikahan


__ADS_3

Ruangan itu sedikit riuh. Tampak puluhan orang tengah duduk pada barisan kursi panjang. Semua orang menantikan hari ini. Hari yang akan menyatukan dua insan berbeda gender terikat dalam sebuah ikatan yang bernama 'pernikahan'.


Semua orang tampak bahagia. Mereka masih tetap setia menunggu kehadiran sang pengantin wanita.


"Dia pasti sangat cantik."


Mungkin kata-kata itu yang terdapat di pikiran mereka. Beberapa orang mulai membicarakan sang pengantin dengan rekan maupun kerabat mereka. Bahkan beberapa orang dekat sang pengantin terlihat tengah meneteskan air matanya karena haru.


Tidak kecuali dengan seorang pemuda berdarah Tionghoa ini. Senyuman di wajah tampannya belum pudar sedari tadi. Beberapa kali ia menghela napasnya gugup. Jantungnya berdetak kencang sampai sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Belum pernah dia segugup ini sebelumnya. Entah apa yang membuatnya sampai segugup ini.


Tak pernah terpikirkan olehnya jika akhirnya hari ini akan tiba.


Hari dimana ia bersama gadis yang telah dijodohkan dengannya terikat dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Aiden tau Aster selalu cantik. Gadis itu selalu cantik dimatanya, entah sejak kapan dia selalu bisa melihat kecantikan itu. Karena biasanya dia selalu bersikap acuh dan buta akan kecantikan lawan jenisnya. Tapi kini pandangannya mulai berbeda.


Ia tidak peduli bila gadis itu tidak berdandan atau merias wajahnya seperti kebanyakan wanita yang selalu ingin tampil sempurna didepan orang banyak. Baginya gadis itu selalu cantik. Gadis itu selalu cantik setiap hari. Saat ia memakai gaun dan dress panjangnya. Ataupun saat ia tak berdandan sekalipun


Gadis itu selalu cantik.


Auden memejamkan matanya perlahan. Namun senyum tipis itu belum menghilang dari wajahnya. Ia mencoba untuk memutar kembali memorinya, saat dimana dia dipertemukan pertama kali dengan Aster. Dan setiap kali mereka bertemu, pasti Aster menubruknya sampai-sampai Aiden tak bisa melupakan momen-momen lucu itu.


Jujur, tak pernah terpikirkan oleh Aiden jika dia akan membuka hatinya kembali untuk orang lain. Setelah pernikahan pertamanya gagal. Namun gadis itu tiba-tiba saja muncul dihadapannya.


Ketika ia putus asa.


Ketika ia baru saja kehilangan seseorang.


Ketika ia tidak punya harapan.


Ketika cahaya dihatinya mulai padam.

__ADS_1


Gadis itu datang.


Datang dengan senyuman manisnya.


Dan kembali menerangi hati kecilnya yang sempat redup selama bertahun-tahun lamanya. Kedatangan Aster seolah-olah membawa sebuah lentera kecil namun penuh cahaya. Dan entah sejak kapan Aiden mulai menyukai gadis itu, dan kehadirannya selalu membawa arti tersendiri baginya.


Kriettt...


Suara deritan pintu menyadarkan Aiden dari lamunan panjangnya. Sontak matanya dialihkan ke sebuah objek yang mampu menarik seluruh atensinya.


Pintu megah itu telah terbuka. Semua orang langsung berdiri untuk menyambut kedatangan dua manusia berbeda gender yang baru saja tiba.


Seorang gadis bermahkota coklat terang dalam balutan gaun pengantin putih dan sebuah kerudung transparan yang menutupi wajah serta bagian belakang kepalanya tengah mengaitkan tangan kirinya pada lengan pria paruh baya di sebelahnya. Keduanya tampak tengah memasuki aula.


Gadis itu sangat cantik. Bahkan lebih cantik berkali-kali lipat dari biasanya. Sampai-sampai membuat Aiden tidak berkedip sama sekali. Manik kelamnya seperti terhipnotis akan pesona gadis itu.


Demi Tuhan, gadis itu sangat cantik.


