
Arya dan Alena melihat melihat kontraknya, yang ternyata mereka sudah mengubah kontrak itu. Sekarang Alena sudah tahu kenapa Max mengambil 10 miliar itu.
‘Sungguh kejam! Kakek mana yang mempermalukan keluarganya sendiri seperti itu’ dalam benak Alena.
Mereka bertiga sungguh sedih ... betapa tidak menyangkanya keluarga mereka sendiri telah menggunakan metode licik untuk menghancurkan mereka!
“Kenapa kalian diam? Apa kalian tidak mau mengakuinya? Kalau begitu, aku akan menuntut kalian!” Rino mencibir.
Setelah Rino berkata begitu, Max meletakkan beberapa koper uang di hadapan Rino. Setelah diperiksa oleh beberapa orang, Rino terkejut! Uang di koper-koper itu asli dan jumlahnya tepat 7 miliar! Max merekam seluruh kejadian pada hari ini dan merobek kontrak itu.
“Dari mana kalian mendapatkan uang sebanyak 7 miliar itu dalam waktu singkat?” tanya Rino dengan keraguan.
“Kalau soal itu, kamu tidak perlu khawatir.” Max mengecam mereka.
Rino dan beberapa orang suruhan Adam kembali ke kediaman keluarga Veyron. Setelah mereka kembali ke rumah keluarga Veyron, Max mengatakan kepada mereka bertiga, “Ini masih ada sisa 3 miliar, mohon buat tambahan dana awal pembangunan ya Al.”
“Nggak bisa begitu Max, kamu sudah banyak membantuku hari ini, kami mengucapkan terima kasih banyak!” ucap Alena.
“Alena, rejeki tidak boleh ditolak ya. Lagian aku juga ikhlas kok, tapi kalau kamu masih tidak mau menerimanya, bagaimana kalau ini anggap aja investasi dariku!” ujar Max.
“Baiklah kalau begitu, aku anggap kamu investasi ya.”
Sebenarnya Max sungguh ingin memberi 3 miliar itu, tetapi kalau dipaksakan nanti jadi masalah
......
Di rumah keluarga Veyron.
Semua orang tampak terkejut melihat koper-koper berisi 7 miliar di atas meja itu.
“Bagaimana mereka ada uang sebanyak 7 miliar ini? Apakah keluarga Arya mengeluarkan semua aset mereka untuk mencegah kita mengambil proyek itu?” semua orang terkejut.
Kemudian Lara tiba pada saat itu juga, “Kakek, aku sudah memeriksanya, Max telah meminjam 10 miliar di salah satu Bank Internasional! Sepertinya dia masih memiliki aset yang bisa dia gunakan sebagai jaminannya.”
“Apakah kamu seyakin itu?” tanya Adam dengan serius.
“Iya kek! Orang yang bertanggung jawab adalah Lora Diana, pegawai senior Bank itu. Sia pribadi mengakui bahwa pria yang bernama Max telah meminjam uang pada hari ini! Aku sudah menghabiskan 150 juta untuk mendapatkan informasi ini!”
__ADS_1
Adam mendengar dan melihat informasi di tangannya, sebuah berkas dan kuitansi yang dia pastikan benar.
“Hahaha, dengan cara meminjam uang? Aku ingin tahu bagaimana dia bisa membayarnya kembali? Eh, dia tadi kan pinjam 10 miliarkan! berarti masih sisa 3 miliar setelah, apa jangan-jangan Max menaruh investasi ke proyek itu?” ucap Adam.
“Kayaknya dugaan papa benar deh, kalau Max menaruh investasi di proyek itu. Tapi masalah terbesar sekarang adalah bagaimana kita mendapatkan proyek itu? Pada akhirnya, bukankah kita masih harus memohon kepada mereka!”
......
Alena baru saja memecahkan masalah besar itu, tetapi Alena tidak merasa tenang. Karena dia mendapat kabar dari keluarga Veyron kalau Max mendapat uang sebanyak itu dari meminjam Bank. Alena sungguh terharu dan dia berpikir bagaimana cara untuk membayar uangnya kembali.
“Kita harus mendapatkan investasi secepatnya dan memulai proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah ini! Tetapi ... jika ingin mengembangkan proyek ini, kita harus membutuhkan banyak investasi.”
