I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 59: Selalu Membahagiakanmu


__ADS_3

Suara tangisan bayi di tengah malam membangunkan Aiden dari tidur nyenyaknya, buru-buru iya turun dari tempat tidur dan mendapati Putri kecilnya tengah menangis kencang. Melihat Aster yang sedang tertidur pulas membuat Aiden tak tega untuk membangunkannya, dia tahu jika istrinya itu pasti sangat kelelahan.


Sepertinya Putri kecilnya itu sedang kehausan, dan itulah yang membuatnya menangis kencang. Tak harus membangunkan Aster, jika hanya untuk membuat susu saja Aiden juga bisa melakukannya.


Sadar Aiden tak ada disampingnya. Aster kemudian terbangun dan terkejut mendapati Aiden yang sedang menimang putri kecil mereka. "Aiden, kenapa kau tidak membangunkanku?" ucap Aster seraya bangkit dari berbaringnya.


"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkan." Jawabnya.


"Berikan Bulan padaku, kau kembalilah tidur." Pinta Aster.


Aiden menggeleng. "Biar aku saja yang menidurkannya kembali, kau terlihat lelah, sebaiknya kau tidur lagi."


Melihat Aster yang mengurus putri Mereka seorang diri membuatnya merasa tidak tega, hanya ketika malam hari dia bisa membantu meringankan pekerjaannya agar Aster bisa memiliki waktu tidur yang cukup.


"Kau yakin?" Aiden mengangguk.


Membiarkan Aiden mengurus Bulan yang terbangun, aster pun kembali tidur. Sebenarnya matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, tetapi karena kewajibannya Aster pun tetap bangun meskipun fisiknya terasa lelah.


Dan setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya Bulan tidur kembali. Bayi mungil nan cantik itu kembali tertidur pulas, dan setelah meletakkan Bulan di boks bayinya, Aiden melanjutkan kembali tidurnya yang sempat tertunda.


.


.


Suara cicit burung menyambut datangnya pagi, sang Penguasa hari telah merangkak naik menuju singgasananya. Sinyalnya yang agung telah sampai di garis Cakrawala. Malam yang dingin telah berlalu, tergantikan oleh pagi yang hangat.


Di sebuah Mansion mewah yang memiliki tiga lantai, seorang wanita terlihat sibuk memandikan bayi kembarnya. Berbeda dengan orang-orang kaya pada umumnya yang selalu memakai jasa baby sister untuk menjaga anak-anaknya, dia Justru lebih suka melakukannya sendiri.


Aster, adalah seorang ibu muda yang baru saja melahirkan sepasang bayi kembar. Bulan dan Bintang , adalah nama kedua buah hatinya. Nama yang diambil dari penguasa siang dan malam.

__ADS_1


"Perlu bantuan," di saat ia sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba Aiden datang dan menawarkan bantuan.


"Aku baru saja selesai memandikan, Bulan. Kau jaga dia sebentar, karena Bintang belum mandi." ucap Aster tanpa menatap lawan bicaranya.


Dan beginilah kesibukan Aster setiap pagi sejak dia menjadi seorang ibu. Dan Aiden selalu ada untuk membantu dan meringankan pekerjaannya. Aster sungguh sangat beruntung memiliki suami seperti Aiden, dia selalu peduli padanya.


"Bagaimana jika kita menyewa jasa baby sitter saja, melihatmu sibuk dan kelelahan membuatku tidak tega." Aidan mencoba memberikan saran pada Aster.


Ibu dua anak itu menggeleng. "Tidak perlu menyewa jasa baby sitter, selama aku masih mampu melakukannya sendiri aku tidak butuh tenaga mereka. Lagi pula aku menikmati kesibukanku saat ini, meskipun sangat melelahkan tetapi mengurus mereka berdua membuatku sangat bahagia." Jawab Aster menimpali.


Bukan rahasia lagi jika after memang sangat keras kepala. menghadapi sikap keras kepalanya terkadang membutuhkan kesabaran ekstra, dan aidin sudah sering mengalaminya.


"Dasar keras kepala, baiklah terserah kau saja. Aku tidak akan memaksamu." Dan apapun keputusan Aster, Aiden selalu menghargainya. karena sebagai seorang suami tugasnya adalah mendukung keputusan istrinya, selama itu baik Aiden tak akan mempermasalahkannya.


