
"Mama, aku pulang,"
Seruan nyaring itu mengalihkan perhatian Jessica yang sedang sibuk memasak di dapur. Tanpa melihat siapa yang datang, tentu saja dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Dan pemilik suara itu sekarang muncul di dapur.
Orang itu menghampiri Jessica. "Tumben, Mama masak banyak sekali hari ini. Tidak biasanya, mungkinkah akan ada tamu yang datang?" tanya Aster memastikan. Dia menatap sang ibu dengan penasaran.
"Ya, papamu mengundang seseorang untuk datang dan makan malam di sini. Dan dia berencana untuk menjodohkanmu dengan tamunya itu,"
Sontak Aster menoleh dan menatap sang ibu dengan pandangan bertanya. "Maksud Mama apa? Papa ingin menjodohkanku dengan tamunya? Yang benar saja, Ma. Ini sudah jaman modern, jadi jodoh menjodohkan sudah tidak berlaku lagi!!" Ucap Aster menegaskan.
Jessica menggeleng. "Siapa bilang jodoh menjodohkan sudah tidak berlaku lagi di jaman modern. Hal ini booming lagi lho, sedang menjadi trending dan viral saat ini." Jawabnya.
"Mama ngawur ya?! Mana ada menjodohkan menjadi trending dan viral. Mama aneh-aneh saja deh. Lagi pula apakah Mama dan papa bisa menjamin aku hidup bahagia setelah menikah dengan orang yang tak aku kenal sama sekali? Bukan, tapi suami hasil mulung dari jodoh menjodohkan!!"
Jessica menjitak gemas kepala putrinya. Padahal Steven berniat baik mencarikan jodoh yang tepat untuknya, tapi tanggapan Aster sungguh sangat menjengkelkan. Tetapi Jessica juga tidak bisa menyalahkan putrinya karena sebenarnya dia memiliki hak untuk memilih jodohnya sendiri.
"Sebenarnya perjodohan itu masih bisa batal. Tetapi dengan satu syarat, kau harus bisa membawa seorang calon suami ke rumah ini dan memperkenalkan pada kami kami berdua. Bagaimana, apa kau berani menerima tantangan dari Mama?"
"Oke, siapa takut. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Aku pasti bisa membawa calon suamiku ke rumah ini dan memperkenalkannya pada kalian berdua!!" Ucap Aster dengan mantap dan penuh keyakinan.
"Deal, Mama tunggu kau datang membawa calon suamimu. Kalau begitu Mama akan memberitahu papamu supaya membatalkan rencana makan malam ini," Jessica melepaskan celemeknya dan beranjak dari hadapan putrinya.
Sementara itu, Aster langsung panik. Jangankan calon suami, teman dekat saja Dia tidak punya lalu dimana dia harus mencari dan menemukan calon suami dalam waktu dua puluh empat jam. Aster sudah menempatkan dirinya sendiri dalam masalah besar.
Gadis itu terus mondar-mandir sambil menggigit ujung kukunya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika sedang panik ataupun gugup. Saat ini otaknya sedang bekerja keras untuk mencari cara agar dirinya bisa menemukan seseorang yang bisa membantunya keluar dari masalah pelik ini.
Tapi yang menjadi pertanyaannya, siapa yang bisa membantu dirinya namun tidak merugikan pada akhirnya. Dan setelah berpikir cukup lama, ada satu nama yang seketika terlintas di kepalanya. Aiden, hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantunya.
__ADS_1
"Ya, benar sekali. Aiden, sepertinya aku tidak memiliki cara lain selain meminta bantuan padanya." Membuang banyak waktu, Aster pun bergegas pergi untuk menemui pria tersebut.
