Iam Come Back

Iam Come Back
Kemarahan


__ADS_3

Tidak perlu waktu lama, Sebas pun langsung memberikan laporan berupa file yang masuk ke ponsel Max: Anggota inti terdahulu dijebak dan diperlakukan secara keras, serta dihapus dan diusirnya dari silsilah anggota inti Setiono.


Berita yang disebarkan oleh media di masa lalu adalah bahwa keluarga inti terdahulu menggelapkan uang perusahaan untuk menutupi kesalahan Max.


“Sungguh keluarga biadab!!!” Max murka dan menghantam tembok.


Lalu Max berkata dengan dingin, “Tunggu satu minggu lagi, aku akan membawa mereka semua ke hadapan keluarga inti terdahulu. Mereka harus bersujud dan membayar akibat perbuatan mereka!”


Keesokan harinya.


Max bersiap pergi ke kota Z untuk menemui orang tuanya serta adiknya dan membawa kembali ke kota S. Di bawah apartemen sudah ada Tian yang sedang menunggunya.


“Ayo, berangkat! Kita harus menemui orang tuaku serta adikku dan membawa kembali ke kota S! Siapa yang berani mengusik mereka, akan mati di tanganku!” Ucap Max.


Max sangat marah, ada kebencian terpancar di matanya. Tian merasa takut melihat Max yang sedang murka, sudah lama Tian tidak pernah melihat Max semarah ini.


Terakhir kali adalah pada saat Max menghadapi musuh yang hampir setara sama pasukan khusus miliknya. Karena itu pasukan khusus miliknya hampir dimusnahkan, tetapi Max langsung turun tangan untuk menghindari kerugian yang tidak diinginkan.


......


Tiba di kota Z.


Di kota Z tepatnya di sebuah desa, Max dan Tian menyusuri untuk menemukan keberadaan keluarga inti terdahulu.


Tempat itu sangat kumuh dan jauh dari kata terurus, sampah dimana-mana, sangat berantakan. Setelah masuk gang, akhirnya mereka menemukan tempat tinggal keluarga inti terdahulu.


“Woy, dasar tua bangka! Cepat bayar jatah kalian! Hanya kalian yang belum membayar tau?!”


Max mendengar suara kasar itu dari kejauhan, ketika mereka sampai di depan rumah keluarga inti terdahulu, barulah mengerti apa yang sedang terjadi.


Beberapa preman sedang menagih biaya keamanan kepada orang tuanya Max. Mark dan Lula terlihat jauh lebih tua dibandingkan dengan 6 tahun yang lalu. Jelas sekali, mereka sangat tersiksa dan tidak nyaman tinggal di sana.

__ADS_1


“Tunggu sebentar ya, kalau sudah ada uang kami pasti akan membayarnya.” Mark memohon dengan ketakutan.


“Halah! Banyak alasan saja kamu! Setiap aku datang, kamu selalu mengatakan hal yang sama!”


Pemuda yang terlihat seperti kepala preman itu mengangkat tangan ingin menampar wajah Mark. Namun baru setengah jalan, tangannya ditahan oleh Max yang muncul dari belakang.


“Siapa kamu? Cepat lepaskan tanganku atau ...” Preman itu berkata dengan nada penuh ancaman.


“Bukkk!” Max mendaratkan sebuah pukulan ke wajah preman itu, tepat di hidungnya, dan langsung memuncratkan darah segar. Preman itu pun berteriak pilu kesakitan.


Pertengkaran pun terjadi, preman pengikut lainnya juga dihabisi oleh Tian. Preman-preman itu pun lalu merangkak pergi dari depan rumah orang tuannya Max.


Sebelum pergi, kepala preman itu masih mengancam dan mengatakan, “Dasar kalian! Beraninya kalian memanggil pertolongan! Tunggu saja! Aku akan memanggil bang Andre!”


Kemudian kepala preman itu pun pergi. Max pun memejamkan matanya, dengan wajahnya yang pasrah.


