I Love You Duren Impoten

I Love You Duren Impoten
Bab 36: Telor Gosong


__ADS_3

"Malam ini kita akan bermalam di sini. Kita tidak bisa kembali ke Seoul karena perkiraan cuaca yang buruk,"


"Tidak masalah, toh di sini juga sangat nyaman. Aku menyukai tempat ini, dan aku betah disini." Ujar Aster menimpali.


Cuaca sore ini memang sangat tidak bersahabat, langit tampak mendung dan awan hitam menggantung di langit. Menandakan jika hujan akan segera turun, dan sangat berbahaya mengendarai mobil di cuaca seperti ini. Terlebih-lebih hari sudah mulai petang.


"Apa kau lapar? Bagaimana jika aku membuat makan malam untuk kita berdua?" Tawar Aster memberi usul.


Sontak Aiden menoleh. "Kau yakin ingin memasak untuk makan malam? Bukankah kau ini sangat payah dalam urusan memasak, aku tidak mau sampai keracunan saat memakan makanan yang kau masak!!"


Aster mendecih dan menatap Aiden sebal."Dasar kulkas berjalan. Apa kau meragukan kemampuanku dalam urusan masak memasak?! Aku ini bisa disebut ahli dan jago. Seperti jago masak air, jago masak mie instan, jago membuat telor mata sapi. Bagaimana? Aku hebat kan, seharusnya kau bangga bisa memiliki istri sehebat diriku!!"


Aiden mendengus berat. Jika hanya memasak air, merebus mie dan membuat telur mata sapi, anak kecil juga tentu bisa. Lalu apa yang perlu dibanggakan dari ketiga hal tersebut?! Aiden benar-benar tidak mengerti sama sekali.


"Tidak perlu. Sebaiknya kita memesan dari luar saja!!"


Aster menggeleng. "Tidak, tidak!! Kita tidak perlu memesan dari luar, biar aku sendiri saja menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Biarkan aku belajar untuk menjadi istri yang baik untukmu, untuk itu jangan halangi aku menyiapkan makan malam." Aster memohon.


Aiden menghela napas. Sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkan Aster melakukannya. Karena jika tidak, pasti dia akan tetap merengek seperti bocah. "Baiklah, aku mengijinkannya. Aku ingin makan telor mata sapi," Aster tersenyum lebar. Gadis itu mengangguk dengan antusias.


Dengan semangat, Aster pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Meskipun dia sendiri tak yakin dengan hasilnya. Setidaknya ia sudah mencoba.


.


.


Sudah lebih dari tiga puluh menit Aster berada di dapur. Karena tak dapat membendung rasa penasarannya, akhirnya Aiden pun memutuskan untuk melihatnya dan dia menemukan Aster yang sedang memasak telur mata sapi dengan susah payah.


Dengan jelas, lelaki tersebut dapat melihat beberapa telur mata sapi gosong yang berjejer di meja makan. Ia dapat menyimpulkan bahwa gadis itu sudah beberapa kali gagal dan terus mencoba, dan akhirnya menimbulkan suara yang luar biasa bisingnya.


"Yakkk … gosong lagi." Pekik Aster terdengar keras.


Sepertinya gadis itu belum menyadari kehadiran Aiden di belakangnya. "Apinya terlalu besar."


"OMO!!" Aster nyaris melompat karena kaget saat suara Aiden tiba-tiba terdengar di belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati suaminya itu memasang wajah datar seraya bersandar pada pintu dapur.


"Eh? Iya kah?" Aster mengecilkan api pada kompornya dan mulai mencoba memasak lagi. Aiden mendengus kemudian mengambil tempat di meja makan.


"Jidatmu lebar, tapi ternyata ottakmu sempit."


"Kurrang ajar kau!" Aster berbalik dan mengacungkan spatulanya pada Aiden. "Kau sebaiknya berhenti memasang wajah sok ganteng!"


"Kenapa? Aku memang ganteng."


"Ganteng dalam mimpi!"


"Yang kebanyakan bermimpi itu adalah kau, buktinya jidatmu lebar."

__ADS_1


"Apa hubungannya, bodoh?!"


"Tentu saja ada hubungannya. Otakmu yang sempit itu tidak bisa menampung khayalanmu yang terlalu banyak, makanya semua khayalan itu lari ke jidat."


"A-apa?! Kau menyebalkan! Mana bisa seperti itu!"


"Tentu saja bisa."


"Dasar Zhang gilla!"


"Dasar boddoh, kau sekarang juga Zhang."


Dan karena terlalu serius berdebat. Sampai-sampai Aster lupa pada telurnya yang masih ada di atas wajan. Sampai akhirnya dia mencium aroma yang menyengat. "Yakk! Telurnya gosong lagi!" teriaknya dengan nada histeris.


"Kau memang bodoh."


"Berhenti bicara, manusia kulkas!" Aster dengan terpaksa mengangkat telur gosong tersebut, meletakkannya bersama telur gosong sebelum-sebelumnya. Ahh … sepertinya percuma saja. Dia tidak pandai memasak. Dan sepertinya tidak akan pernah pandai.


"Semua telornya gosong dan tak tertolong. Kai pasti tidak mau memakannya kan? Tidak ada pilihan lain, sebaiknya kau makan malam saja di luar." Aster tersenyum miris. Ia menatap rentetan telur gosong tersebut dan menghela napas.


"Aku bilang juga apa, kau terlalu memaksakan diri!!"


Aster mendesah berat. "Maaf, aku tidak berhasil." Ia mulai membereskan telur gosong tersebut, sayang sekali semuanya harus dibuang. Ada empat telur gosong yang harus ia buang. "Maaf, aku harus membuang kalian,"


"Tunggu!" Aster menghentikan pergerakannya.


