I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 46: Kebakaran


__ADS_3

Asing dan belum terbiasa. Begitulah kehidupan Adrian di rumah barunya. Meskipun tinggal di rumah megah dan mewah. Tetapi tempat ini terasa sangat asing baginya. Orang-orangnya bersikap hangat dan baik padanya. Tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman, mungkin karena belum terbiasa.


Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatiannya. Seorang perempuan cantik menghampirinya sambil membawa segelas susu dan beberapa potong buah-buahan segar.


"Kenapa terus di kamar saja? Apa kau tidak nyaman berada di rumah ini? Rumah ini adalah milik kakakmu dan mereka adalah keluargamu. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan apalagi malu."


"Tidak apa-apa, Nunna. Aku masih belum terbiasa saja. Aku malu menghadapi orang baru. Apalagi sebelumnya aku belum pernah tinggal dan hidup di rumah semewah ini. Aku sedang menyesuaikan diri."


Aster tersenyum tipis. "Itu benar. Tapi kau harus belajar untuk beradaptasi. Aiden dan Aileen adalah kakak-kakakmu, meskipun kalian berdua tercipta dari kecebong yang berbeda. Tapi bagaimana pun juga kalian adalah kakak beradik, kalian lahir dari rahim ibu yang sama."


"Bagus, Nunna. Nasehati dia, aku sampai capek membujuknya supaya mau keluar bersamaku. Padahal aku ingin menunjukkan dunia yang luar biasa padanya. Tapi dia selalu menolaknya!!" Sahut Aileen dari belakang.


Padahal Aileen ingin mengajarkan ilmu yang sangat bermanfaat pada Adrian. Tapi remaja itu selalu saja menolak dan tidak mau ikut pergi bersamanya. Ini adalah Minggu pertama Adrian tinggal bersama Aiden dan Aileen.


"Appo, Nunna... Kenapa kau malah memukul kepalaku?!" Protes Aileen sambil mengusap kepala belakangnya yang baru saja ditoyor oleh Aster.


"Memang sebaiknya dia tidak ikut pergi denganmu. Bisa-bisa Adrian yang masih polos ini malah ikutan sesat sepertimu dan William!! Aku jadi lebih setuju jika dia berada di rumah saja dari pada ikut pergi denganmu!!"


Jika sudah terkena ajaran sesat Aileen dan William, bisa-bisa Adrian yang masih polos ini jadi tidak polos lagi. Dan Aster sangat tidak setuju jika kepolosan remaja ini sampai ternodai.


"Nunna, kenapa kau sangat jahat sekali padaku? Padahal aku ini berniat baik loh. Adrian itu belum pernah tau tentang dunia luar, makanya aku ingin memperkenalkan dunia yang sangat indah dan penuh warna."


"Sebaiknya belajar saja dengan giat jika tidak ingin digantung hidup-hidup oleh Hyung-mu. Awas, jangan ajarkan sesuatu yang menyimpang pada Adrian yang polos dan imut ini. Awas saja kau!!" Ancam Aster memperingatkan.


"Iya, iya, aku tau. Tapi jangan mengancam begitu!!"


Kemudian Aster pergi dari kamar Aileen. Dia sedang malas untuk berdebat dengan adik iparnya itu. Aileen terkadang sangat menyebalkan dan rasanya Aster ingin sekali memukul pantatnya.


-


-


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti. Dan aku ingin data-data itu sudah ada di tanganku besok pagi!!"


Aiden mengakhiri sambungan telfonnya bersamaan dengan Aster memasuki kamar. Lelaki itu memicingkan matanya dan menatap sang istri penuh tanya. "Ada apa, kenapa kau terlihat kesal sekali?"


"Bagaimana aku tidak kesal?! Bisa-bisanya Aileen ingin meracuni otak Adrian yang polos dan imut itu dengan kegilaannya. Jika Adrian dibiarkan terus-menerus bersama Aileen dan William, bisa-bisa dia ikut gila juga."


"Itu juga yang aku khawatirkan. Tapi baguslah jika kau sudah memikirkan tentang masa depan Adrian. Aku juga tidak ingin jika anak malang itu sampai salah jalan seperti mereka berdua."


