
Aster menggigit bibir bawahnya ketika melihat Aiden telah bulat tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh kekar atletisnya. Sementara dirinya masih utuh dengan balutan gaun tidurnya. Melihat seringai dibibir Aiden membuat Aster berkali-kali menelan saliva.
Aiden menghampiri sang istri lalu menanggalkan semua kain yang masih membungkus badannya. Semua dia tanggalkan dan tak menyisakan sehelai benang pun.
Tubuh Aiden terpaku. Hampir dua bulan dia menikah Aster. Tapi baru sekarang dia melihat tubuh sang istri dalam keadaan bulan. Payu-daranya tidak terlalu besar namun terasa pas ketika disentuh. Aiden menatap bukit kembar Aster selama beberapa detik, dia terpanah.
"Indah." Lelaki itu kemudian berbisik di atas salah satu puncak bukit kembar Aster, napasnya yang hangat menyapa permukaan gundukan bukit itu dan membuat pu-tingnya mengeras, nyaris terasa nyeri.
Aster mende-sah dan melengkungkan punggung ketika salah satu pu-tingnya telah berada di dalam mulut seksi sialan suaminya. Aster meremas tengkuk Aiden dan menariknya lebih dekat untuk menghisapnya lebih, lidahnya bergerak membentuk pola melingkar di sekitar pu-ting itu sedangkan sebelah tangannya meremas dan memilin pu-ting milik Aster yang lain.
Puas dengan bukit kembar itu. Aiden beralih pada bibir ranum Aster dan menciumnya. Tangannya menelusuri tubuhnya membelai mulai dari pipi, tulang selangka, payudara, berlama-lama di bagian perut hingga akhirnya gadis itu sedikit terkejut dan perutnya seketika mengejang saat tangan Aiden menyentuh bagian in-timnya yang sudah mulai basah sejak pertama kali dia mencumbu nya.
Aster kembali mengerang ketika bibir Aiden terlepas dari bibirnya dan jarinya menemukan organ in-timnya yang basah.
"Lihatlah ini, kau begitu basah dan panas di bawah sini. Dan aku yakin kau akan sangat siap beberapa saat lagi. " Aiden menggeram dalam kalimatnya. Itu terdengar liar dan Aster menyukainya. "Aku butuh merasakanmu sekarang." Bisiknya.
Aiden kembali melu-mat bibir Aster seperti tadi sesaat. Gadis itu memperhatikannya dalam diam ketika Ia menurunkan cum-buannya kearah bawah tubuhnya seperti yang tadi di lakukan oleh jari-jemari ajaibnya. Jika
"Baby, kau benar-benar sempurna."
Aiden melebarkan kedua kaki Aster dan memposisikan kepalanya di antara selang-kangannya. Ibu jarinya menyibak kenikmatannya, menahannya untuk tetap lebar hingga lidahnya menempati celah terbuka itu. Aster mendongakkan kepalanya saat lidah panasnya bersentuhan dengan kenikmatannya.
"Oh Tuhan, aku benar-benar menginginkanmu."
__ADS_1
Suara Aiden terdengar serak saat Ia berbicara di tengah tengah cumbuannya, sedangkan jarinya masih bekerja di bawah sana, memijat menggesek dan melebarkan cairan itu di atas permukaan organ kenikmatannya.
"Begitu pula denganku." Aster menyahutinya dengan antusias. Kali ini dia tidak ragu terhadap keinginannya ini. Dia tahu pasti bahwa dirinya juga menginginkan ini. Aster sungguh-sungguh menginginkannya berada di dalam dirinya. Sekarang. Dan dewi batinnya pun melakukan salto tujuh kali di dalam sana.
"Aiden, please, aku membutuhkan dirimu." Dia berusaha berbicara dalam kondisinya yang tengah di terjang badai yang bernama gai-rah.
"Katakan baby, katakan apa yang kau butuhkan." Aiden berbisik di telinga Aster seraya menggigit-gigit kecil daun telinganya.
"Aku membutuhkan dirimu." Nafas perempuan itu mulai tersengal-sengal. "Di dalam diriku, sekarang."
"Ya, kau akan segara mendapatkannya, tapi~"
"Tapi apa, Apa kau masih belum yakin?"
"Omong kosong." Aster menimpali seraya menarik leher Aide dan melu-mat bibirnya keras. Ia sedikit terkejut namun kemudian menggeram sebelum melepaskan *****-anku.
"Hentikan baby, aku tidak suka di dominasi." Matanya kembali menyala.
"Well, kalau begitu silahkan mendominasiku." Aster mempersilahkan seraya mengerlingkan matanya nakal.
"Setelah aku memulainya, jangan harap aku akan berhenti. Meskipun nantinya kau memohon, aku tidak akan menghentikannya!!"
"No problem," Aster menimpali.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tak akan sungkan lagi." Aiden mulai memposisikan ujung sosis beruratnya di pintu kenikmatan Aster.
Ketika ujungnya telah berada dipusatnya, Ia kembali membawa bibir Aster ke dalam bibirnya dan menciumnya seperti tadi.
Aiden menciumi gadis itu dengan penuh gaira* sementara di bawah sana sosis beruratnya mencoba mendorong masuk sedikit demi sedikit, dan mengeluarkannya kembali beberapa inci sebelum akhirnya mendorong kembali seluruh batangnya kedalam diri Aster hingga membuatnya menjerit di dalam pagutan bibirnya ketika di meraskan panas membakar organ kenikmatannya.
"Oh tuhan ini sakit sekaligus nikmat." Jerit Aster membatin.
Aiden menghentikan gerakannya ketika seluruh miliknya mulai mengisi Aster. Ia mengecupi bibir merah muda itu saat Aster menyesuaikan keberadaan Aiden di dalam dirinya
"Are you okay?" Aiden menatapku lembut.
"Ya." Aster sedikit meringis. "Ini terasa hebat." Dia menambahkan.
Aiden menyeringai dan kembali meluma* bibirnya sementara di bawah sana, Ia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.
Aster sampai kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang dia rasakan saat ini, dia menyukai sensasi di mana sosis berurat suaminya menghujam kedalam dirinya. Dan percintaan mereka akan berlangsung sampai pagi ini. Malam yang begitu dingin namun terasa panas untuk mereka berdua.
-
-
Bersambung.
__ADS_1