
Setelah keributan selesai, Rena pulang ke rumah dengan terkejut. Karena ia melihat kakaknya yang selama 6 tahun menghilang.
“Kakak? Kakak kemana saja selama ini?” tanya Rena sambil menangis.
“Maafin kakak, selama ini aku sudah melalui banyak hal. Dan aku sudah mengetahui semuanya!” ucap Max.
Tiba-tiba muncul pembantu yang dulunya bekerja di rumah tangga Rony yang sekarang menjadi pembantunya Mark untuk menjelaskan dan menyerahkan bukti yang ada.
“Pa, Ma, Rena, dan bibi Nur, sementara ini kalian akan pindah ke rumahku dulu. Kalau kita sudah bisa merebut kembali apa yang seharusnya jadi milik kita, maka kalian akan kembali ke rumah utama.” Ujar Max.
Tidak lama kemudian, Max membawa Mark, Lula, Rena, dan bibi Nur pergi dari desa itu. Ketika keluar dari rumah, halaman rumah sudah bersih, tidak ada bercak darah sedikit pun.
Pada saat itu, anggota inti keluarga Setiono sudah menerima pesan undangan dari Max.
Sanny Setiono tertawa dingin dan berkata, “Max mengundang kita untuk datang ke rumahnya yang dulu untuk membayar perbuatan kita? Dasar sudah gila ya dia!”
Rony juga tertawa dan mengatakan, “Max itu tidak tahu, sekarang keluarga Setiono sudah sekuat apa! Apalagi keluarga Setiono sudah bergabung sama keluarga Nardo.”
“Haha ... kita tunggu saja 6 hari lagi! Aku membayangkan wajah Max yang kecewa dan pasrah, pasti sangat puas!”
Hanya wajah Rachel yang terlihat serius. Dia pun bertanya, “Luis, kamu yakin orang di belakang Max adalah Joan?”
Luis pun menjawab, “Istriku, aku yakin! Hari ini Joan datang ke salah satu desa di kota Z. Aku juga dengar dia menghajar ketua preman di sana.”
“Jika begitu, aku bisa tenang. Tapi kita jugaharus berhati-hati.” Ucap Rachel.
“Rachel kamu tenang saja, aku sudah berhasil menghubungi Peter Oscar beserta petarung hebat lainnya untuk siap membantu kita. 6 tahun yang lalu kita bisa membuat Max hancur. 6 tahun kemudian, aku akan membuat dia paham, bagaimana rasanya masuk neraka!” Rony tertawa licik.
Keesokan harinya, Max mau membelikan sebuah rumah untuk adiknya.
Max menghubungi Viola, namun Viola mengangkat telepon dengan suara yang gagap, seperti telah terjadi sesuatu, “A-ada apa Max?” tanya Viola dengan lirih yang gagap.
__ADS_1
“Beritahu aku lokasimu, aku akan ke sana sekarang.” Max berkata dengan tidak sabar.
“Restoran Golden Star”
Setela mendengarnya, Max pun bergegas menyetir mobilnya ke pusat kota S di mana restoran itu berada.
Pada saat yang sama di Restoran Golden Star, Viola duduk dengan gugup. Di sebelahnya ada orang tuanya sendiri, Glenn Abraham dan Nadia Megan. Di meja itu, masih ada seorang pria muda beserta orang tuannya.
Hari ini, kedua orang tua Viola sedang menjodohkannya. Bagaimanapun juga, Viola akan segera menginjak usia 30 tahun. Orang tuanya sangat khawatir dia tak kunjung memiliki pasangan.
Lelaki yang akan dijodohkan dengannya itu bernama Dennis Walker. Dia sudah memiliki bisnis sendiri serta memiliki kekayaan yang sangat banyak. Keluarganya memiliki 7 buah properti mewah di kota S.
Dennis sangat yakin perjodohan ini pasti akan berhasil. Meskipun Viola sangat cantik dan pintar, namun Dennis sangat percaya diri dia masih lebih unggul daripada Viola.
