I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 15: Teman


__ADS_3

Gyuttt...


Yunna mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya dia ingin menangis karena sudah tidak kuat diperlakukan seperti sampah oleh orang lain. Dia diperintahkan untuk melakukan ini dan itu layaknya seorang babu, padahal Yunna adalah model juga sama seperti mereka.


Dia ingin sekali menolak semua perintah-perintah itu. Tapi Yunna tidak bisa, karena jika dia sampai menolaknya bisa-bisa itu berimbas pada pekerjaannya. Yunna ingin menjadi seorang model yang terkenal dan dikenal banyak orang, untuk itu dia harus bertahan.


"Yakk!! Anak baru, sampai kapan kau akan berdiri di sana seperti orang bodoh?! Cepat pergi dan belikan salad buah untukku!!" Perintah salah seorang wanita yang merupakan senior Yunna di dunia modeling.


"Iya, iya. Kenapa kau begitu menyebalkan!! Lagi pula aku bukan babu yang bisa kau perintah dengan sesuka hatimu!!" Yunna menatap wanita itu dengan kesal.


Dia terus saja menggerutu sembari meninggalkan tempat pemotretan. Yunna tak di libatkan dan hanya dijadikan sebagai pelayan bagi mereka yang telah memiliki jam terbang tinggi. Seperti yang tertulis dalam surat perjanjian yang telah dia sepakati dengan Aiden, jika ia akan bekerja sebagai figuran dan pelayan.


Tapp..


Yunna menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja dia melihat dua orang, pria dan wanita. Mereka berdua adalah Aiden dan Aster. Dia familiar pada Aiden namun tidak dengan Aster. Benar sekali, Yunna memang tidak mengenal siapa perempuan yang datang bersama mantan suaminya tersebut.


Wanita itu menghampiri mereka berdua dan menghentikan langkahnya. "Aiden, siapa perempuan ini dan apa hubungan kalian berdua?" Tanya Yunna sambil menunjuk Aster, dia menuntut sebuah penjelasan.


"Siapapun dia dan apapun hubungannya denganku, itu tidak ada kaitannya denganmu!! Minggir, sebaiknya selesaikan saja pekerjaanmu! Aster, ayo." Aiden mendorong bahu Yunna hingga wanita itu terhuyung ke samping. Dia dan Aster lalu meninggalkan wanita itu begitu saja.


Sesekali Aster menoleh ke belakang dan menatap Yunna. Wanita itu memberikan tatapan kurang bersahabat padanya, tatapan permusuhan lebih tepatnya. Namun Aster tak mau ambil pusing, toh bukan urusannya juga. Lagipula dia datang ke perusahaan ini juga untuk pekerjaan bukan karena hal lain.


Kedatangan Aster dan Aiden menyita perhatian banyak pasang mata. Pasalnya ini pertama kalinya mereka melihat Aiden datang ke kantornya bersama seorang perempuan, sungguh sesuatu yang sangat langka hingga mereka bertanya-tanya apa hubungan mereka berdua sebenarnya.


Sementara itu, Aster yang sadar tengah diperhatikan oleh banyak orang merasa tidak nyaman, dia merasa risih meskipun ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan banyak orang. Tapi pandangan mereka sungguh berbeda, dan itu membuatnya tertekan.


"Sebenarnya ada apa dengan para karyawanmu, kenapa mereka memandangku seperti itu? Apakah ada yang aneh di wajahku?" Aster berbicara sambil menatap pria yang berjalan disampingnya.


Aiden menoleh membuat pandangan mereka berdua bertemu. Meskipun Aiden menatapnya hanya dari sebelah mata saja, tapi hal itu lebih dari cukup untuk membuat Aster gugup dan salah tingkah. Buru-buru Aster mengakhiri kontak mata diantara mereka.

__ADS_1


"Dimana toiletnya, sepertinya aku harus pergi ke toilet dulu."


"Kita sudah hampir sampai di ruanganku, sebaiknya kau pakai toilet di sana saja."


"Tidak usah, aku pakai toilet luar saja. Tunjukkan saja arahnya, aku bisa pergi sendiri." Jawab Aster menimpali.


Padahal itu hanya alasan Aster saja, karena dia tidak ingin jika Aiden sampai melihat kegugupannya. Karena itu sangat-sangat memalukan.


