
Mungkin tidak ingin Rezaldin melihat orang yang cintainya tengah berboncengan dengan pemuda lain, membuat Max pura-pura keseleo dan itu membuat dirinya membungkuk di ikuti oleh Rezaldin di hadapannya.
"Aiss, sakit sekali Za,” ucap Max memengang bahu Rezaldin dengan sangat erat.
Max sengaja melakukan hal itu, agar Rezaldin percaya kalau ia benar-benar merasa sangat kesakitan, hingga motor yang membawa Vina berlalu di sampingnya, Max berhenti meringgis.
Ternyata semua wanita sama saja! Mereka semua hanya memanfaatkan kebaikan dari kaum pemuda yang mencintainya, dan tanpa memikirkan apa yang dirasakan pemuda yang bergitu sangat mencintainya. Mencintai dan mempercayai wanita sepertinya itu mutlak bagiku.
"Apa rasanya sangat sakit?" Tanya Rezaldin.
"Sakitnya telah hilang Za, dan mungkin akan lebih baik jika kita ke pasar untuk membantuku mencari barang-barang yang aku butuhkan di dalam kamar kos aku." Jawab Max.
"Apa kamu yakin? Kalau kakimu tidak sakit lagi?" tanya Rezaldin berdiri di hadapan Max.
"Tenang saja, sakitnya telah hilang." Max tersenyum sambil menepuk pelan bahu Rezaldin, namun senyuman itu tertutup oleh masker yang Max kenakan.
Maafkan aku Reza, sebenarnya aku hanya pura-pura kesakitan. Aku melakukan ini, karena tidak ingin membuatmu terluka dengan melihat gadis yang kamu cintai bersama dengan pemuda lain.
"Baiklah kalau begitu. Namun maaf, kalau bisa buka masker yang kamu gunakan, karena dari tadi aku melihatmu hanya menggunakan masker. Bahkan ketika berbicara kepada pemilik kost, kamu tidak membuka masker yang kamu gunakan itu."
Rezaldin sangat penasaran ingin melihat wajah pemuda yang baru saja ia kenal itu, rasa penasaran Rezaldin mulai terlihat ingin melihat wajah di balik masker yang Max kenakan.
"Baiklah, aku akan membukanya." Ucap Max.
Rezaldin tersenyum senang ketika ia mendengar ucapan Max yang ingin membuka masker yang ia gunakan untuk, karna jujur ia sangat penasaran ingin melihat wajah Max yang sebenarnya.
__ADS_1
Max mulai membuka masker dan topi yang ia gunakan menutupi sebagian wajah dan rambutnya dan memperlihat wajah tampan yang ia miliki kepada Rezaldin.
Rezaldin nampak tertegun melihat wajah Max yang terlihat nampak sangat tampan, postur dahi yang begitu sangat sempurma, alis tebal, hidung mangcung, garis rahan yang tegas, kulit putih mempelihatkan kharisma yang benar-benar menawan. Pemuda setampan ini kenapa bisa kesasar ke kota ini, itulah yang ada Pikiran Rezaldin saat ini.
Max tersenyum melihat ke arah Rezaldin yang kini melihat ke arahnya dengan mata yang membulat.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?” tanya Max pelan melihat ke arah lain, ia merasa agak aneh melihat tatapan mata Rezaldin yang terus melihat ke arahnya.
Max mengalihkan penglihatan, melihat ke arah lain, karena ia tidak ingin jika sampai Rezaldin mengenali wajahnya. Apakah Rezaldin tidak mengenali wajahnya? Semoga saja tidak.
"Sepertinya aku pernah melihat wajahmu, tapi dimana ya?” ucap Rezaldin memikirkan dimana ia pernah melihat wajah pemuda yang ada di hadapannya.
"Ah, sudahlah, aku bukan artis yang harus kamu ingat. Emang dimana kamu pernah melihatku," ucap Max berjalan mendahului Rezaldin yang masih memikirkan dimana ia pernah pernah melihat wajah pemuda yang baru saja ia kenal.
