
Wakil kapten pasukan khusus Garry Jackson yang bertanggung jawab atas keamanan tempat itu, tapi ia tak tahu bagaimana cara Max bisa masukke dalam pesta itu. Samuel menoleh ke Alena dan tersenyum bangga.
Samuel lalu beralih ke wakil kapten Garry dan bilang, “Kapten Garry, saya saranin kamu cepat tangkap orang itu!kita nggak boleh ambil risiko!”
“Bentar, saya ingin memastikan dulu, coba lihat undangannya!” perintah Garry.
Kali ini Arya dan istrinya benar-benar khawatir karena cuma Max yang tidak punya undangan.
“Maaf, saya nggak punya undangan, tapi mereka bertiga adalah tamu terhormat yang memiliki undangan VIP.”
Samuel merasa senang saat mendengar jawaban Max. Tapi juga dibuat penasaran, karena mengenai undangan VIP.
“Hahaha. Kapten, dengar tuh dia nggak memiliki undangannya, tapi mereka bertiga katanya memiliki undangan VIP, coba keluarkan!” ucap samuel.
Mereka bertiga mengeluarkan undangan VIP nya itu, seketika semua orang kaget melihat undangan yang ada tulisan VIP dan juga berlapis berlian.
“Tidak mungkin, bagaimana kalian mendapatkan undangan seperti itu?” tanya Samuel.
“Itu....karena Pak Robert yang memberikan pada kami.” Jawab Alena.
Wakil kapten memeriksa undangan itu lagi, ia khawatir jika undangan itu palsu. Tapi undangannya sungguh asli, lantas wakil kapten memerintahkan bawahannya untuk membawa Max keluar dari pesta itu, “Cukup bawa dia keluar.”
“Sebentar! Dia juga masuk melalui pemeriksaan di depan, atas dasar apa kalian mengusirnya?” ucap Alena yang sedang membela Max.
“Mustahil! Siapa pun yang masuk ke sini harus ada undangan! Bahkan Jenderal Dragin Lord mau kemari juga harus punya undangan! Kalau gak punya undangan pasti ada yang tidak beres!” sahut salah satu tamu yang hadir.
“Ya, aku juga belum dengar ada yang masuk tanpa undangan! Cepat angkut dia!” timpalnya Samuel.
Para petinggi yang sudah hadir di pesta ini semua memiliki undangan.
“Alena, kamu tahukan apa yang telah terjadi, siapa suruh kamu nolak aku!” kata Samuel.
“Siapa bilang kalau masuk ke sini harus ada undangan? coba tanya atasan kamu, apa Max Setiono boleh masuk tanpa undangan?” ucap Max kepada Garry.
Tiba-tiba Max mulai bersuara, dan mereka menatapnya keheranan. Alena menarik Max agar dia tak bicara lagi.
__ADS_1
“Hahaha..” sebagian orang tertawa tanpa henti. Garry pun jadi marah dan mengatakan, “Oke, kalau begitu biar aku tanya apa kapten kenal sama kamu.”
Garry menghubungi atasannya dengan mic yang bergantung di telingannya, seketika ekspresi wajahnya pun berubah begitu mendapat balasan. Dia lalu melihat Max dengan raut wajah ketakutan...
“S...Saya mengerti Kapten...” mendadak cara bicara Garry terbata-bata.
“Kapten Garry? Ada apa? Tanya Samuel.
‘Plakk!’ wakil kapten Garry menjawab pertanyaan dari Samuel dengan sebuah tamparan yang membuatnya terhempas jauh.
“Kapten Garry...kenapa?” Samuel tanya kembali dengan keadaan kesakitan.
“Masih tanya kenapa? Kamu sengaja cari ribut untuk balas dendam pribadi! Tuan Max bisa masuk tanpa undangan karena beliau juga tamu VIP! Malahan kamu yang bikin rusuh! Sini, cepat dia bawa pergi!” ucap Garry.
Lantas ketiga tentara yang berdiri si samping segera mengusir Samuel yang baru saja membuat onar. Garry mendekati mereka berempat dan mengatakan, “Tuan Max, Nona Alena serta keluarganya, maaf sudah lancang!.”
Garry tidak berani lama-lama di sana dan langsung pergi, kejadian yang terjadi begitu tiba-tiba membuat Alena dan orang tuannya bengong.
