
"KYYYYAAA!!"
Gubrakkk...
Aiden jatuh dari tempat tidurnya akibat tendangan maut Aster. Gadis itu terkejut bukan main ketika membuka matanya dan mendapati seorang laki-laki berbaring disampingnya. Sepertinya Aster lupa jika ia dan Aiden telah menikah kemarin.
"Yakk!! Kenapa kau malah menendangku? Apa kau sengaja ingin membuatku sakit pinggang?!" Teriak Aiden kesal.
"Salahmu sendiri, siapa suruh kau ada di tempat tidurku. Dasar pria messum, pasti kau sengaja dan mencuri kesempatan dalam kesempitan ya?!" Tuding Aster.
Dia menuding Aiden yang tidak-tidak dan mengatainya messum. Aiden menautkan alisnya dan menatap gadis itu penuh tanya. Apakah dia lupa jika mereka telah menikah, tapi Aiden juga tidak bisa menyalahkan Aster mengingat jika dia belum terbiasa dengan kehadiran orang lain di hidupnya.
"Dasar pikun!! Bisa-bisanya kau menyebut suamimu sendiri sebagai orang mesum. Ini adalah tempat tidurku dan terserah aku mau tidur dimana pun!!" Jawabnya menimpali. Dari nada bicaranya terlihat jelas jika dia sedang kesal.
"Suami?" Otak Aster masih meloading sambil mengulang satu kalimat yang Aiden katakan. Kedua matanya sontak membelalak sempurna. "Astaga!! Aiden, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja tadi. Lagian aku terkejut saat melihat laki-laki berbaring disampingku. Jangan menyalahkan ku, karena aku masih belum terbiasa." Ucap Aster penuh sesal.
Aiden menghela napas berat. "Lupakan saja, aku mandi dulu. Ada pertemuan penting pagi ini!!" Ucapnya seraya beranjak dari hadapan Aster. Sesekali dia mengusap pantatnya yang terasa ngilu akibat terjatuh tadi.
Aster benar-benar merasa bersalah pada suaminya itu. Sungguh bukan maksud Aster sengaja membuat Aiden terjatuh. Yang dia lakukan tadi adalah reflek bukan karena sengaja. Dan Aster hanya bisa berdoa semoga Aiden tidak marah padanya.
Demi meminta maaf pada suaminya. Aster berinisiatif membuatkan sarapan untuknya. Lagipula sudah sewajarnya dia melayani Aiden yang kini telah resmi menjadi suaminya.
.
.
"Kyyyaaa...!! Sebenarnya ada masalah apa minyak ini denganku? Kenapa meletup-letup terus dan muncrat ke arahku!!" Teriak Aster. Dia menggunakan tutup panci sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari cipratan minyak panas.
Beberapa pelayan yang menemaninya saling bertukar pandang. Hanya dengan sekali melihat saja, mereka tentu langsung tau jika nyonya barunya ini sebenarnya tidak bisa memasak. Salah satu dari ketiga pelayan itu menghampiri Aster. "Nyonya biar saya saja, sebaiknya Anda kembali ke kamar dan masakan ini biar kami yang menyelesaikannya."
Aster menggeleng. "Tidak, tidak, tidak!! Biarkan Aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, melayani Aiden sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri. Dan kalian bertiga cukup berdiri saja di situ untuk mengawasiku, jika tiba-tiba minyak ini meledak jadi bukan aku sendiri yang mati mengenaskan di sini!!" Ucapnya menimpali.
Tentu saja Aster tak mau rugi, melarang mereka untuk mengambil alih pekerjaannya namun tetap menahan mereka agar tak pergi kemana-mana.
"Kkyyyaaa!!" Aster berteriak histeris. Lagi-lagi si minyak menyusahkannya. "Yakkk!! Kenapa minyaknya tidak mau diam dan menurut sebentar saja?! Aisshh, benar-benar merepotkan!!"
__ADS_1
Teriakan keras Aster mengejutkan Aiden dan Aileen. Buru-buru keduanya meninggalkan kamar masing-masing dan pergi ke dapur melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun setibanya mereka di sana, baik Aiden maupun Aileen tak menemukan hal-hal yang aneh apalagi berbahaya, melainkan tingkah konyol Aster.
Aiden mendengung geli. Kemudian dia menghampiri sang istri yang terus berteriak akibat cipratan minyak panas. Tanpa basa-basi, Aiden mematikan kompor tersebut dan membawa Aster meninggalkan dapur.
"Yakk!! Kau mau membawaku kemana? Aiden, lepaskan aku!! Aku masih belum selesai memasak!!" teriak Aster dengan kesal.
"Kau itu tidak ada bakat di dapur, jadi sebaiknya tidak usah menginjakkan kakimu di sana. Biar pelayan saja yang menyelesaikan urusan di dapur."
"Tapi aku~"
"Tidak ada tapi-tapian, Aku tidak mau jika kau sampai ke membakar dapurku!!"