“Glenn, jika kalian merasa tidak masalah, maka kita tinggal tentukan tanggalnya saja.” Ayah Dennis, Harrison Walker tidak sabar untuk memperjodohkan anaknya.
“Oh? Tentu saja. Saya rasa juga sudah cukup, tidak ada maslah, dan Dennis juga sangat baik.” Perasaan Glenn dan Nadia sangat senang.
Viola pun langsung menolak dan mengatakan, “Tidak, aku rasa kami perlu mengenal dulu sati sama lain.”
“Kita baru saling mengenal selama satu bulan, ini terlalu cepat!” Viola benar-benar tidak setuju jika harus secepat ini.
Disaat itu juga, tiba-tiba ada bayangan seseorang yang muncul, dia adalah Max. Max menarik lengan Viola dan berkata, “Ayo kita pergi, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Semua orang di meja itu pun tercengang, bahkan Viola sendiri pun tidak kalah kaget. Dia tidak menyangka Max akan sepanik itu sampai menarik lengannya.
“Kurang ajar! Siapa kamu? Kamu mau apa? lepaskan tangan Viola sekarang juga!” Dennis yang baru saja tersadar dari kekagetannya langsung merasa tersinggung.
Glenn dan Nadia melihat Max dan bertanya pada putrinya, “Nak, dia ini siapa? Sepertinya dia tidak asing?”
“Dia ini adalah Max.” Jawab Viola.
__ADS_1
“Apa? dia ini Max? Pantas saja aku merasa seperti mengenalnya! Untuk apa kamu datang ke sini? Mengapa kalian saling berhubungan?” raut wajah Gleen dan Nadia langsung berubah.
“Ka-kami dulu adalah teman sekolah, tidak aneh jika kami masih berhubungan, kan?” Viola menjelaskan dengan sedikit takut.
Harrison pun kesal, “Glenn, apa maksudmu ini? Kamu menjodohkan anakmu dengan dua orang pada waktu yang sama?”
Mendengar perkataan Harrison, Max baru paham bahwa Viola sedang dijodohkan.
“Bukan begitu! Aku akan menjelaskan, dia ini adalah teman sekolahnya Viola. Bagaimana mungkin bisa sebanding dengan Dennis? Keluarga Walker sangat berada dan terpandang, sedangkan Max hanyalah bocah yang sekarang sudah miskin! Bahkan dia aja tidak punya pekerjaan!”
Mendengar perkataan Glenn, Harrison sedikit lebih tenang. Tapi dia melihat ada yang aneh dengan pandangan Viola, seperti telah terjadi sesuatu.
Max menatap Viola dan mengatakan, “Maaf sudah mengganggu acara perjodohanmu.”
Viola dengan buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak apa-apa, kamu ada urusan apa sampai mencariku?”
“Aku mau mencarikan sebuah rumah untuk adikku, aku butuh bantuanmu.”
“Oh, rupanya mau beli rumah? mau beli rumah untuk adik kamu? Haha.” Dennis dan Harrison tertawa menghina.
Mereka mengira, Max hanya akan mencarikan rumah berukuran kecil, dan membayar dengan cicilan. Sedangkan bagi orang tua Viola, yang mencari bantuan Viola adalah mereka yang ingin membeli rumah dengan diskon yang spesial.
Karena Viola adalah seorang manajer, dia bisa memberikan diskon lebih. Beberapa tahun ini memang ada banyak orang yang meminta bantuan Viola ketika membeli rumah.
Karena mereka tahu, Viola bisa memberikan harga spesial yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Max juga pasti adalah salah satunya.
“Oke. Tapi kamu pasti tidak tertarik dengan Green Mountain House?” tanya Viola.
Viola mengerti Max, sedang mencari rumah mewah. Karena jika dia mencari rumah biasa, pasti sudah pergi sendiri ke Green Mountain House untuk mencari rumah di sana.
“Iya.” Jawab Max sambil mengangguk kepalanya.
__ADS_1
“Kami punya rumah yang kamu inginkan. Mari kita pergi lihat.”
Kemudian Viola membalikkan badan dan pamit kepada Dennis dan orang tuannya, “Om tante, saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya akan segera kembali.”