Iam Come Back

Iam Come Back
Berlututlah!


__ADS_3

“Ayo silakan, Isaac!”


Tidak ada yang menyangka Bos Erlan membawa teman hari ini, di belakangnya masih ada orang yang masuk. Dikelilingi oleh kerumanan, muncul seorang pria dengan bekas luka yang jelas.


Sebenarnya Bos Erlan adalah seorang gangster, tetapi Isaac berbeda, dia adalah bos yang sesungguhnya.


“Wah-wah! Isaac! Kenapa kamu datang ke sini?”


Fernando yang mendengarnya menjadi sangat takut


“Bos Erlan, di sini semuanya mahsiswi! Semuanya sangat cantik! Hehe!” gangster beramput pirang tersenyum sopan.


Isaac dan Erlan memandang Kelly, “Isaac, ini yang paling cantik untukmu.”


“Hemm, pintar juga kamu.” Isaac mengangguk.


Fernando yang berlutut di lantai segera berkata, “Isaac, Bos Erlan, tolong hentikan semua ini!”


“Eh? Ternyata ada orang yang mengenaliku?” ucap Erlan.


Fernando segera menjawab, “Isaac dan Bos Erlan sangat terkenal, siapa yang tidak tahu?”


“Siapa kamu?” Isaac bertanya dengan dingin.


“Tuan, ayahku adalah Vincent Omar, seorang ketua Group Hotel LA. Dia pernah minum dengan Isaac dan Bos Erlan.” Fernando langsung menjawab.


“Oh, Vincent dari Hotel LA, aku tahu dia.” Isaac mengangguk.


Mendengar hal ini, semua mahasiswa di sana menjadi lega.


Fernando segera memperbaiki hubungan itu, “Ayah sering menyebut Isaac dan Bos Erlan! Isaac, apakah bisa kamu biarkan masalah hari ini?”


“Isaac, hari ini teman-temanku tidak baik, aku akan meminta maaf padamu. Selanjutnya, aku pasti akan berterima kasih padamu!”


Dia berpikir menyebutkan ayahnya saja sudah cukup, Isaac dan Bos Erlan pasti akan melepaskannya.


Ruangan itu menjadi sunyi.


Tak lama kemudian, Isaac tiba-tiba memancarkan hawa membunuhnya dan menampar wajah Fernando.


Tamparan yang sungguh keras, mengakibatkan Fernando terjatuh, dan beberapa giginya pun copot. Seluruh mulutnya penuh dengan darah, wajahnya menjadi terlihat menyedihkan.


“Hah? Orang macam apa kamu? Apakah aku harus mengalah untukmu? Jangankan kamu, jika ayahmu Vincent itu datang kemari, dia harus berlutut di hadapanku!” teriakan Isaac.

__ADS_1


Saat ini, harapan semua orang menjadi sirna. Tadinya mereka mengira bahwa Fernando bisa menyelamatkan mereka, semua orang sudah putus asa, dan banyak wanita mulai menangis.


“Huhuhu ... habislah sudah, habislah kita semua! Selanjutnya kita harus bagaimana?”


Kelly masih bisa berpikir jernih, dia begitu keras memikirkan solusinya. Setelah berpikir, Kelly melihat Max lagi yang masih duduk di pojok. Lampu di dalam ruangan itu redup, jika tidak teliti, tidak akan bisa melihatnya.


“Bawa semua wanita cantik ini dan habisi semua laki-laki di sini, asal jangan sampai mati!” perintah Bos Erlan.


Kelly hanya menutup matanya saja.


“Hahaha ... aku beri kalian waktu 10 menit untuk pergi, jika tidak ...”


Terdengar suara dari tempat itu dan ini membuat semuanya terkejut.Tiba-tiba, semua orang melihat jauh ke bagian dalam ruangan. Seseorang yang duduk di sofa, dengan pakaian yang elegan, tidak terlihat jelas jika tidak diperhatikan dengan teliti.


Gangster beramput pirang itu segera menghampiri untuk di bawa ke hadapan Bos Erlan. Tetapi detik selanjutnya dengan tatapan yang dingin, dia meraih pergelangan tangan gangster berambut pirang itu.


Max memberi perlawanan, lengannya gangster itu diputar, tangannya pun benar-benar patah.


“Krak ... aduhhh ...” gangster berambut pirang itu mengerang kesakitan.


