
"Ya Tuhan, Steven. Kita sudah mau menjadi nenek dan kakek,"
Jessica tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya mendengar tentang kehamilan Aster. Kok ini nanya untuk memiliki seorang cucu pun akhirnya terwujud.
Dan setelah cucunya lahir, Jessica akan memamerkan iya pada teman-temannya. Semua teman-teman Jessica sudah memiliki cucu, dan itulah yang membuat dia ngidam ingin memilikinya juga.
"Astaga, Sica. Kendalikan dirimu, lihatlah kita berdua menjadi pusat perhatian orang lain!!" seru Steven mengingatkan. Iya benar-benar malu dengan kelakuan istrinya.
Saat ini Jessica dan Steven sedang berada di luar negeri untuk bekerja sekaligus berlibur. Dan ketika menerima telfon dari Aster dan jika dia sedang hamil, Jessica langsung berteriak kegirangan. Dan itulah yang membuat mereka seketika menjadi pusat perhatian.
"Bodoh amat!! Toh kita tidak kenal sama mereka dan ketemu juga hanya sekali Ini saja. Jadi siapa yang peduli?" Balas Jessica menimpali.
Steven mendesah berat. Benar-benar keras kepala, batin Steven. Dan sulit bicara dengan Jessica yang seperti ini. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi sifat keras kepalanya tak juga hilang. Kadangkala kesabaran Steven harus diuji dengan sifat keras kepala Jessica.
"Perhatian semuanya, tolong dengarkan yang akan aku katakan ini. Putriku sedang hamil dan tak lama lagi aku akan memiliki seorang Cucu. Kemudian dia memanggilku, Nenek." Seru Jessica dengan suara lantang.
Dan orang-orang pun langsung memberikan ucapan selamat sambil bertepuk tangan. Sementara Steven langsung tertunduk malu, istrinya ini benar-benar tidak tertolong lagi.
"Ya Tuhan, tolong kuatkan selalu hati hamba untuk menghadapi dia yang sulit ditebak itu." Ucap Steven dalam hati. Dan orang seusia Jessica memang sedang lucu-lucunya.
-
-
Aster memutuskan sambungan teleponnya setelah memberitahu sang ibu tentang kehamilannya.
Dan Aster dia bisa membayangkan betapa bahagianya dia saat ini, Jessica memimpikan seorang cucu jauh sebelum Aster menikah dengan Aiden. Dia mengatakan akan memamerkan cucunya itu pada teman-temannya ketika sudah lahir. Dan Tuhan akhirnya mengabulkan keinginannya.
"Kau sudah memberitahu Mama tentang kehamilan?" Aiden menghampiri aster yang baru saja memutuskan sambungan teleponnya dengan Jessica.
Aster mengangguk. "Aku baru saja selesai memberitahunya, dan Mama sangat bahagia mendengar tentang kehamilanku apalagi dia memimpikan seorang cucu sejak lama. Dan Aku berani bersumpah dia pasti sangat heboh setelah mendengar kabar ini." Ucapnya.
Aiden berlutut di depan Aster yang sedang duduk. Jari-jarinya mengusap perut Astra yang masih rata. Senyum hangat tercetak di bibirnya.
"Halo, Nak. Apa kau tau betapa bahagianya Papa ketika Mamamu memberitahu tentang kehadiranmu. Papa sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu. Baik-baik ya di dalam sana, dan sampai jumpa beberapa bulan lagi."
Aster tersenyum tipis. Dia tidak bisa mengukur seberapa besar kebahagiaan yang tengah Aiden rasakan saat ini. Kehadiran calon Baby Zhang merubah Aiden yang dingin menjadi sosok yang sangat hangat dan penuh perhatian.
"Ya, Papa." Jawab Aster menimpali, suaranya dibuat semirip mungkin dengan anak-anak. Lantas Aiden mengangkat wajahnya dan terkekeh. Aster tersenyum lebar. "Aku ingin makan Apel, dan bisakah kau mengusapkannya untukku?"
Aiden mengangguk. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Ucapnya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Apapun yang Aster minta, Aiden pasti langsung mengabulkannya selama itu masih wajar dan tidak di luar nalar. Dan Aiden berdoa semoga tidak ada permintaan-permintaan aneh dari istrinya ini. Karena setahunnya, orang hamil selalu ada saja permintaan anehnya.
Tak sampai lima belas menit, air dan kembali dengan membawa potongan apel yang Aster minta lalu memberikannya pada wanita itu. Master tersenyum lebar menerima apel yang diberikan oleh Aiden padanya. "Terimakasih, Papa."
"Sama-sama," Aiden mengusap lembut rambut panjang Aster. "Aku ada urusan sebentar, malam ini tidak perlu menunggu ku pulang, kau makan malam duluan saja dengan Adrian dan Aileen."
"Memangnya kau mau pergi kemana?" Aster menatap suaminya itu penasaran.
"Menyelesaikan masalahku dengan Paman Zhang dan putrinya. Dan benalu seperti mereka akan sangat merepotkan jika tidak segera disingkirkan!!"
"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu malam."
