I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 51: Kado Untuk Aiden


__ADS_3

Penyesalan terlihat jelas di wajah Aster. Dia sungguh-sungguh tidak tau jika hari ini adalah hari paling spesial bagi suaminya. Hari ini adalah ulang tahun Aiden dan tak ada seorang pun yang mengucapkannya termasuk Aileen yang notabenenya adalah adik kandungnya.


Wanita itu tersenyum puas melihat sebuah kota kecil berbentuk segiempat dengan hiasan pita merah diatasnya. Di dalam kontak itu tersimpan sebuah kado istimewa untuk Aiden. Dan Aster berharap dia akan menyukainya.


Cklekk...


Buru-buru Aster menyembunyikan kado itu saat mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka dari luar. Senyum hangat menghiasi wajah cantiknya ketika melihat siapa yang berjalan menghampirinya.


Wanita itu kemudian berdiri dan menghambur ke pelukan suaminya. "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa sikapmu aneh sekali? Apa karena kau masih merasa bersalah padaku?" Aster menggeleng. "Lantas?"


"Tunggu sebentar, Aku memiliki sesuatu untukmu." Aster melepaskan pelukannya lalu beranjak dari hadapan Aiden. Tak lama berselang kembali dengan sebuah kotak kecil berhiaskan pita merah di atasnya. "Ini untukmu,"


"Apa ini?"


"Buka saja, kau segera mengetahui."


Senyum Aster membuat Aiden semakin penasaran akan isi di dalam kotak hitam tersebut. Dia melepaskan pita merah itu lalu membuka kotaknya. "Aster ini?" Itu mengeluarkan sebuah benda panjang dan tipis dengan dua garis merah.


Aster mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca. "itu adalah hadiah ulang tahunmu dariku. Selamat ulang tahun, Papa." Ucapnya dengan serak, menahan tangis.


"Ja..Jadi?"


Aster mengangguk. "Ya, aku hamil. Maaf sudah membohongimu tentang tamu bulanan kemarin. Dokter mengatakan jika kandunganku agak lemah, untuk itu perlu berhati-hati dalam menjagamu. Aku sengaja tidak memberitahumu, karena ingin memberikan kejutan di hari spesialmu. Aku sudah tahu jika hari ini adalah ulang tahunmu,"


"Dasar bodoh!!" Kemudian Aiden menarik Aster ke dalam pelukannya. Dan memeluk perempuan itu dengan erat. "Terimakasih telah memberikan kado terindah dihari istimewa ini. Dan ini adalah kado terbaik yang pernah aku dapatkan dalam hidupku,"


Aster mengangkat wajahnya dari dekapan Aiden lalu mengukir senyum tipis dibibir ranumnya. "Sama-sama," ucapnya dengan senyum yang sama.


Kemudian Aiden mendekatkan bibirnya dan mencium singkat bibir ranum Aster. Tak ada pagutan apalagi lum*tan. Hanya ciuman singkat yang kurang dari tiga puluh detik. "Aku berjanji untuk menjaga dan melindungi kalian berdua. Tak akan kubiarkan siapapun menyakiti apalagi melukai kalian berdua. Tidak akan pernah!!"


Aster tersenyum lebar. Kembali dia menghambur kepelukan suaminya. Karena jika bukan itu yang melindunginya dan janin yang ada di perutnya. Lalu siapa lagi?


"Ini sudah hampir tengah malam. Segera tidur, mulai sekarang kau tidak boleh bandel apalagi susah diatur. Ingat,kau tidak sendirian lagi."

__ADS_1


"Aku tau, baiklah ayo tidur." Aiden mengangkat tubuh Aster bridal style lalu membaringkannya di atas tempat tidur.


"Good night." Bisik Aiden di depan wajah Aster dengan jarak yang sangat dekat.


Kemudian Aiden mengarahkan bibirnya ke kening Aster dan mengecupnya. Lalu ia berbaring disamping Aster. Keduanya kemudian sama-sama menutup matanya dan tidur.


-


-


"KYYYAAAA!!!"


Aster yang sedang mandi terlonjak kaget mendengar suara teriakan dari kamar Aileen. Menyambar handuknya lalu berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Namun langkahnya di hentikan oleh Aiden dan dia memintanya untuk berpakaian terlebih dulu.


Dan setelah berpakaian lengkap. Aster dan Aiden bergegas keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tak hanya mereka berdua yang panik setelah mendengar teriakan pemuda itu, tetapi para pelayan juga. Dan di dalam kamar beberapa semakin heboh.