Bang Andre yang baru saja disebutkan preman tadi adalah ketua preman paling menyeramkan di desa itu, dia memegang kurang lebih 80 preman. Tidak ada yang tidak berani dia lakukan.


Bang Andre adalah seorang preman kejam, dia pernah masuk penjara. Di desa ini, mendengar nama bang Andre saja sudah membuat semua orang ketakutan.


“Anak muda, terima kasih telah membantu kami. Tapi lebih baik kamu cepat pergi dari sini.” Ucap Mark yang tidak mengenali anaknya yang hilang selama 6 tahun.


“Pa, Ma, ini aku Max! Anak papa sama mama.” Max mengatakan dengan nada yang sedih.


“Apa? Max? Benar ini kamu, nak? Kamu kemana saja selama 6 tahun ini?” Mark dan Lula sangat terharu melihat Max, mereka pun menangis.


Max melihat ada bekas lebam di leher Mark, dia pun murka. Dasar biadab! Orang tua pun tidak mereka ampuni!


Mark melihat sekitar lalu mengatakan, “Max, cepatlah pergi dari sini! Mereka pasti sudah memberitahu bang Andre, dia akan segera datang ke sini.”


“Betul, jika bang Andre datang ke sini, pasti kalian akan mencelakai kalian, jika parah kalian bisa masuk rumah sakit, bahkan lumpuh! Nak, sementara ini cepatlah pergi.” Lula juga menyuruh Max untuk cepat meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


“Pa, Ma, kalau aku pergi, kalian bagaiman?” Max tidak mungkin meninggalkan orang tuanya.


“Pa, Ma, tenang saja, sekarang aku sudah cukup kuat. Aku bisa melindungi kalian dan membalas dendam kita ke anggota inti keluarga Setiono yang saat ini.” Ucap Max.


“Tidak bisa! Kamu tidak tahu seberapa kuat bang Andre itu! Dia tidak segan menghabisi nyawa orang!”


Sepertinya, bang Andre sangat mengerikan sampai membuat semua orang begitu takut padanya. Melihat orang tuanya seperti ini, sepertinya mereka juga tidak jarang menerima pelajaran dari bang Andre.


“Pa, Ma, ada aku di sini, tidak akan ada masalah. Aku juga ingin melihat seberapa kuat bang Andre itu.”


Lalu Max membalikkan badannya dan berkata pada Tian, “Suruh Joan dan anak buahnya untuk datang ke sini.”


Tidak hanya Joan, ada juga 3 orang bos jalanan yang di bawah komando Joan. Anak buahnya Joan yang akan datang ke situ setidaknya ada 200-300 orang.


Tian menganggukan kepala dan menjawab, “Baik, Pak.”


“Pa, Ma, mana Rena? Kok gak kelihatan?”


“Adikmu Rena sekarang lagi bermain sama temannya, nanti juga pulang.”


“Anakku sementara ini cepatlah pergi, mereka sudah datang!” Mark berkata dengan ketakutan yang luar biasa.


Mereka melihat ada puluhan orang datang dengan membawa tongkat senjata di tangan mereka. Kepala yang membawa mereka mengenakan singlet dan tubuhnya penuh dengan tato. Orang itu kelihatannya sangat seram dan sadis.


“Siapa yang berani memukul bawahanku? Cepat keluar sini!”


Dari kejauhan, terdengar suara teriakan bang Andre yang mencari siapa yang memukul anak buahnya. Orang-orang rumah di gang itu langsung menutup pintu dan jendela mereka.


Mereka takut akan ada pertumpahan darah di sana dan menciprati rumah mereka. Suara bang Andre membuat orang tuannya Max gemetar, mereka bersembunyi di balik tubuh Max.


Max menepuk dan menenangkan Mark, “Pa, Ma, tenang saja, jangan takut ya, aku ada di sini.”

__ADS_1


Tanpa butuh waktu lama, bang Andre pun tiba di rumah Mark. Di depan pintu, ada Tian yang menghadang di depan.


__ADS_2