I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 19: Dia Calon Istriku


__ADS_3

Aster menyapukan pandangannya. Dia merasa heran melihat restoran yang ia datangi bersama Aiden tampak sepi. Biasanya restoran ini selalu ramai oleh pengunjung meskipun harga setiap menunya tidaklah murah.


Lalu pandangan Aster bergulir pada Aiden."Kenapa tempat ini sangat sepi, tidak seperti biasa. Memangnya ke mana para pengunjungnya?" Ia menatap Aiden penasaran.


"Tidak ada, hanya kita berdua. Karena aku sudah menyewa restoran ini selama satu Minggu penuh. Mulai hari ini sampai satu Minggu ke depan, saat sarapan, makan siang dan makan malam. Kita akan makan disini,"


Aster memicingkan matanya. "Kita?" Aiden mengangguk. "Kenapa mesti kita? Apa kau akan mentraktirku selama itu? Itu akan menguras banyak isi dompetmu karena makanku sangat banyak!!"


"Kau terlalu cerewet. Ayo masuk!!" Aiden merangkul Aster dan membawanya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di restoran tersebut.


Aster tidak tau seberapa banyak uang yang Aiden keluarkan untuk menyewa restoran ini selama satu Minggu penuh. Belum lagi uang yang harus dia keluarkan untuk semua menu yang nantinya mereka pesan. Tidak kaleng-kaleng, ternyata Aiden benar-benar seorang sultan.


Tanpa harus memesan lebih dahulu. Beberapa pelayan restoran berdatangan sambil membawa beberapa menu andalan restoran ini. Sedikitnya ada 10 menu berbeda yang telah tersusun rapi di atas meja, dan Aster tahu jika semua makanan itu adalah menu terbaik dengan harga selangit meskipun porsinya tidak bisa membuat orang kenyang.


"Kenapa hanya dilihat saja? Ayo cepat makan,"


"Kenapa kita tidak makanan di kedai atau cafe saja? Kenapa harus restoran semewah ini. Lihat saja makanan-makanan yang dihidangkan, seuprit dan mana bisa kenyang jika hanya makan satu dua piring saja. Mending makan di kedai atau cafe, harga bersahabat dan yang penting perut bisa kenyang!!" Ujar Aster panjang lebar.


Jika boleh jujur, Aster lebih suka makan di kedai ataupun cafe daripada restoran seperti ini. Bukan karena Aster tidak mampu membayar jika makan di restoran, bahkan dia mampu membeli restorannya juga. Hanya saja makanan restoran tidak terlalu cocok dengan lidahnya.


"Jangan bawel. Tinggal makan saja tapi ribetnya minta ampun. Kalau belum kenyang, kau boleh memesan menu apapun yang kau mau. Chef-nya langsung yang akan memasakannya untukmu!!" Ujar Aiden menimpali.


Aster mempoutkan bibirnya. Malas berdebat dengan Aiden, ia pun mulai menyantap makanan-makanan itu. Dan jangan salahkan dirinya jika nantinya Aiden malah mengeluarkan banyak uang, karena Aster benar-benar sangat lapar.


-


-


"Len, kenapa kau memakai sepeda gunung jelek itu? Memangnya dimana motor mewahmu?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan William. Aileen malah menangis dengan histeris dan berhambur memeluk sahabatnya itu. Membuat William kebingungan dibuatnya.


"Huuaa.. Tolong aku yang malang ini, huhuhu.. Aiden Hyung sangat jahat padaku. Semua fasilitasku di cabut dan aku tidak boleh nonton TV lagi. Padahal Marsha & The Bear sedang seru-serunya. Belum lagi power rangers yang baru saja tayang dua hari lalu. Hiks, aku benar-benar tidak sanggup lagi."


Bibir William berkedut-kedut. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aileen. "Ternyata nasib kita berdua sama. Mama juga menyita semua fasilitasku dan melarangku bermain game lagi. Huaaa..." Dan keduanya pun sama-sama menangis.


Kedua pemuda itu saling berpelukan dan menangis mencurahkan kesedihan masing-masing akibat semua fasilitas mewah yang mereka miliki di sita oleh Ibu dan kakaknya. Padahal mereka tak sanggup hidup tanpa itu semua.


Dan sementara itu. Orang-orang yang menyaksikan hal menggelikan tersebut tertawa sendiri, ada juga yang merasa geli dengan tingkah mereka berdua yang persis seperti bocah. Mereka berdua benar-benar tak tertolong lagi kebobrokannya.


-


-


Yunna tersenyum melihat Aster yang sedang sibuk dengan desainnya. Wanita itu kemudian menghampiri Aster sambil membawa dua cup kopi ditangannya.


