I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 44: Seorang Iblis


__ADS_3

"OMO, OMO, OMO!! Nunna ada apa denganmu? Kenapa cara jalanmu aneh begitu?"


Kedatangan Aster disambut sebuah pertanyaan oleh Aileen. Pemuda itu menatap bingung pada kakak iparnya yang berjalan sedikit mengangkang. "Ih, dasar kepo!!" Jawab Aster menimpali.


"Dasar jahat, aku bertanya baik-baik kenapa kau jawabnya menyebalkan sekali!! Kenapa kalian semua sangat tega padaku yang tampan dan imut sekali!!" Aileen mempoutkan bibirnya.


"Hufft," Aster menghela napas. Malas berdebat dengan adik iparnya, Aster memilih pergi ke dapur.


Setibanya di dapur, Aster melihat para pelayan sedang sibuk menyiapkan sarapan. Namun di antara tiga pelayan itu, ada satu pelayan yang terlihat mencurigakan. Dari gelagat dan gerak-geriknya sangat jelas terlihat jika ada yang tidak beres dengannya.


Penasaran apa yang tengah dilakukan oleh pelayan tersebut, Aster pun memutuskan untuk mengawasinya secara diam-diam. Karena dia sangat yakin, jika pelayan itu memiliki niat yang tidak baik.


"Untuk dagingnya, jangan lupa beri taburan biji wijen dan daun bawang," Ucap seorang pelayan senior pada pelayan junior yang menjadi perhatian Aster sedari tadi.


"Ba..Baik, senior."


Diam-diam pelayan itu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Saat tak ada yang menyadarinya, dia menaburkan sesuatu ke makanan tersebut, dan selanjutnya dia menaburkan wijen ke atas hidangan daging yang nantinya akan menjadi menu utama sarapan untuk Aster, Aiden dan Aileen.


"Benar-benar tidak beres, tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan menghabisimu!!" kemudian Aster berbalik dan pergi begitu saja.


Wanita itu menghampiri Aiden yang sedang berganti pakaian. Alis lelaki itu saling bertautan melihat ekspresi istrinya yang tampak tak beres tersebut. Kemudian Aiden berbalik dan menatap Aster penuh tanya.


"Ada apa? Kenapa mukamu seperti pakaian belum disetrika? Apa terjadi sesuatu?" Aiden menatap sang istri penasaran.


Aster mengangguk. "Pelayanmu ada yang tidak beres. Saat aku hendak pergi ke dapur. Aku melihat gelagatnya yang sangat mencurigakan. Kemudian aku mengawasinya dan menemukan dia menaburkan sesuatu ke dalam salah satu hidangan daging. Sepertinya dia berencana membunuh kita bertiga!!" Jelas Aster menimpali.


Mendengar apa yang Aster katakan, sepertinya keadaan belum baik-baik saja. Aiden pikir setelah kematian Shilla, ia bisa menjalani hidupnya dengan tenang bersama Aster. Tapi sepertinya tidak, karena bahaya masih mengincar mereka. Untuk itu Aiden harus segera mengambil tindakan.


"Masalah ini biar aku yang menyelesaikannya, kau tidak perlu ikut campur. Segera panggil Aileen, kita sarapan sama-sama."


Aster mengangguk. "Baiklah."


Dia menjadi sangat penasaran bagaimana Aiden akan menangani pelayan itu. Pelayan seperti itu memang perlu ditindak dengan cepat supaya orang-orang seperti dia tak semakin merajalela. Dan Aster tidak tahu bagaimana nasib pelayan itu selanjutnya.


-


-


"Ma, Pa. Aku ingin segera menikah!!"


Gerakan tangan Jessica terhenti setelah mendengar permintaan gila yang keluar dari bibir putra bungsunya. Apa dia tidak salah dengar? William baru saja mengatakan jika dia ingin menikah.


Glukk..


