
"Aiden!!'
Shilla, buru-buru menutup kembali pintu rumahnya setelah dia mengetahui siapa yang datang. Tapi sayangnya Aiden berhasil mencegah Shilla menutup pintu tersebut dengan menahannya.
Wanita itu menjadi sangat panik dengan kedatangan Aiden yang tiba-tiba. Tanpa bertanya lebih jelas sekalipun, tentu saja dia sudah tahu apa maksud kedatangan lelaki itu.
"Pe..Pergi kau dari sini!!"
"Bahkan aku belum memberitahumu apa maksudku datang kemari, tapi kau malah mengusirku, seperti sudah mengerti apa maksud dari kedatanganku kemari!!" Aiden menyeringai.
Ya, Aiden datang untuk membuat perhitungan dengan Shilla. Hampir saja wanita itu membunuh istrinya dengan sepotong dessert dan Aiden tidak terima. Sudah berkali-kali dia memberikan peringatan pada Shilla, tapi dia tetap tidak mau mendengarnya dan selalu melakukan kesalahan yang sama.
"Aiden, sebaiknya kau pergi sebelum aku memanggil polisi. Aku tidak main-main dengan ancamanku ini!!"
"Kau pikir aku juga main-main, aku sudah tidak bisa memberikan toleransi apapun lagi padamu!! Aku tidak masalahku menyakitiku, tapi aku tidak terima yang kau sakiti adalah istriku!!"
"Kenapa harus dia yang menjadi istrimu, kenapa bukan aku?! Aku yang lebih dulu menyukaimu, tapi kenapa justru orang lain yang bersanding denganmu. Aku tidak bisa menerimanya, untuk itu aku ingin wanita itu mati!!"
PLAKKK...
Sebuah tamparan keras mendarat mulus pada pipi Shilla. Wanita itu membulatkan matanya sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Aiden. Matanya berkaca-kaca, kemudian dia mengangkat kembali wajahnya dan menatap Aiden dengan pandangan tak percaya.
"Demi wanita jalan* itu bahkan sekarang kau berani menamparku?! Aiden, kau sangat keterlaluan!!"
Aiden mencekik leher Shilla lalu menghimpitnya di tembok. "Jangan pernah menyebutnya jalangg, brengsekk!!" memangnya suami mana yang rela jika istrinya disebut jalangg oleh wanita lain. Begitu pula dengan Aiden, dia benar-benar tidak terima ketika Shilla menyebut Aster dengan sebutan jalangg.
"A..Aiden, lepaskan!! Kau membuatku tidak bisa bernafas!!" susah payah Shilla mencoba melepaskan cekikan Aiden pada lehernya. Sepertinya Aiden benar-benar ingin membunuhnya.
Diam-diam Shilla mengambil vas bunga yang ada diatas meja. Dia harus bisa melepaskan diri dari cengkraman lelaki ini. Karena jika tidak, ia bisa mati kehabisan nafas. Dan Shilla masih belum mati. Shilla mengangkat vas itu dan...
Prakkk...
Shilla menghantamkan vas tersebut ke kepala Aiden dan membuat darah segar seketika mengalir dari keningnya. Tubuh lelaki itu terhuyung ke belakang, Aiden memegang kepalanya yang baru saja dipukul oleh Shilla. Dan situasi itu segera Shilla manfaatkan untuk melarikan diri, dia harus bisa kabur sebelum lelaki itu semakin lepas kendali.
Tapi sepertinya Aiden tak membiarkan Shilla kabur begitu saja. Dia menyambar piisau buah yang ada di atas meja lalu melemparkannya pada wanita itu.
"Aahhh..." Tubuh Shilla tersungkur di lantai setelah piisau tersebut menancap pada kaki kiri Shilla. "AAHHH!!" Shilla berteriak keras ketika Aiden menarik rambutnya hingga kepalanya mendongak ke belakang."Le..Lepaskan aku, brengsekk!!"
"Kau benar-benar sudah tidak bisa tertolong lagi, Shilla. Berkali-kali aku memberimu peringatan, tetapi kau selalu mengabaikannya. Berkali-kali kau mencoba mencelakai Aster, dan aku masih memberimu kesempatan untuk berubah. Tetapi sepertinya memberikan toleransi kepada wanita sepertimu tidak ada gunanya!!"
__ADS_1
"Ma..Mau apa kau?" Shilla ketakutan ketika melihat Aiden menodongkan senjata kearahnya. "Jangan berani-beraninya kau melepaskan tembakan itu jika tidak ingin membusuk dipenjara!!"
"Kenapa aku harus tidak berani?! Karena menghabisimu, adalah tujuanku!!"
"A...Aiden kau~"
"Selamat tinggal, Shilla!!" Aiden menyeringai.
Shilla menggeleng. "Aiden, aku mohon jangan!!" Ia memohon supaya Aiden tak membunuhnya. Tetapi Aiden melepaskan beberapa tembakan ke tubuhh Shilla hingga akhirnya dia meregang nyawaa.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Aiden meninggalkan Shilla yang sudah tak bernyawa. Bahkan dia tak takut jika akhirnya sampai diketahui oleh polisi lalu mereka menangkapnya. Lagi pula siapa yang berani berurusan dengan iblis seperti dirinya, karena mencari masalah dengannya sama artinya dengan bunuh diri.
Satu benalu telah teratasi. Semoga saja tidak muncul benalu-benalu lainnya, agar Aiden bisa menjalani hidupnya bersama Aster dengan tenang.