Salah jalan yang Aiden maksud tentu bukanlah dalam artian yang buruk seperti masuk dalam pergaulan bebas. Melainkan seperti sifat yang dimiliki oleh William dan Aileen. Apalagi mereka berdua benar-benar sudah tidak tertolong lagi.


"Kita akan mengawasinya sama-sama. Adrian sudah tidak memiliki siapapun lagi, jika bukan kau yang memperhatikannya lalu siapa. Bagaimana pun juga dia adalah adikmu, kalian berdua lahir dari rahim yang sama. Apalagi satu-satunya keluarga yang dia miliki hanya dirimu." Ujar Aster panjang lebar.


"Aku tau, dan aku akan selalu memperhatikannya. Panggil dia, kita makan malam sama-sama," Aster mengangguk kemudian dia meninggalkan Aiden sendirian di kamar mereka.

__ADS_1


.


.


"Adrian, kau ini sedang dalam masa pertumbuhan dan untuk itu otakmu perlu mendapatkan banyak asupan vitamin!! Tapi jangan cemas, Hyung punya banyak stok vitamin yang sangat manjur dan mujarab!!"


Aster langsung mendobrak pintu kamar bercat putih itu setelah mendengar apa yang Aileen katakan. Pemuda itu sedang mengajari Adrian ajaran sesat. "Asupan vitamin apa maksudmu?" Kemunculan Aster yang tiba-tiba membuat Aileen terkejut bukan main.


"Omo!! Nunna, kau mengejutkanku saja. Bukan apa-apa, kau hanya salah dengar saja. Aku tadi sedang menasehati Adrian supaya dia lebih giat belajar dan jangan lupa untuk meminum vitamin karena untuk menjadi cerdas butuh asupan vitamin yang tepat."


"Kemarikan ponselmu!!"


"U..Untuk apa? Janganlah Nunna, ponsel ini sangat penting bagiku dan percayalah jika tak ada apa-apa di dalam ponsel ini."


"Jangan banyak bicara!! Cepat berikan saja ponsel itu padaku!!"


Dengan tangan gemetar dan was-was. Aileen memberikan ponselnya pada Aster. Bisa habis dia jika Aster sampai melihat apa saja yang tersimpan di ponselnya. Bukan hanya bisa habis ditangan kakak iparnya, tetapi juga di tangan Aiden. Karena bagaimanapun juga, Aiden jauh lebih mengerikan dari Aster.


Belum sampai ponsel itu ditangan Aster. Tiba-tiba ponsel milik wanita itu berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Kali ini Aileen bisa selamat. Semoga saja Aster lupa dengan keinginannya untuk membuka gallery ponselnya.


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Aster meninggalkan kamar Aileen dengan terburu-buru. Bahkan dia sampai lupa dengan tujuan awalnya datang ke kamar adik iparnya tersebut. "Aster, Apa yang terjadi kenapa kau terlihat sangat panik?" Tegur Aiden ketika berpapasan dengan istrinya tersebut.


"Apa, kebakaran?! Bagaimana bisa?"


Aster menggeleng. "Aku sendiri juga tidak tau seperti apa kronologinya. Stella menghubungiku dan mengatakan jika boutique kebakaran. Aiden, aku harus pergi sekarang!!"


Aiden menahan pergelangan tangan istrinya."Aku akan pergi denganmu!!" Ucapnya sambil mengunci biner Hazel milik Aster. Wanita itu mengangguk.


"Baiklah,"


-


-


Dua puluh lima menit berkendara. Mereka pun akhirnya tiba di lokasi. Sudah terpasang garis polisi dan banyak orang-orang yang berkerumun disana. Aster segera turun dari mobil suaminya kemudian menghampiri Stella yang sedang diinterogasi oleh polisi karena dia salah satu saksi yang mengetahui perihal kebakaran tersebut.


"Stella," seru Aster.


Sontak perempuan itu pun berbalik lalu memeluk sahabatnya tersebut. "Aster, boutique kita kebakaran dan kita juga kehilangan beberapa desain musim dingin. Orang itu tak hanya membakar boutique saja, tetapi dia juga mencuri semua rancanganmu."