Menurut anggaran, 8 miliar untuk modal awal dan setidaknya 20 miliar akan dibutuhkan di masa depan.
“Ayo kita ke perusahaan-perusahaan besar, coba tanya satu per satu ke mereka! Proyek ini adalah proyek besar, mana mungkin ada perusahaan yang tidak mau!” ucap Max sambil tersenyum.
Alena mengangguk-angguk, “Aku tahu, tetapi aku khawatir mereka akan setuju dan mendapat keuntungan banyak dan pasti mereka mengajukan syarat sendiri.”
“Coba dulu Alena, siapa tahu ada orang yang tidak ingin memanfaatkan investasi ini?”
“Oh iya, kamu tenang saja, aku pasti akan membayar uang 7 miliar itu. Semoga kami mendapatkan investasi secepat mungkin.” Kata Alena untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kalian tidak perlu mengembalikan uang itu, untuk apa membicarakan hal ini?” ucap Max sembari tersenyum.
“Tetapi kamu juga perlu mengembalikan pinjamannya, kan?” Alena berkata begitu dan Max mengangguk.
“Oh ya, Alena, Om, Tante, hari sudah malam. Aku pamit dulu ya mau balik ke Apartemen dulu!”
Max meninggalkan rumah Arya, Max menuju ke Apartemennya untuk membersihkan diri dan istirahat. Setelah membersihkan diri, Max menghubungi Alena dan mengatakan sesuatu.
“Alena, apakah kamu ingat rumahku yang dulu?” tanya Max.
“Ingat dong, itu kan rumah yang kamu rancang sendiri secara khusus! Tapi sayangnya ...” Alena menghela napas.
“Alena, aku akan segera mengambil kembali rumah itu.”
“Apakah kamu gila ya, rumah itu sekarang sudah milik Albert Setiono. Kamu tidak bisa mengalahkan mereka.” Alena membujuk.
__ADS_1
“Jangan khawatir hal itu Alena.”
Mereka pun selesai berbincang dalam telepon.
Meskipun Max berkata begitu, tetapi Max masih harus mengambil kembali apa yang seharusnya miliknya dari keluarga Setiono yang saat ini.
Max menghubungi Sebas untuk ikut melihat dan merebut kembali rumahnya pada hari besok.
Keesokan harinya, Alena sibuk mencari investasi.Max tidak menemani sahabatnya itu, agar Alena merasa kesulitan, baru pria itu akan mengatur investasinya.
Di lantai bawah Apartemennya Max, sebuah mobil Limosin mendekat dan mayor jenderal Sebas turun dari mobil, “Silahkan jenderal!”
Max masuk dalam mobil. Di dalam mobil, Sebas memberi laporan, “Jenderal, orang yang tinggal di rumahmu sekarang adalah Albert Setiono! Sekarang apa yang kita lakukan jenderal?”
Mata Max menjadi dingin setelah mendengar nama Albert, seorang anggota keluarga Setiono yang sangat tak tahu diri dan tak tahu untung.
Max merasa konyol memikirkan penampilan Albert di hadapanya.
“Rumah itu harus kembali kepadaku!” kata Max yang dingin.
Di area rumah Max.
Berdiri di depan Rumah yang dirancang sendirin secara khusus, mata Max menjadi penuh dengan amarah!
‘Berani mengambil rumahku? Orang itu harus mati!’ kata dalam hati Max.
Pengurus rumah melihat Max dan Sebas, dan bertanya kepada mereka, “Ada urusan apa ya ? Kalian mencari siapa?”
“Aku datang untuk melihat rumahku!” kata Max.
“Haaa? Rumahmu? Apakah kamu sudah gila? Biar aku beri tahu kalian, pemilik rumah ini adalah anak keluarga Setiono, Albert Setiono!” pengurus rumah itu mencibir.
“hahaha ... apakah Albert tidak pernah memberitahu siapa pemilik sebelumnya?” Max berkata dingin.
“Ohhh ... memangnya aku harus peduli siapa pemilik sebelumnya? Yang aku kenal hanya Albert Setiono.”
Pada saat itu, sebuah mobil RR phantom dan pengurus rumah itu segera membuka pintu mobil.
__ADS_1