-
-
"Omo!! Apa yang terjadi pada kepalamu?"
Aster terkejut bukan main ketika melihat Aiden pulang dengan keadaan terluka. Keningnya terlilit perban dengan bercak darah tepat diatas alisnya. "I..Ini kenapa lagi? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini? Jangan bilang jika kau terlibat perkelahian lagi?" Aiden menggeleng. "Lalu?" Aster menatap suaminya dengan penasaran.
Sontak Aster mengangkat wajahnya dan menatap Aiden tak percaya. "Jangan bilang jika kau sudah menghabisinya?!" Aster menatap suaminya dengan penuh selidik.
Aiden mengangkat bahunya. "Hm, begitulah!!"
"Kau benar-benar iblis yang tak berperasaan, bagaimana bisa kau membunuh seorang wanita dengan menggunakanku sebagai alasan untuk melampiaskan kemarahanmu padanya!!"
Aster benar-benar Tak habis pikir dengan suaminya ini. Memangnya hatinya terbuat dari apa sampai-sampai dia begitu tak berperasaan.
"Tak berperasaan bagaimana? Jelas yang aku lakukan setimpal dengan apa yang dia perbuat padamu, dan kupastikan nasib pria itu sama sepertinya jika dia masih berani mendekatimu lagi!!"
Aster bergidik ngeri melihat sorot mata Aiden yang tajam dan berbahaya. Dan dia tahu ancaman itu Aiden tunjukkan pada siapa."Kau benar-benar mengerikan!!"
Bukannya marah mendengar cibiran istrinya, Aiden malah terkekeh geli melihat ekspresi Aster yang begitu menggemaskan. Tanpa berkata apa-apa, Aiden menarik lengan Aster dan mendorongnya ke atas tempat tidur.
"Aiden, apa yang kau lakukan?!" jerit Aster terkaget-kaget.
"Memberikan hukuman padamu!!" jawabnya menimpali.
__ADS_1
Sekarang giliran Aster yang terkekeh. Kemudian Aster mengangkat kedua tangannya lalu mengalunkan pada leher Aiden. "Jika hukumannya seperti ini, siapa yang bisa menolaknya?!" wanita itu menyeringai.
Aiden menarik tengkuk Aster lalu meluma* singkat bibir tipisnya yang menggoda.
"Sepertinya kau mulai ketagihan untuk bermain kuda-kudaan denganku?!" ucap Aiden sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. Dia menyeringai.
"Memangnya kenapa, tidak boleh? Toh, yang aku nikmati pisang milikku sendiri. Bukankah kau sendiri juga menyukainya, bagaimana kalau sekarang kita bercocok tanam?" Aster memberi usul. Sepasang biner Hazel-nya menatap Aiden penuh harap.
Aiden mendengus geli. Kembali ia menyerang Aster. Aiden kembali membenamkan bibirnya di bibir istrinya dan memagutnya seperti tadi. Tak ada penolakan apalagi perlawanan dari wanita itu, after menerima ciuman suaminya dengan senang hati. Karena memang ini yang dia harapkan.
Bibir Aster dan Aiden terus berbulat panas. Mereka saling memagut, meluma* dan menghisap.
Tak puas hanya sekedar mencium bibirnya saja, akses lebih dengan menekan bibir bawa Aster. Tau apa yang diinginkan oleh suaminya. Aster membuka bibirnya dan mempersilahkan lidah Aiden untuk menginvasi mulutnya.
Lidah Aiden mulai mengobrak-abrik isi mulut Aster. Mulai dari menyapu dinding rongga mulutnya, mengabsen deretan gigi putihnya, saling bertukar saliv* dan sesekali mereka membelitkan lidah. Benar-benar ciuman panas dan sangat mengaira*kan.
Setelah puas dengan bibir Aster. Kemudian ciuman Aiden turun menuju leher jenjangnya. Beberapa tanda kepemilikan dia tinggalkan di sana. Kemudian ciuman itu semakin turun dan turun lagi menuju dadanya.
"Aaahhh..."
Desa* kenikmatan meluncur dari sela-sela bibir Aster ketika Aiden meremas salah satu bukit kembarnya sambil memainkan biji anggurnya. Membuat bagian bawahnya berkedut tak nyaman, dia ingin agar Aiden segera memasukinya.
"Aaahhh... A.. Aiden. He..He..Henti..Kan!!" Rancau Aster. Dia mulai merasakan mati rasa ketika mulut Aiden ikut bermain di bukit kembarnya.
Jari-jarinya meremas rambut Aiden dengan kepala ia dongakkan ke atas. Aiden benar-benar tau bagaimana caranya membuat dirinya senang. Dan setelah puas, Aiden kembali ke bibir Aster dan melu-matnya seperti tadi.
"Apa kau sudah siap?" Aster mengangguk.
"Kita akan bermain-main sebentar lagi. Dan setelah ini ku pastikan kau akan terus-menerus menyerukan namaku hingga pagi." Bisik Aiden menyeringai.
Malam yang terasa dingin untuk orang lain justru terasa panas untuk mereka berdua. Dan malam ini akan mereka lewati dengan penuh kehangatan.
-
-
Bersambung.
Halo riders tersayang, maaf ya author telat update bab terbaru. Baby Author rewel terus dari semalam setelah imunisasi 🙏🙏🙏
__ADS_1