Situasi ini mengejutkan semua orang, terutama ketika semua orang melihat bahwa lengan gangster itu dipelintir. Semua orang menjadi kesemutan dan berkeringat dingin.


Kelly sangat terkejut melihat situasi ini. Apakah dia sekuat ini?


Tetapi ditahan oleh Isaac,“Kamu di sini, coba aku yang lihat dulu.” Ucap Isaac.


Isaac curiga kenapa dia tidak menyadari keberadaan Max sebelumnya? Isaac, Erlan, dan bawahannya datang ke pojok ruangan itu, langkah demi langkah mendekati Max.


“Cepat nyalakan semua lampunya!” perintah Isaac.


“Klik klik klik ...” dengan cepat semua lampu di dalam ruangan menyala.


Dan bisa melihat dengan jelas semuanya. Max yang duduk di sofa juga terlihat jelas.


“Sialan, siapa kamu yang berani duduk di sini?!” Erlan berterial pada Max.


“Bruk!”


Situasi yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dipercaya oleh semua orang, yaitu Isaac berlutut di hadapan Max.


Suara jatuh ini mengejutkan semua orang di dalam ruangan. Melihat Isaac yang berlutut, Bos Erlan keheranan. Kelly juga ikut heran dan semua orang juga sangat bingung.


Ruangan itu menjadi sangat sunyi, bahkan suara langkah kaki bisa terdengar. Max perlahan menyalakan rokok, menghirup dalam-dalam, dan membuang semua asapnya pada wajah Isaac.”

__ADS_1


“Isaac, Isaac, Isaac, aku ingat kamu ...” Max berkata dengan pelan.


Setelah Max berkata begitu, Isaac mengeluarkan senyuman yang lebih buruk daripada menangis. Supaya orang ini mengingat, ini benar-benar menakutkan.


Bos Erlan yang melihat semua terjadi, langsung berkata, “Berani sekali membuang asap rokok pada Isaac, kau tak kan bisa lari dari ku!”


Melihat Isaac, Max bangkit dan menendang Bos Erlan dan berkata, “Berlututlah!”


“Yang lain juga berlutut dihadapanku!” Max menyuruh semua orang.


“Bruk bruk ...”


Adegan puluhan orang berlutut di lantai sangat mengejutkan. Bos Erlan, meskipun tak tahu alasanya, dia juga berlutut di hadapan Max.


Semua orang yang di dalam ruangan sedang menebak siapa sebenarnya Max yang sedang duduk itu? Ternyata bisa membuat Isaac yang terkenal itu berlutut di depannya?


Fernando paling memahami status Isaac dan Bos Erlan, dia yang paling terkejut.


Pada saat ini juga Kelly mengubah padanganya pada Max, dari yang sebelumnya sebal menjadi kagum dan penasaran akan identitasnya Max sebenarnya.


“Isaac, ini yang kedua kalinya, bukan? Tanya Max.


Isaac yang berlutut tidak berani mengangkat kepala, dengan segera berkata, “Iya, benar!”


Tubuh Isaac sampai gemetar, dia sungguh ketakutan.


“Sekarang harus bagaimana?” tanya Max sambil membuang asap rokoknya.


Isaac sempat ragu, dan akhirnya mengatakan dengan gagap, “Se..semuanya terserah pada tuan ...”


“Oke, setiap orang potong satu jari masing-masing. Hari ini terlalu banyak anak-anak, aku tidak ingin marah!” ucap Max yang begitu santai.


Menurut Max, beberapa mahasiswa ini tak lebih dari anak-anak.


“Ba-baik tuan ...”


Isaac terlihat lega, karena hukuman tak begitu berat. Dia mengambil sebuah pisau dan di hadapan semua orang, dia memotong satu jarinya. Tidak begitu saja, gangster yang lainnya juga mulai mengikutinya ...


Melihat keadaan ini, banyak mahasiswa yang terkejut dan hampir pingsan. Bagi Kelly, Fernando, dan yang lainnya, ini adalah kejadian yang sangat sulit dilupakan.


Ini sangat mengerikan, suara gerakan kesakitan itu menusuk ke otak.


“Pergi kalian!” perintah Max dengan dingin.

__ADS_1


Max selesai merokok, bangkit berdiri dari sofa dan berjalan ke hadapan Kelly, meraih lengannya, lalu meninggalkan tempat itu.Fernando dan mahasiswa lainnya juga tidak berani lama-lam di sana, mereka segera mengikuti Max pergi.


__ADS_2