"Ini untukmu,"


"Kopi itu tak ada racunnya bukan?" Tanya Aster memastikan.


Yunna menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku masih waras untuk melakukan tindakan kriminal, Nona. Aku memang bukan orang yang baik dan suka memanfaatkan pria-pria kaya untuk memenuhi kebutuhan finansialku, tapi aku bukan seorang kriminal yang tanpa alasan membunuh orang yang baru kukenal." Jelaskan.


Aster menggeleng. "Kau salah, jelas-jelas kamu miliki alasan untuk menyingkirkanku kapanpun kau mau. Karena aku sedang dekat dengan mantan suamimu!! Dia adalah pria yang kaya raya, mapan dan tampan. Apakah dirimu tidak menggebu-gebu untuk bisa kembali padanya?!" Aster menatap Yunna penasaran.


"Tidak!! Untuk apa aku mengejar seseorang yang tak mungkin bisa aku gapai kembali. Dulu aku yang meninggalkannya, jadi mana mungkin tiba-tiba aku kembali dan mengemis lagi cinta darinya. Lagipula mana mau Aiden kembali padaku yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya. Aku masih sadar diri kok."


Aster mencoba mencari kebohongan dari sepasang mata hitam itu, namun tidak ada. Yang dia lihat hanyalah kesungguhan. Semoga apa yang Aster pikirkan itu benar, jika Yunna tidaklah seburuk yang dia kira.


"Makasih untuk waktunya, aku balik kerja dulu. Mereka bisa memarahiku habis-habisan." Ucap Yunna dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Aster menatap kepergian wanita itu dengan tatapan tak terbaca. Dia benar-benar berbeda dengan kebanyakan perempuan di luaran sana. Menceraikan suaminya karena miskin, namun setelah mengetahui suaminya itu sebenarnya kaya raya mereka memohon-mohon untuk rujuk kembali. Namun Yunna tidak, dan sangat langkah wanita seperti dia.


Tak berselang lama setelah kepergian Yunna. Tiba-tiba Shilla datang dan langsung menamparnya. Dan karena terlalu tiba-tiba, Aster tak sempat menghindar apalagi menahan tangan wanita itu. Semua mata kini tertuju pada mereka berdua.


"Kau!! Pelakor!!" Tuding Shilla sambil menunjuk Aster tepat di depan mukanya.


Aster menyentak tangan Shilla dari depan wajahnya dan balik menamparnya. Bukan satu kali tapi berkali-kali, dan tentu saja keributan itu menyita perhatian banyak orang. Orang-orang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.


"Jaga mulutmu sebelum bicara!! Jangan sampai orang-orang menganggapku sebagai perempuan tidak benar hany karena kata-katamu yang tidak beretika itu!!"


"Brengsek!! Beraninya kau menamparku. Dan jika bukan pelakor, lalu apa sebutan untuk perebut laki orang?!"


"Memangnya siapa laki-lakimu yang aku rebut? Dan atas dasar apa kau menuduhku yang tidak-tidak?!" Aster menatap wanita itu dengan pandangan tak bersahabat. Dia benar-benar tidak terima disebut sebagai pelako* oleh Shilla.


"Aiden!! Dia adalah calon suamiku, seharusnya kami sudah menikah jika saja kau tidak tiba-tiba datang dan mengusiknya!!"


Aster mendengus berat. Jadi karena Aiden. Dialah permasalahnya. Memangnya atas dasar apa Shilla menyebutnya sebagai pelako*, bahkan dia sendiri dan Aiden tak memiliki hubungan apa-apa. Dan sementara itu. Aiden yang mendengar dari Yunna jika Aster di labrak oleh Shilla bergegas menghampiri mereka berdua.


Aiden menarik lengan Shilla dan mendorongnya hingga wanita itu terhuyung kebelakang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aiden menangkap wajah Aster dengan kedua tangannya lalu mencium bibirnya. Membuat semua yang ada di sana terkejut bukan main termasuk Aster sendiri.


"Yakk!! Kenapa kau malah menciumnya?!" Bentak Shilla penuh emosi.


"Dia adalah calon istriku dan aku harap kau tidak mengusiknya lagi, atau kau akan tau akibatnya!! Kita pergi!!" Aiden menggenggam pergelangan tangan Aster dan membawanya pergi meninggalkan kerumunan itu.


Yunna yang menyaksikan hal itu tersenyum tipis. Dia kemudian berbalik dan meninggalkan keramaian. "Syukurlah akhirnya kau menemukan yang lebih baik dariku. Aiden, maaf aku telah mengkhianatimu. Berbahagialah kau dengan Aster, dia adalah gadis yang tepat untukmu." Ucapnya membatin. Yunna menyeka air matanya, dia semakin menjauh.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2