Kemudian Aiden berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri gadis itu. Aster tampak kebingungan. Aiden meraih piring yang berisi empat telur gosong tersebut dan meletakkannya kembali ke meja.


"Tentu saja memakannya," ucap pemuda itu dengan santai.


"E-eh? Tapi … itu kan gosong!" Aiden menatap Aster yang mencegahnya.


"Sudahlah, jika kau tidak mau memakannya, sebaiknya kau duduk dan diam saja di situ. Dasar cerewet." Aiden menggigit roti tersebut, seketika raut wajahnya berubah masam."Pahit," komentarnya, namun ia masih terus melanjutkan makannya.


"Aiden …" Aster bergumam. Ia terharu. Akhirnya ada orang yang mau memakan masakannya selama ia hidup. Walau gosong dan terasa pahit, tapi Aiden tetap mau memakannya. Dan itu membuatnya terharu.


Melihat Aiden tampak tenang ketika memakan telor tersebut menjadi penasaran. Kemudian dia mengambil sepotong roti dan memakannya dengan telur. Ia nyaris memuntahkan makanannya saat telur gosong tersebut menyentuh indra pengecapnya.


Pahit. Sungguh tidak enak. Aster nyaris saja muntah. Makanan di depannya bisa membunuhnya saat itu juga. Tapi Aiden tetap memakannya. Walau bergumam 'pahit' berkali-kali, tapi dia tetap memakannya dengan lahap seolah tak ada beban. Diam-diam Aster menarik sudut bibirnya. Dia senang Aiden menghargai usahanya.


-


-


"Hoekkk!!"


Setiap orang yang berpapasan dengan Aileen nyaris muntah ketika mencium aroma tidak sedap menguap hari tubuh pemuda itu. Sesekali Aileen mencium aroma tubuhnya sendiri, sama seperti mereka, dia pun ingin muntah.

__ADS_1


Bukan karena Aileen tidak mandi selama berhari-hari. Tetapi karena dia pulang dengan menumpang pada mobil pengangkut ayam. Dan Aileen duduk dibelakang bersama ratusan ayam-ayam tersebut.


"Tuan Muda, sebenarnya apa yang terjadi pada Anda? Kenapa tubuh anda aromanya sangat tidak sedap?"


"Jangan banyak tanya. Sebaiknya segera siapkan air untuk mandi, jangan lupa beri taburan bunga juga. Aku sudah tidak tahan dengan bau ini. Huhuhu, aku harus menghilangkan aroma tidak sedap ini!!"


"Baik, Tuan Muda."


"Ini semua karena William. Jika saja dia tidak meninggalkanku tadi, aku juga tidak akan terjebak dengan ayam-ayam sialan itu. William, kau sungguh tidak setia kawan!!"


-


-


"Makananmu sungguh meracuniku."


"Kalau begitu lain kali tak usah dimakan!" Aster mengerucutkan bibirnya.


"Lain kali jangan sok pintar lagi, jelas-jelas sangat payah dalam hal memasak, tetapi tetap memaksakan diri!!"


"Bukan salahku juga, aku begitu karena ingin berbakti padamu. Aku ingin menjadi istri yang baik dan berguna!!"


"Aku menghargainya, dan aku akan lebih menghargai lagi jika kau tidak keras kepala dan terlalu memaksakan diri!!"


Aster menceritakan bibirnya. Kenapa suaminya ini semakin menyebalkan saja?! Saat ini mereka berdua sedang berada di balkon kamar. Berdiri bersebelahan untuk menikmati angin malam. Tak ada satupun bintang yang bisa mereka lihat malam ini, karena langit tertutup oleh awan hitam yang menggulung.


Tiba-tiba Aster menyandarkan kepalanya di bahu kanan Aiden, membuat lelaki itu sontak melirik kearahnya. "Malam ini lumayan dingin, bisakah kau memelukku sebentar saja? Aku agak kedinginan,"


"Dasar bodoh!! Sudah tau cuaca malam ini tidak bersahabat sama sekali, tapi masih memakai pakaian tipis seperti ini. Kau memang mencari gara-gara Aster Zhang!!"


Ini pertama kalinya Aiden memanggil Aster dengan marganya. Terdengar aneh memang, karena mereka berdua belum pecah duren. Namun bagaimanapun juga, Aster tetaplah bagian dari hidupnya sekarang, tulang rusuknya. Dan sudah seharusnya marga itu tersemat dibelakang namanya.


"Aku memang sengaja, karena aku berharap kau akan menghangatkanku." Aster tersenyum.


Aiden mengangkat dagu Aster lalu mencium bibirnya. Memangnya dan juga melumattnya, tak ada penolakan dari Aster. Dia justru menerima ciuman tersebut dengan baik. Aster mengangkat kedua tangannya yang kemudian dia kalungkan pada leher Aiden. Sadar Aster menyambut ciumannya, Aiden pun semakin memperdalam ciuman mereka.


Ciuman itu berakhir ketika Aster merasakan jika pasokan oksigen dalam paru-parunya sudah mulai menipis. Dia memberi kode pada Aiden dengan mukul dadanya. Paham apa yang diinginkan oleh istrinya, lalu Aiden melepaskan ciuman tersebut.


"Dasar payah, belum juga satu menit tapi sudah menyerah!!!" Aiden menyentil kening Aster.


"Bukan payah!! Tapi aku memang tidak berpengalaman sama sekali!!" Jawabnya menimpali.


"Hn. Sudah malam, sebaiknya kita masuk. Udaranya semakin dingin," Aster mengangguk. Keduanya kemudian berjalan ke dalam.


Cuaca malam ini memang tidak bersahabat sama sekali. Aster juga sudah kedinginan, jadi memang lebih baik masuk ke dalam daripada terlalu lama berdiam diri diluar.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2