"Ada apa ini?" Dan kedatangan mereka berdua menyita perhatian semua orang di kamar Aileen.


"Huaaa.... Hyung, Nunna...!!" Teriak Aileen lalu menghampiri mereka berdua. "Hiks, selamatkan aku dari bocah itu. Adrian sangat mengerikan. Masa iya dia membawa pulang seekor hamster lalu menunjukkannya padaku. Aku kan sangat takut pada Hamster."


Aster mendengus berat. Dia pikir Aileen berteriak karena apa, ternyata hanya karena seekor hamster milik Adrian.


Dan Aiden tak merasa heran, Aileen memang sangat phobia pada segala jenis binatang yang berbulu, terutama kucing dan tikus. Jadi tidak mengherankan jika dia sampai histeris begitu.


"Segera tangkap Hamster itu lalu kembalikan ke kandangnya. Adrian, sebaiknya jangan tunjukkan bintang peliharaanmu itu pada Aileen. Dia sangat phobia pada semua bintang berbulu. Dan kau Leen, jangan pernah berteriak seperti di hutan!! Mengganggu saja," kemudian Aiden mengajak Aster meninggalkan kamar Aileen.


Aiden kembali ke kamarnya, sementara Aster pergi ke dapur. "Nunna,"


"Omo!" Aster terlonjak kaget karena kemunculan si Tao panda yang tiba-tiba. Lelaki itu lalu menghampiri Aster sambil membawa mentimun yang hanya tinggal setengah. "Yakk!! Panda, apa kau ingin membuatku terkena serangan jantung eo?!" Bentaknya marah.


Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Hehehe, maaf Nunna. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut kok. Oya, apa kau mau mentimun? Ini hasil dari nyolong di kebon orang ketika pulang dari salon tadi."


"Kau dari salon? Untuk apa?" Aster menatapnya penasaran.

__ADS_1


Kemudian Tao menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya. "Untuk apa? Masa kau tidak tau sih? Aku ke salon ngapain, gaya baru." Dia memberi kode dengan menunjukkan model dan warna rambut barunya.


"Jelek, kau malah mirip kakek-kakek!!" Ucap Aster sambil melewati Tao begitu saja.


Kedua matanya langsung membulat sempurna. "Apa kau bilang? Aku mirip kakek-kakek? Yakk!! Nunna, kenapa kau sangat kejam sekali. Tega-teganya kau menyamakanku yang tampan dan imut ini seperti kakek-kakek!!" Teriaknya namun tak dihiraukan oleh Aster.


Tao pergi ke salon untuk merubah penampilannya. Rambut coklatnya ia rubah ke warna putih dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya. Menurut Tao itu sangat bagus sekali, tapi kenapa Aster malah mengatainya jika rambut barunya malah mirip kakek-kakek?! Benar-benar menyebalkan.


"Dasar jahat, jelas-jelas rambutku sangat bagus. Malah dibilang mirip kakek-kakek, Nunna kau sungguh-sungguh sangat kejam!!"


-


-


"Pa, kau harus melakukan sesuatu. Pokoknya aku mau menikah dengan, Aiden!! Titik!!"


Andien memaksa sang ayah agar dia segera mencari cara supaya dia dan Aiden bisa segera menikah.


Awalnya Andien menolak ketika sang ayah mengatakan ingin menjodohkannya dengan salah satu keturunan keluarga Zhang, dia menantang keras dengan alasan belum siap menikah. Apalagi Aiden yang Andien kenal dulu tidaklah setempat sekarang.


"Berhenti mendesak Papa, Ndien. Papa juga berusaha dan sedang mencari cara untuk memisahkan mereka berdua, tetapi sampai sekarang Papa belum menemukan cara apapun!! Daripada kau terus mendesak Papa, sebaiknya bantu berpikir!!"


"Kenapa Papa malah memintaku untuk ikut berpikir, itu seorang ayah, dan tugasmu adalah membahagiakan putrinya!! Untuk itu segera cari cara untuk memisahkan mereka berdua, supaya aku bisa bahagia!!"


Paruh baya itu menatap Andien dengan marah. Benar-benar seorang anak yang tak tahu berterima kasih dan menghargai orang tua, bisa-bisanya dia bicara seperti itu.


"Kau benar-benar perlu diberi pelajaran, Ndien!! Jika Papa tidak peduli pada masa depanmu, mana mungkin papa menjodohkan mu dengan Aiden. Makanya berpikir dengan otak jangan dengan dengkul!! Merepotkan saja!!"


"Yakkk!! Papa, Kau sangat menyebalkan!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2