Aster mempoutkan bibirnya dan menatap Aiden dengan kesal. "Dasar manusia Kutub Utara. Bukannya berterima kasih malah ngomel-ngomel tidak jelas. Jelas-jelas aku pergi ke dapur itu untukmu!! Aku berinisiatif meminta maaf karena sudah menendangmu dari tempat tidur hingga terjatuh!!"
Dan Aiden sedikit terkejut setelah mendengar apa yang Aster katakan. Jadi karena dirinya, karena Aster berinisiatif meminta maaf padanya. Padahal jelas-jelas dia tidak bisa memasak, tetapi Aster tetap berusaha meskipun yang dia lakukan pada akhirnya tetap saja gagal.
"Baiklah aku minta maaf, sebagai gantinya Bagaimana jika kita sarapan di luar saja. Kau bisa menebus kesalahanmu pagi ini dengan mentraktirku makan di luar," ucap Aiden.
Aster berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan usulan suami untuk mentraktirnya sarapan. "Oke kalau begitu, hari ini biar aku saja yang traktirmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dariku karena sudah menendangmu hingga terjatuh dari tempat tidur," tutur Aster.
Aster mengangguk Seraya tersenyum tipis."Baiklah,"
-
-
Aiden melirik ke belakang melalui ekor matanya untuk memastikan apakah ada yang mengikutinya dan Aster atau tidak. Dan benar saja, terlihat Gerry yang berjalan di belakang mereka dengan gelagat yang sangat mencurigakan. Dan Aiden sendiri tidak tahu apa tujuan lelaki itu mengikutinya dan Aster.
Aster yang kebingungan melihat sikap Aiden hendak menoleh ke belakang, namun segera dicegah olehnya. Aiden menggeleng.
"Tetap menatap ke depan dan Jangan coba-coba melirik ke belakang,"
"Heh, kenapa?" Aster menatap lelaki itu penasaran.
"Jangan banyak tanya. Turuti saja apa yang aku katakan!!" jawab Aiden menimpali.
__ADS_1
Aster pun menjadi semakin penasaran. Dia yakin ada sesuatu yang Aiden sembunyikan darimu, diam-diam diam melirik ke belakang dan Aster menemukan seorang lelaki berjalan mengekor di belakang mereka. Dia terlihat sangat mencurigakan.
Melihat bahaya mungkin mengintainya dan lelaki disampingnya ini. Tentu Aster pun tak tinggal diam, perempuan itu tiba-tiba berbalik badan dan langsung menyergap laki-laki itu. Karena terlalu tiba-tiba, Gerry pun tak sempat menghindar.
"Katakan, kenapa dari tadi kau mengikuti kami?!" tanya Aster tanpa basa basi. Dia merebut belatii milik Gerry dan mengarahkan ke lehernya. Tubuh Gerry terhimpit pada sebuah pohon besar dan berdaun lebat.
"Le..Lepaskan, kau membuatku tidak bisa bernapas!!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memberitahuku kenapa kau mengikuti kami!!" Jawabnya menimpali.
Aiden menghampiri mereka berdua. Bukannya dia tidak sigap, namun dia waspada. Aiden takut jika bertindak sembarangan akan membuat Aster terkejut dan panik. Namun sungguh di luar dugaannya, Aster malah bertindak dengan cepat. Bahkan saat ini Gerry dibuat tak berkutik olehnya.
"Katakan, kenapa kau ikuti kami?!" Aster bertanya sekali lagi. Karena tak ada jawaban dari Gerry.
"Kau perempuan gila ya?! Memangnya atas dasar apa aku mengikuti kalian berdua, jangan asal menuduh!! Kau itu tidak memiliki bukti apa-apa!!"
"Kau ini bodoh atau bagaimana sih?! Hanya melihat gelagatmu saja, orang pasti langsung tahu jika kau ini memiliki niat buruk!!" Aster tak mau kalah.
Aiden menarik Aster untuk menjauh dari Gerry. Dia tidak akan mengaku meskipun Aster menekannya berkali-kali. Aiden menatap lelaki di depannya dengan dingin dan penuh intimidasi. Membuat Gerry sampai menelan ludah berkali-kali.
"Aku hanya akan bertanya sekali ini saja. Kenapa kau mengikutiku dan dia, siapa yang menyuruhmu?!" tanya Aiden. Suaranya dingin dan datar.
"A..Aku~"
"Terlalu membuang banyak waktu!!"
"UGGHHH!!"
Aster menendang perut dan ******** Gerry dengan sangat keras, karena dia sudah sangat kesal pada lelaki itu. Dia begitu bertele-tele dan terlalu membuang banyak waktu. Akibatnya salah satu telornya pecah. Gerry merosot turun lalu berguling-guling di tanah akibat rasa sakit yang luar biasa pada burung perkututnya.
"Nah, begini kan beres."
-
-
__ADS_1
Bersambung.