Aiden mengangguk. "Baiklah, aku pergi dulu." Aiden mengecup kening Aster dan pergi begitu saja.
Andien dan ayahnya bisa menjadi batu sandungan untuk Aiden dan keluarga kecilnya jika mereka tetap dibiarkan saja. Saat ini Aster sedang hamil dan keselamatannya serta janin yang ada di perutnya perlu dijaga.
Dia tau orang seperti apa pamannya tersebut. Dan jika tetap dibiarkan saja, maka bisa fatal akibatnya. Untuk itu Aiden harus segera mengambil sebuah tindakan yang tepat.
-
-
"Apa-apaan ini, kenapa kalian menyekap kami di tempat ini?"
Andien dan ayahnya dibawa ke sebuah tempat yang sangat asing bagi mereka. Mereka dibawa dalam keadaan tak sadarkan diri setelah diberi obat bius. Saat ini keduanya berada di sebuah pulau terpencil yang jauh dari keramaian kota. Dan untuk mencapai pulau masih harus menggunakan kapal boat.
"Kami hanya menjalankan perintah, jika ingin tahu sebaiknya tanyakan saja pada, Bos!!"
"Memangnya siapa Bos kalian? Dan kenapa dia memerintahkan kalian untuk menyekapku dan putriku di tempat ini?!" Aiden menatap ketiganya penuh tanya.
"Aku bos mereka!!" Sahut seseorang dari luar. Ayah dan memasuki ruangan dan mengejutkan mereka berdua.
"Aiden, jadi ini adalah perbuatanmu?! Jadi kau yang memerintahkan mereka untuk menculik dan menyekap kami disini?!"
"Ya,"
"Kenapa?"
"Karena keberadaan kalian berdua membuatku sangat tidak nyaman!!"
"Cepat lepaskan kami!!"
__ADS_1
"Dengan satu syarat!! Aku akan melepaskan kalian dengan satu syarat."
"Katakan Apa syaratnya!!"
"Berhenti mengganggu hidupku dan pergi sejauh mungkin dari negeri ini. Jika kalian tidak setuju, maka aku akan mengirim kalian berdua pergi ke neraka!!"
Paruh baya itu hendak membuka bibirnya dan membalas ucapan Aiden. Namun lebih dulu disela oleh Andien. "Baiklah kami setuju!!" Perempuan itu berkata cepat.
"Andien?!"
"Aku masih ingin hidup, Pa!! Lebih baik cari aman daripada cari perkara. Dan jika Papa ingin mati, ya sudah mati saja sendiri!! Aku tidak mau!!"ucap wanita itu menimpali.
Aiden menatap paruh baya dengan tatapan datarnya. "Putrimu sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Lalu bagaimana denganmu, Aku akan memberimu waktu sepuluh detik untuk berpikir."
Tangan paruh baya itu terkepal kuat. Niatnya pulang bukan untuk ini, tetapi untuk mendapatkan kekuasaan dan harta keluarga Zhang. Dia pikir Aiden adalah orang yang mudah untuk dikendalikan, tetapi ternyata dia salah besar. Aiden bukanlah orang yang mudah.
"Baiklah, aku setuju untuk meninggalkan negara ini!!"
Akhirnya dia pun mengambil sebuah keputusan. Dia juga tidak mau berakhir dengan mengenaskan, itulah kenapa paruh baya itu memilih untuk mengikuti keputusan putrinya. Aiden menyeringai tipis.
"Keputusan yang tepat. Urus kepergian mereka berdua dan pastikan mereka tidak pernah kembali lagi ke negeri ini!!"
"Baik, Bos!!"
Satu masalah lagi telah teratasi. Sekarang Aiden bisa tenang. Tak akan ada lagi yang mengganggu ketenangan dan ketentraman rumah tangganya dengan Aster. Dan dia bisa lebih santai dalam menjaga Aster dan calon anak mereka.
-
-
Hampir tengah malam Aiden di rumahnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat istri yang sudah terlelap. Kemudian dia menghampiri wanita itu lalu berbaring di sampingnya, dengan perlahan-lahan agar tak mengusik tidurnya.
Dipandanginya wajah itu cukup lama. Sungguh rasanya Aiden tak percaya jika dia bisa jatuh cinta pada Aster yang memiliki sifat bertolak belakang dengannya. Dan kehadirannya kini melengkapi hidupnya.
"Aku pasti akan menjaga kalian berdua. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti apa lagi menyakitimu dan dia!!!" Kemudian Aiden mengecup kening Aster lalu berbaring disampingnya.
Dekapan hangat Aiden membuat Aster semakin terlelap. Sebenarnya Aster menyadari kepulangan suaminya, hanya saja dia terlalu malas untuk membuka matanya. Itulah kenapa Aster tetap menutup rapat-rapat matanya bahkan ketika Aiden memeluknya dengan hangat.
Dalam hatinya Aster sangat berterimakasih pada Tuhan karena mengirimkan suami yang sangat baik dan perhatian seperti Aiden. Meskipun terkadang dia sangat dingin dan menyebalkan.
-
__ADS_1
-
Bersambung.