Susah payah William menelan salivanya melihat aura suram ibunya. Apakah dia salah bicara? William rasa dia tak melakukan kesalahan apapun, dia hanya mengatakan ingin menikah.

__ADS_1


"Ma, kenapa ekspresimu menyeramkan sekali? Memangnya aku salah bicara, perasaan tidak!! Aku cuma ingin menikah dan Mama malah ingin menelanku!!"


"Dasar anak tau tau diri. Sebenarnya sifat siapa sih yang menurun padamu. Suka membuat onar, bodoh gak ketulungan. Kenapa tak ada satupun sifat Mama dan Papa yang menurun padamu, William!!"


"Ma, kenapa kau malah mengomeliku? Kalau semua remaja seusiaku baik dan kalem, lalu siapa yang nakal?! Terus kalau semua orang pintar, lalu siapa yang bodoh? Dunia ini jadi tidak seimbang. Jadi yang nakal dan baik harus seimbang, begitupula dengan yang bodoh dan yang pintar."


Jessica memijit pelipisnya. Kepalanya sedikit pening karena putranya ini, kenapa dia harus melahirkan bocah tidak berguna seperti William? Bukan berarti Jessica menyesal karena telah melahirkan putranya tersebut, tetapi dia menyesali kebodohan dan kenakalannya.


"Kau benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Mulai sekarang Papa akan mencabut semua fasilitas milikmu dan memotong uang jajanmu. Jangan harap kau bisa mendapatkannya kembali semua fasilitas itu, kecuali kau merubah sifat burukmu dan mendapatkan ranking satu!!"


Sontak kedua mata William membulat sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh sang ayah. "APA?! SEMUA FASILITASKU DICABUT?!" William memekik keras. "Jangan, Pa. Jika semua fasilitasku di cabut, lalu bagaimana aku bisa hidup. Ma, tolong bicara pada, Papa." Rengek William memohon.


"Mama tidak bisa membantumu apa-apa. Karena Mama juga mendukung keputusan papamu, jika ingin semua fasilitasmu kembali, kau harus belajar dengan giat. Tidak perlu diposisi pertama, cukup dengan masuk tiga besar. Buat kami bangga dengan prestasimu, bukan dengan kenakalanmu!!"


-


-


Tubuh wanita itu gemetar ketakutan ketika melihat senjata api yang Aiden todongkan padanya. Tubuhnya terikat hingga tak mampu bergerak sama sekali.


"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku, dan aku hanya memberimu satu kali kesempatan untuk bicara. Katakan dengan jujur siapa yang memerintahkanmu untuk memasukkan bubuk racun di dalam makanan itu?"


Pelayan itu menggeleng. "Ti..Tidak ada, Tuan. Itu atas keinginanku sendiri. Kau telah membuatku kehilangan satu-satunya keluarga yang aku miliki. Untuk itu aku ingin kalian semua mati dan menyusulnya!!"


Aiden mengangkat alisnya dan menatap perempuan itu tanya. "Maksudmu?"


"Oh, jadi kau ingin menuntut kematian adikmu?! Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, atau sebaiknya kau saja yang menemani perempuan itu di neraka?!" Aiden menyeringai tajam.


Glukk!!


Susah payah wanita itu menelan salivanya mendengar apa yang baru saja Aiden katakan. Wanita itu menggeleng, dia tak ingin mati dan belum siap mati. "Ja..Jangan, tolong jangan membunuhku. Aku masih ingin hidup lebih lama di dunia ini, aku salah dan untuk itu maafkan aku!!"


"Tidak ada kata maaf untuk orang sepertimu. Kau... Harus mati!!"


Aster yang baru saja tiba di kejutkan dengan suara tembakan yang di lepaskan oleh suaminya. Aiden membunuhnya, dia benar-benar membunuhnya.


Tubuh Aster sampai gemetaran melihat insiden mengerikan tersebut. Meskipun dia adalah putri mantan Bos mafia dan ketua gangster, tapi melihat pembunuhan di depan matanya ini baru pertama kalinya. Dan pelakunya adalah suaminya sendiri.