"CUCU-CUCUKU, GRANDMA DATANG!!"


Teriakan nyaring dari teras depan mengalihkan perhatian keduanya. Aster menghela nafas, itu adalah suara ibunya. Dia begitu heboh setiap kali datang ke rumahnya. dan Aster berani bersumpah jika bagasi mobil penuh dengan barang-barang yang Jessica bawa untuk kedua cucunya.


"Bulan, Bintang."


Jessica segera mengambil alih si kembar dari tangan Aster ketika melihat kedatangan kedua cucunya. Aster membawa kedua buah hatinya menggunakan stroller karena tak mungkin ia menggendong mereka berdua di kedua tangannya.


Sebenarnya Jessica tak hanya datang sendirian, dia datang bersama Steven. Karena sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan si kembar, makanya dia meninggalkan suaminya itu di luar dan masuk duluan.


"Ma, dimana Papa?" Aster menatap ibunya penasaran, pasalnya dia hanya masuk sendirian tanpa ayahnya.


"Oh, papamu ya. Mama meninggalkannya di luar." jawab Jessica menimpali.


Aster mendengus berat, dia sudah menduganya. Ibunya mendadak amnesia setiap kali datang ke rumahnya, dan apalagi perkaranya jika bukan si kembar.

__ADS_1


"Jess, sebenarnya toko pakaian mana lagi yang kau rampok hari ini. Lihatlah pakaian dan boneka-boneka ini, mereka masih bayi tetapi kenapa kau malah heboh sendiri!!"


"Ya Tuhan!!"


Aster memekik keras melihat ayahnya masuk sambil membawa beberapa paper bag yang di dalamnya berisi pakaian-pakaian bayi. Tanpa perintah dari siapapun, Aiden menghampiri ayah mertuanya dan membantunya membawa barang-barang tersebut.


"Ma, kenapa kau semakin keterlaluan saja? Kan kasihan Papa jika harus membawa barang-barang sebanyak itu. Dia sudah semakin tua, bagaimana jika terkena encok nantinya." Ujar Aster.


Senyum di bibir Steven pudar seketika setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya. Awalnya dia sudah sangat senang karena dibela oleh Aster, tapi ternyata dia malah dijatuhkan ke dasar jurang setelah diangkat ke atas awan.


"Dasar putri durhaka. Papa pikir kau berada di pihakku, ternyata kau sengaja mengangkat Papa dan menerbangkan ke atas awan lalu menjatuhkannya ke dasar jurang. Tidak dirimu, tidak mamamu, kalian berdua sama saja!!" Steven mendesah berat.


Aster dan Jessica saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu. Meskipun sempat merasa kesal, tetapi melihat senyum di bibir mereka berdua membuat Steven ikut tersenyum juga. Dia bahagia, melihat kebahagiaan mereka berdua.


Kemudian Aster meninggalkan si kembar bersama nenek dan kakeknya, dia menghampiri Aiden lalu berdiri di sampingnya.


"Kau lihat itu, Ai. Melihat senyum di wajah mereka berdua membuat hatiku menghangat. Mereka terlihat sangat bahagia, dan aku harap kebahagiaan seperti ini bisa berlangsung selamanya." Aster mengangkat wajahnya dan menatap Aiden sambil tersenyum.


Kemudian Aiden membawa wanita itu ke pelukannya. "Ya, itu juga yang aku harapkan. Dan aku berjanji akan membuat kalian selalu tersenyum dan bahagia. Tak akan kubiarkan duka menghampiri keluarga kita," Aiden kemudian mengecup singkat kening Aster. Wanita itu menutup rapat-rapat kedua matanya. Lalu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aiden.


Bertemu dengan Aiden bukanlah sebuah kebetulan. Tetapi takdir yang telah Tuhan tentukan. Tak ada penyesalan untuk sebuah cinta. Meskipun pada awalnya pernikahan mereka berawal dari sebuah perjodohan. Namun dari perjodohan itukah akhirnya Aster bisa menemukan cinta sejatinya.


"Aku mencintaimu, Aster Nero." bisik Aiden lalu mengecup kening Aster.


"Nado."


.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2