“Apa yang terjadi barusan? Bukankah dia yang akan ditangkap? Kenapa malah jadi Samuel?” ucap beberapa tamu. Kejadian itu berlangsung ketika Max menyebutkan namanya.
“Nanti, kalau sudah keluar dari pesta ini Al!” jawabnya Max.
Max mendengar semua yang Samuel katakan tadi, kali ini Samuel tidak hanya ditahan bebehari saja, tapi dia akan dipenjarakan untuk waktu yang lama dengan alasan apa yang telah ia lakukakan terhadap perusahaan Arya.
Meski pesta malam ini sangat sederhana, tapi yang hadir semuanya orang penting.
Setelah mereka berempat mendapatkan tempat duduk, Arya dan isrinya tidak berani bergerak, bahkan bersuara aja tidak.
“Om sama tante kenapa kaku banget sih? Keliling aja dulu om, ada banyak orang yang bisa diajak kenalan.” Tutur Max.
Arya dan Nanda hanya saling menatap satu sama lain, tapi tetap saja mereka tidak berani beranjak.
Gelagat Max yang terlihat begitu santai memberikan kesan kepada mereka bertiga bahwa sepertinya Max sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Alena berpikir kalau Max sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang tak dikenal selama 6 tahun, makanya ia terlihat santai.
Orang yang datang ke pesta semakin banyak. David berserta orang penting lainnya pun tiba dan langsung dikerumuni oleh banyak orang.
__ADS_1
“Eh? Pa. Aku lihat orang lain pada bawa hadiah ya? Bahkan Pak David juga bawa kotak hadiah. Kayaknya Cuma kita doang yang nggak bawa apa-apa.” Kata Nanda.
Benar seperti apa yang dikatakan Nanda, hanya mereka berempat saja yang tidak membawa hadiah. Tamu lainnya berkumpul untuk memberikan hadiah, sementara hanya mereka saja yang duduk di pojokan.
“Iya, di luar tadi aku lihat papa sama pak Agung bawa banyak hadiah. Aku juga gak kepikiran, kita yang nggak tahu aturan.” Kata Arya sambil menundukkan kepala.
“Gimana kalau sekarang kita minta orang lain siapin hadiahnya? Masih ada waktu.” Ucap Nanda.
“Alena, Om, tante, kalian gak usah khawatir. Mungkin Jendral Dragon Lord juga tidak suka diberi hadiah, ‘kan?”
“Bukan begitu Max, ini masalah tata krama,” sahut Alena.
“Aku rasa Jenderal Dragon Lord lebih suka sama orang yang nggak kasih hadiah.” Ujar Max.
“Eh, kalian lihat nggak tuh, ada orang yang berani gak bawa hadiah?”
“Mereka yang gak tahu aturan atau mereka mau ngeremehin Jenderal Dragon Lord? Dan juga mereka kok kelihatannya asing? dari mana ya mereka?”
Dengan cepat orang lain pun menyadari keberadaan mereka berempat. Arya sudah tidak sabar ingin mencari tempat untuk bersembunyi karena rasa malu.
Pertam-tama, kehadiran mereka sama sekali tidak dianggap di sini. Kedua, semua tamu yang ada di sini merupakan orang penting sedangkan mereka bukan siapa-siapa.
Tak lama kemudian suasana jadi gaduh. Terlihat ada beberapa orang yang masuk dengan mengenakan pakaian militer, dan perhatian semua orang tertuju kepada mereka.
Pria yang mengepalai mereka adalah mayor jenderal, kehadirannya di sana membuat semua orang terpukau.
“Perkenalkan, nama saya Sebas, bertugas di zona perang. Sekaligus bawahan Jenderal Dragon Lord!” ucap sebas dengan wibawa yang di pancarkan memenuhi seisi ruangan.
“Jenderal Dragon Lord ngeri banget ya? Bawahannya saja mayor Jenderal!”
“Iya jelas lah, Jenderal Dragon Lord kan satu-satunya jenderal yang ditakuti di dunia militer lho.”
Alena, Arya, dan Nanda semakin khawatir jika mereka berpikir kalau kita benar-benar tidak menghormatinya.
“Mayor Jenderal Sebas, kalau boleh tahu kapan Jenderal Dragon Lord tiba?” tanya David.
__ADS_1
“Sebenarnya Jenderal sudah tiba dari tadi, tapi beliau tidak menampakkan diri. Jenderal bisa datang ke acara ini saja aku sudah kaget.” Ucap Sebas.