"Apa?! Benar-benar cari perkara dia!! Lalu apakah kau sudah mengetahui siapa pelakunya?"


Stella menggeleng. "Belum, karena CCTV mati tiba-tiba. Aku tak menemukan bukti apapun selain jejak kaki pelakunya. Aster, bagaimana ini. Pasti Tuan Zhang akan sangat marah jika mengetahui rancangan terbaru kita di curi orang." Stella menjadi sangat panik ketika membayangkan jika Aiden akan marah besar saat mengetahui hasil rancangan musim dingin mereka telah hilang.

__ADS_1


Meskipun dan Aster telah bersahabat lama, akan tetapi Stella benar-benar tidak tahu jika Aster dan Aiden telah menikah. Yang dia tahu kedekatan mereka hanya karena hubungan bisnis yang sedang terjalin tanpa tau fakta yang sebenarnya.


"Masalah dia kau tenang saja, Kau tidak perlu merebutkan apakah Aiden akan marah atau tidak. Yang jelas dia tidak akan marah apalagi menuntut kita, jadi jangan cemaskan apapun."


"Aku tahu kau juga sangat cemas dan ketakutan tentang masalah ini. Kau tidak perlu menghiburku, sebaiknya hibur saja dirimu sendiri karena kita berdua sama-sama dalam masalah!!"


Aster menghilang nafas. "Ck, kenapa kau ngotot sekali?! Aku bilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa!! Lagi pula mana berani dia marah apalagi sampai menuntutku. Sebaiknya tenangkan pikiranmu dan jangan banyak berpikir."


"Tapi, Aster."


"Sudah tidak ada tapi-tapian, aku bilang tenang ya tenang!! Tidak akan ada masalah percayalah padaku!!"


"Baiklah, aku akan percaya padamu."


Aiden menghampiri keduanya. Melihat kedatangan Aiden membuat Stella menjadi sangat panik dan ketakutan apalagi saat melihat wajah dinginnya. Dia seperti sedang uji nyali.


"Apa semuanya selamat?"


Stella mengangguk dengan gugup."Se..Semua selamat, Presdir Zhang. Yang tidak selamat adalah rancangan terbaru kami untuk musim dingin. Dan hampir semua pakaian yang telah didesain dan dirancang oleh Aster harus terbakar."


"Masalah itu masih bisa diperbaiki, kalian juga bisa merancang ulang. Yang terpenting adalah semua selamat dan tak ada korban sama sekali. Aku akan segera menyelidikinya. Ini adalah masalah yang sangat serius. Siapa pun pelakunya, harus segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya!!"


Aster menoleh pada Stella. "Bagaimana? Masih tidak percaya padaku?! Meskipun sifatnya dingin dan terkadang seperti iblis. Tapi percayalah jika Aiden adalah orang yang sangat baik. Bukankah begitu, Presdir Zhang?" Aster mengerlingkan matanya pada Aiden. Lelaki itu mendengus berat.


"Ya, sekarang aku percaya."


"Dan sekarang sebaiknya kau pulang saja. Wajahmu sangat pucat dan kau perlu beristirahat!!"


Stella mengangguk. "Baiklah, aku akan pulang sekarang."


Seorang polisi menghampiri Aster dan Aiden. Mereka berhasil menemukan benda yang diduga kuat milik pelaku lalu menyerahkannya pada pasangan suami-istri tersebut. "Tuan, Nyonya. Kemungkinan besar ini adalah benda milik pelaku yang tidak sengaja terjatuh karena terburu-buru."


Aster menerima kalung tersebut dari tangan polisi di depannya. "Kalung ini,"


"Apa kau tahu siapa pemilik kalung itu?" Tanya Aiden memastikan.


Aster mengangguk. "Ya aku mengenalmu, kalung ini adalah seseorang yang selama ini menjadi sainganku. Dan orang itu adalah pemilik Q Boutique." Aster menunjuk sebuah gedung bertingkat yang letaknya bersebrangan dengan boutique miliknya.


"Hn, masalah ini serahkan saja padaku. Biar aku yang menyelesaikannya. Pastikan kurang dari 24 jam semua rancangan itu kembali ke tanganmu dan mereka mendapatkan imbalan yang setimpal!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2