Setelah selesai membeli semua keperluannya di pasar, Max menyewa mobil untuk membawa semua barang-barang yang ia beli di pasar.
Seputaran-seputaran pemikiran mulai mengelilingi kepala Rezaldin, yang ingin tau siapa sebenarnya pemuda yang baru di kenalnya ini.
"Za, naik" ucap Max membuyarkan lamunan Rezaldin yang terus melihat ke arah semua barang-barang belanjaan Max yang penuh di mobil pic-ap yang ia sewa. Max membeli tempat tidur, kulkas mini, kipas angin.
Sebulan telah berlalu, kehidupan yang Max jalani benar-benar berubah 90%. Max yang dulunya selalu rajin mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya kini mulai irit dengan pengeluaran, karena uang yang ia bawa dari rumahnya mulai menipis.
“Sepertinya aku harus mulai mencari pekerjaan, tapi aku harus bekerja apa di sini? Aku tidak membawa ijasah, atau aku tanyakan pada Rezaldin untuk mencarikan aku sebuah pekerjaan di tempat ia bekerja, eh, sepertinya itu ide yang sangat baik. Iya, aku akan menunggu Rezaldin pulang dari tempat kerjanya.” Ucap Max.
Max menatap langit-langit kamar kos yang ia tempati, memikirkan jalan yang tengah ia ambil dengan hidup sederhana seperti ini. Setidaknya aku akan mencari seseoarang yang bisa menerima keadaanku yang seperti ini, tidak melihatku sebagai orang kalangan atas yang memiliki kekuasaan besar.
__ADS_1
Huf, Max menarik napasnya, lalu membuangnya secara perlahan, sambil memeluk bantal guling yang selalu menemani malamnya ketika ia tidak bisa memejamkan matanya, hingga akhirnya ia tertidur hingga malam.
Tepat jam 9 malan Max terbangun, ia menatap seluruh sudut kamarnya kini mulai terlihat nampak sangat gelap, ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan kalau memang benar saat ini malam telah tiba.
Ah, benar ini memang sudah gelap.
Max beranjak dari atas tempat tidur yang hanya muat untuk satu orang saja, berjalan ke arah sekrim lampu untuk menyalahkan lampu dalam ruangan kamarnya.
Setelah menyalakan lampu seluruh dalam ruangan kamarnya, Max berjalan ke arah lemari es untuk mengambil air minum, karena semenjak terbangun kerongkongannya terasa sangat kering.
Mungkin akan lebih baik jika aku membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu aku akan menemui Rezaldin, untuk menanyakan soal pekerjaan di tempat kerjanya.
Setelah selesai membersihkan diri, Max keluar dari dalam kamarnya dan melihat ke arah kamar Rezaldin yang masih nampak sangat gelap.
“Apa Reza masih belum pulang? Kenapa lampu di depan kamarnya belum menyala? Apa dia lembur di tempat ia berkerja? Atau bagaimana, akan lebih baik jika aku menunggunya di sini saja.” Dalam benak Max.
Hampir satu jam Max duduk di depan kamarnya menanti kedatangan Rezaldin, hingga akhirnya yang ditunggu datang juga. Max bisa melihat raut wajah bahagia terlihat di wajah Rezaldin meskipun terlihat agak redup karena cahaya lampu.
"Kamu baru pulang Za?" tanya Max.
"Heheh, iya, aku baru pulang, tapi bukan pulang kerja." Jawab Rezaldin
Max menyengitkan dahi bingung mendengar kata yang di ucapkan Rezaldin.
“Lalu? Kamu dari mana?" tanya Max lagi. Ia merasa sangat penasaran dengan ucapan Rezaldin yang terdengar sangat senang.
__ADS_1
"Aku habis jalan sama Vina, aku mengajaknya makan malam bersama, setelah pulang kerja tadi."
"Oh, jadi baru pulang pacaran ceritanya. Hemm, pasti tidur kamu akan tambah nyenyak" ejek Max dengan senyuman melihat ke arah Rezaldin.