-
-
Disebuah taman yang tak jauh dari Z Empire. Terlihat seorang perempuan muda yang sedari tadi terus mondar-mandir tidak jelas sambil menggigit ujung kukunya. Sesekali dia melihat kearah jalan, tapi orang yang tunggu-tunggu dari tadi belum datang juga. Padahal sudah lebih dari 15 menit dia menunggu.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di~'
"Yakk!! Kenapa malah tidak aktif?!" perempuan itu berteriak karena nomor orang yang dia tunggu malah tidak aktif.
Dan baru saja dia hendak meninggalkan taman, kedatangan sebuah mobil mewah membuat dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Itu adalah mobil orang yang sedari tadi dia tunggu. Seorang lelaki tampan terlihat keluar dari mobil tersebut.
"Ada apa kau mengajakku bertemu disini?" Tanya lelaki itu pada gadis di depannya.
"Lalu apa hubungannya dengan kau meminta untuk bertemu denganku di sini?" Aiden menatap Aster penasaran.
"Ada, tentu saja ada hubungannya dengan aku memintamu untuk bertemu!!" Jawab Aster menimpali. "Aiden, please. Bantu aku ya, aku butuh dirimu untuk berpura-pura menjadi calon suamiku. Hanya sekali ini saja, ya. Please!!"
"Jadi kau memintaku untuk berpura-pura menjadi suamimu?" Aster mengangguk. "Jika aku membantumu, memangnya keuntungan Apa yang bisa aku dapatkan?"
"Apa saja, asal kau mau membantuku. Aku benar-benar tidak mau dijodohkan,"
Aiden menyeringai. Tentu saja bantuannya tidaklah gratis, dia pasti akan minta imbalan pada gadis ini. "Baiklah, aku akan membantumu!!" Ucapnya masih dengan seringai yang sama. Aster sendiri tidak tau apa maksud dari seringai itu, seringai Aiden terlalu misterius.
"Kalau begitu besok kita bertemu lagi. Sekarang aku pergi dulu."
__ADS_1
"Sudah larut malam, sebaiknya aku antar kau pulang." Aster mengangguk.
Dia tidak bisa menolaknya, ini sudah larut malam dan sangat sulit menemukan kendaraan di jam segini. Hingga Aster tak memiliki pilihan lain selain menerima ajakan Aiden. Lagian gratis, jadi mana bisa dia menolaknya.
-
-
"Shilla!!"
Langkah kaki wanita itu terhenti mendengar seseorang memanggil namanya. Lantas Shilla menoleh dan mendapati Gerry berdiri tak jauh darinya. "Bajingan itu?! Sedang apa dia disini? Aku benar-benar muak melihat mukanya!!" Ucap Shilla menggumam.
Gerry menghampiri Shilla dan langsung memeluknya. "Shilla, aku merindukanmu," Gerry sambil memeluk wanita itu dengan erat. Alih-alih membalas pelukan Gerry, Shilla malah mendorongnya dan memaksa pria itu untuk melepaskan pelukannya.
"Apa-apaan kau ini?! Berani sekali kau muncul di depan mataku dan memelukku setelah apa yang dulu aku lakukan padamu!!"
"Shilla, tahu aku salah. Untuk itu aku ingin meminta maaf padamu, Aku benar-benar menyesal telah menghianatimu dan memperlakukanmu dengan buruk. Shilla, maafkan Aku,"
"Tidak, aku tidak bisa memaafkanmu!! Kesalahanmu sudah terlalu besar padaku, dan semua yang telah kau lakukan padaku benar-benar tidak bisa termaafkan!!" Balas Shilla menimpali.
"Apa sebegitu benci kau padaku? Apa tidak ada kesempatan untukku untuk memperbaiki semuanya, dan kita memulainya kembali dari awal? Shilla, Aku benar-benar menyesal."
Shilla memicingkan matanya. Seringai tercetak dibibir merahnya. Sepertinya tidak ada salahnya memanfaatkan lelaki ini untuk mencapai tujuannya. "Baiklah, aku akan memberimu satu kali kesempatan. Tapi dengan satu syarat. Bantu aku menyingkirkan seseorang!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.