I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 54: Ramuan Mujarab


__ADS_3

Aileen terus mengeluhkan sakit perut akibat terlalu banyak memakan strawberry. Padahal dia sudah diingatkan supaya tidak rakus tetapi Aileen tak mau mendengarkannya. Akibatnya dia malah sakit perut dan perutnya terasa seperti melilit-lilit.


"Huhuhu...!! Hyung, perutku sakit." Ucap pemuda itu terisak.


"Makanya jadi orang jangan rakus!!" Sahut Aster menimpali.


"Huhuhu...!! Nunna, kenapa kau kejam sekali padaku? Hiks, sudah tahu aku kesakitan tapi kenapa kau malah meledekku." Dia menangis sekali kencang.


"Bukannya meledek, tetapi aku mengatakan fakta jika kau itu memang rakus jadi orang!!"


Aiden menghela napas. Lagi-lagi mereka berdebat. Dan ini bukan pertama kalinya tetapi yang kesekian kalinya. Aileen dan Aster memang tidak pernah bisa akur layaknya kakak dan adik ipar pada umumnya. Tetapi bukan berarti mereka tak saling menyayangi.


Tiba-tiba Adrian datang membawa satu gelas minuman entah apa itu. Airnya berwarna merah kecoklatan yang kemudian dia berikan pada Aileen. "Hyung, coba minum ramuan ini. Saat aku sedang sakit perut biasanya nenek dari papaku selalu memberiku ramuan ini, dan sangat mujarab."


Aileen menggeleng. "Tidak mau!! Warnanya saja sudah tidak menyakinkan apalagi aromanya. Aku tidak mau keracunan untuk kedua kalinya!!"


Lagi-lagi Adrian menggeleng. "Tidak kok, Hyung. Aku berani menjaminnya dan ramuan tradisional ini sangat aman, tidak terkontaminasi oleh bahan kimia yang berbahaya. Jadi cepat diminum." Pinta Adrian sekali lagi.


Sekali lagi Aileen menggeleng. "Gak kau ya gak mau!! Kenapa kau ini pemaksa sekali!!"


"Tapi tidak ada salahnya juga sih dicoba." Sahut Aster. "Karena biasanya ramuan tradisional itu sangat efektif dan lebih mujarab dari obat-obatan dokter. Jadi coba saja."


"Huaa...!! Nunna, kenapa kau malah ikut-ikutan juga?! Aku tidak mau. Hyung, tolong aku," rengek Aileen sambil memegang lengan Aiden.

__ADS_1


"Sebaiknya menurut saja pada kakak iparmu karena dia yang lebih tahu. Kalian saja yang mengurusnya. Aku pergi dulu!!" Ucap Aiden dan pergi begitu saja. Kepalanya benar-benar pening mendengar rengekan Aileen yang seperti bocah.


"Hyung, jangan pergi. Hyung, jangan tinggalkan aku. Hyung, Hyung, Hyung!!"


Aster memaksa Aileen untuk meminum ramuan tersebut. Aileen menolak dan bersikeras tak mau meminumnya. Tetapi mendengar penawaran Aster yang mengiurkan akhirnya dia setuju untuk meminum ramuan tersebut.


"Hoek, kenapa rasanya pahit dan aneh sekali?!" Teriak Aileen dengan ekspresi yang sangat menggelikan. "Sebenarnya ini ramuan apa? Kenapa rasanya aneh sekali?!" Aileen menatap Adrian penasaran.


"Ramuan itu berasal dari perbumbuhan di dapur. Lalu bagaimana rasanya sekarang? Perutmu sudah baikan bukan?"


Aileen mencoba merasakan perutnya. Dia tidak merasakan sakit lagi seperti tadi. Rasanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya setelah meminum ramuan yang Adrian berikan.


"Kok gak sesakit tadi lagi ya? Omo, perutku rasanya sangat nyaman sekarang. Ramuanmu benar-benar mujarab, perutku jadi tidak sakit lagi."


Aster menjitak gemas kepala Aileen. "Nah, makanya jangan suka meremehkan ramuan tradisional. Meskipun jadul, kolot dan berasal dari kampung. Tetapi memberi manfaat yang sangat luar biasa untuk tubuh!!"


"Sama-sama, Hyung."


Kemudian Aster meninggalkan kamar adik iparnya tersebut dan kembali ke kamarnya. Aster benar-benar sangat lelah dan dia ingin segera beristirahat.


.


.

__ADS_1


Kedatangan Aster mengalihkan perhatian Aiden dari laptopnya. Dia sedang memeriksa beberapa email yang masuk. Kemudian Aiden menutup laptopnya lalu mengulurkan tangannya pada Aster.


"Bagaimana dengan Aileen? Apa perutnya sudah membaik?"


Aster mengangguk. "Dia membaik setelah meminum ramuan yang dibuatkan oleh Adrian. Ramuan itu benar-benar manjur dan mujarab. Sekarang dia sudah tidak kesakitan lagi." Jawabnya.


"Baguslah kalau begitu." Aiden mengangkat dagu Aster kemudian mengecup singkat bibir ranum tipisnya. Lalu pandangannya bergulir pada perut Aster yang masih rata. Senyum menghiasi bibirnya. "Hai, Nak. Apa kabarmu hari ini? Jangan bandel apalagi menyiksa Mamamu."


"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" Aster menatap Aiden dengan serius.


"Laki-laki maupun perempuan bagiku sama saja. Yang terpenting adalah kau dan dia sehat dan sama-sama selamat," jawabnya.


Aster kemudian memeluk leher Aiden sambil mengunci manik matanya. "Aku justru menginginkan anak laki-laki dan perempuan. Semoga saja kehamilanku ini adalah kehamilan bayi kembar."


"Sepertinya kau sangat berharap sekali? Tapi jika memang dua anak sekaligus aku akan sangat berterimakasih pada Tuhan. Karena itu artinya kita tidak perlu susah payah menjadikannya lagi. Karena sekali lahir langsung dua anak."


Aster terkekeh mendengar ucapan suaminya. Dengan gemas dia memukul dada Aiden. "Uh, dasar kau ini. Kenapa malah mikir kesana?! Ya, tapi benar juga. Dari pada berkali-kali hamil dan melahirkan. Lebih baik sekali tapi langsung dua,"


"Tetapi bagiku. Kembar ataupun tidak, itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah keselamatan kalian. Tetapi jika Tuhan memberi kita dua anak sekaligus. Itu artinya dia sangat mempercayai kita untuk menjadi orang tua. Dan tugas kita sebagai orang tua tentu untuk menjaga dan melindunginya dengan sepenuh hati." Ucap Aiden sambil mengunci manik Hazel milik Aster.


"Jangankan melindunginya sepenuh hati. Nyawa pun pasti akan aku berikan padanya. Karena dia adalah segala-galanya bagiku!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2