Senyum lebar terhias di wajah rupawannya. Jantungnya lagi-lagi berdetak tak karuan, Aiden benar-benar merasakan sensasi tak biasa saat ini. Hatinya yang telah lama mati, kini berdetak kembali.


"Papa tenang saja, aku pasti akan menjaga dan melindunginya."


Steven tersenyum lebar mendengar apa yang Aiden katakan. Dia benar-benar ingin menangis saat ini, tapi hal itu dia tahan. Steven tak ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.


Sementara itu, di barisan kursi paling belakang seorang pemuda tengah menangis sesenggukan di pelukan pemuda lain. Dia benar-benar sedih dan bahagia, dua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Bahagia karena kakaknya akhirnya bangkit dari masa lalunya yang kelam, dan sedih jika gadis yang dia sukai kini menjadi kakak iparnya.


"Huaa...!! Will, Aster Nunna, Aster Nunna. Kenapa dia harus menikah dengan Aiden Hyung? Kenapa harus Aster Nunna yang dinikahi oleh Aiden Hyung? Hiks, hiks.. Sakitnya tuh disini di dalam hatiku, sakitnya tuh disini melihat dia menikah, sakitnya tuh disini pas kena hatiku, sakitnya tuh disini dia menolakku!! Huhuhu, rasanya sangat sakit, sakit sekali."


"Memangnya lebih sakit mana dari semua fasilitasmu yang dicabut oleh, Aiden Hyung?"


Aileen mengangkat wajahnya dari pelukan William dan membalas tatapannya itu. "Tentu saja lebih sakit ketika, Aiden Hyung, mencabut semua fasilitasku. Sakitnya tuh disini di dalam hatiku, sakitnya tuh di~!!"

__ADS_1


"Stop!! Jangan bernyanyi lagi, suaramu memang sangat bagus, tapi lebih bagus jika kau diam!!" Ucap William.


Aileen mempoutkan bibirnya. "Dasar sahabat tak berhati. Bukannya menghiburku, kau malah membuatku semakin patah hati!!"


"Bodoh amat lah!! Pusing aku lama-lama!! Karena kau semakin gila dan tak masuk akal." William bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aileen begitu saja.


"Will, jangan tinggalkan Aku!!"


.


.


Acara berlangsung dengan khidmat. Sekarang Aiden dan Aster telah resmi menjadi suami-istri. Mereka saling berhadapan dan saling memandang selama beberapa detik. Kemudian Aiden mengarahkan jari-jarinya pada tengkuk Aster.


Jantung gadis itu sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. Jantungnya berdegup kencang ketika Aiden semakin membunuh jarak diantara mereka. Sampai dia merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya dengan lembut.


Para tamu undangan sangat heboh melihat kedua mempelai yang sedang berciuman. Sedangkan Aileen langsung menangis histeris. Bukannya iba, orang-orang malah tertawa melihatnya.


"Steve, ternyata kita sudah tua ya. Lihatlah Putri kita, dia sudah sebesar itu dan hari ini menikah. Dan tak lama lagi pasti kita memiliki cucu, lalu kau dan aku dipanggil kakek-nenek olehnya. Aku sangat terharu," Jessica menyeka air matanya.


Steven mengusap punggung istrinya. Sejujurnya dia juga merasakan hal yang sama, bedanya dia tidak menangis seperti Jessica. Steven menjaga image, nama baiknya bisa rusak jika para rekan bisnisnya melihatnya menangis.


"Hidup ini ada fasenya. Dan sebagai orang tua, sekarang kita hanya bisa melepaskannya untuk melangkah di kehidupan barunya. Berdoa untuk kebahagiaannya."


Jessica mengangguk. "Ya, kau benar. Putriku sekarang sudah besar." Kemudian dia bersandar pada bahu lebar suaminya.


Aiden meraih tangan Aster dan menggenggamnya dengan erat. Sepasang biner matanya mengunci hazel milik seorang gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Membuat gadis itu gugup setengah mati.


"Aku pasti akan selalu menjaga dan melindungimu. Tak akan kubiarkan siapapun menyentuh dan menyakitiku. Kau hanya perlu bergantung padaku. Karena aku adalah sandaran hidupmu!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2