Karena dalam kamusnya, tak ada ceritanya dia akan jatuh cinta lebih dulu pada laki-laki, karena biasanya kaum merekalah yang mengejarnya lebih dulu. Ya, meskipun sampai sekarang belum ada satupun dari mereka yang berhasil mendapatkan hati Aster apalagi menjadi kekasihnya.


"Apa hubunganmu dengan Presdir Zhang?"


Sebuah pertanyaannya mengalihkan perhatiannya. Dari pantulan cermin asal melihat tiga perempuan berjalan menghampirinya. Salah satu dari mereka menutup dan mengunci pintu toilet. Perempuan yang berdiri di tengah lalu mendekati Aster dengan tatapan tak bersahabat.


"Sekali lagi aku tanya padamu, hubunganmu dengan Tuan Zhang? Apa kau kekasihnya, atau hanya wanita murahan yang hanya mengandalkan kecantikan untuk menarik perhatiannya?!


Aster berbalik lalu membalas tatapan wanita itu dengan sebuah seringai tipis yang tercetak disudut bibirnya.


Wanita itu kehilangan kata-katanya dan tidak bisa menimpali setiap kata yang keluar dari bibir Aster. "Minggir, jangan halangi jalanku!!" Aster mendorong orang yang berdiri di depan pintu hingga tubuhnya sedikit terhuyung. Wanita itu menyeringai ditengah langkahnya, apa mereka tidak sadar jika telah mencari masalah dengan orang yang salah.


-


-


"Bantu aku mencoba gaun pengantin ini,"


Di sebuah butik khusus gaun pengantin. Seorang wanita terlihat sibuk memilih gaun pengantin mana yang cocok untuknya. Dia berencana membeli 1 gaun pengantin yang nantinya akan ia pakai di hari pernikahannya.


Jika bertanya kenapa wanita itu fitting gaun pengantin hanya sendirian, jawabannya adalah... Karena si pria tidak tahu menahu perihal rencananya membeli gaun pengantin tersebut. Dia ingin membuat kejutan pada pria yang nantinya akan menjadi suaminya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan mengambil kau yang ini saja,"


Dari sekian banyak gaun pengantin, ada satu gaun yang langsung membuatnya jatuh cinta, dan tanpa banyak berpikir dia pun langsung membelinya. Wanita itu 'Shilla' sangat yakin jika Aiden pasti akan terkejut sekaligus bahagia karena dia memberikan kejutan besar untuknya.


Shilla yang diam-diam menyukai Aiden berencana untuk menikah dengannya. Iya dan Aiden sudah saling mengenal sejak sama-sama duduk di sekolah menengah pertama, Shilla pernah mendengar dari salah satu teman lamanya jika Aiden diam-diam menyukainya ketika masih sekolah dulu.


Dan Shilla sangat yakin, perasaan Aiden padanya masih tetap sama. Mereka sama-sama sudah berpisah dengan pasangan masing-masing, jadi tidak ada salahnya jika sekarang mereka menyatukan perasaan yang pernah tertunda.


"Aiden, akhirnya kita bisa menikah. Aku yakin jika kau pasti akan membuatku menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia ini karena memiliki suami sepertimu!!"


-


-


Kabar tentang keributan yang terjadi di toilet telah sampai ke telinga Aiden. Dia memberikan peringatan keras pada seorang model dan dua karyawannya yang sudah mengganggu Aster. Bukan maksud Aiden membela wanita itu, dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.


Dan disini mereka sekarang. Aster dan Aiden berada di ruangan pria itu. Aiden mencecar Aster dengan beberapa pertanyaan layaknya seorang detektif yang mewawancarai saksinya.


"Apa saja yang mereka bertiga lakukan padamu? Apa mereka menyakitimu secara fisik lebih dari ini?"


Aster menggeleng. "Mereka tidak melakukan apapun padaku selain mengunciku di toilet. Dan terimakasih atas pembelaan Anda Tuan Zhang, aku merasa terharu."


"Ck, apa yang kau bicarakan. Bukankah sekarang kita sudah menjadi teman, dan sebagai seorang teman sudah seharusnya kita saling membantu, bukankah begitu?"


"Teman?"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2