"Aster!!" Aiden menahan tubuh Aster yang hampir roboh. "Kau kenapa?"


"Kau mengerikan, bagaimana bisa kau menghabisinya seperti menghabisi binatang saja?!"


"Karena dia memang layak untuk dihabisi. Karena jika dibiarkan tetap hidup, bisa jadi dia berulah lagi dan membahayakan banyak orang. Dan aku tidak terima jika kau menjadi salah satu target dari rencana pembunuhannya!!"


Aster memukul dada suaminya. "Aku tidak tau, harus merasa senang atau malah sebaliknya. Karena yang aku nikahi adalah seorang Iblis!!"

__ADS_1


"Kau terlalu banyak bicara. Ayo, kita pergi dari sini."


"Lalu bagaimana dengan dia?"


"Biar Tao yang mengurusnya, kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kau pucat, jadi perlu asupan penambah darah!!" Aiden mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya meninggalkan ruangan tersebut.


Kemudian wanita itu memeluk leher suaminya sambil menatap wajah tampannya. "Apa itu artinya kita akan bercocok tanam lagi? Melanjutkan yang semalam?"


Aiden menggeleng. "Tidak!! Aku tidak mau membuatmu semakin kesulitan berjalan. Jika kita melanjutkan yang semalam. Bisa-bisa kau jalan ngesot!!"


Aster mempoutkan bibirnya. "Dasar jahat!! Lagipula aku tidak bisa jalan itu karena kau pelaku utamanya. Tapi anehnya aku malah menyukainya,"


"Dasar kau ini, kenapa bicaramu semakin lama semakin ngelantur saja?! Istirahatlah di kamar. Aku ada pertemuan penting siang ini, jika kau bosan di rumah terus. Kau bisa pergi mengunjungi Mama,"


"Ya, memang itu rencanaku."


-


-


"Mama, aku datang!!"


Suara nyaring itu menyita perhatian seorang wanita yang sedang sibuk dengan mawar-mawarnya. Dengan senyum tak pudar dari bibirnya, ibu dua itu kemudian pergi untuk menyambut kepulangan putrinya.


"Aster," serunya lalu memeluk sang putri. "Kau ini, sejak menikah kenapa jadi jarang pulang dan mengunjungi kami?! Malah Aiden yang sering kemari!!"


"Maaf, Ma. Akhir-akhir ini aku memang agak sibuk. Belum lagi aku yang kesulitan berjalan karena perbuatan menantu kesayangan kalian itu. Hampir setiap pagi dia membuatku tidak bisa berjalan setelah di gempur semalaman!!"


Mata Jessica sedikit membulat mendengar apa yang diucapkan oleh putrinya. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Aster."Dasar kau ini, kenapa bicaramu jadi ngawur begini!! Tapi tidak apa-apa,siapa tau setelah ini kau memberi kami cucu!!"


"Masalah cucu Mama tenang saja. Cepat atau lambat kami pasti akan segera memberikannya pada kalian. Ngomong-ngomong dimana William dan Papa?"


"Papamu ada pekerjaan di luar kota. Sedangkan William ada di kamarnya. Bocah itu sedang ngambek gara-gara semua fasilitasnya di cabut oleh Papamu!!"


"Pasti dia berulah lagi?" Tebak Aster 100% benar.


Jessica mengangguk. "Ya, dia minta dinikahkan dengan segera. Dan tentu saja kami emosi mendengarnya. Bukannya belajar dengan sungguh-sungguh malah minta menikah!!"


Aster menghela napas. "Tidak William, tidak Aileen. Mereka sama-sama tidak ada yang beres. Ma, aku lapar. Aku rindu masakanmu, ayo cepat masakan untukku."


"Dasar kau ini. Sudah menikah tapi sikap manjamu belum hilang juga!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2