
Setelah itu Keysia membangunkan Max yang kini masih terlelap sambil memeluk erat bantal guling, mungkin ia masih mengira kalau aku masih tertidur di sampingnya, hehehe.
Keysia menatap wajah Max dengan sangat dekat, yang masih setia berdamai dengan mimpinya, ketampanannya begitu terlihat jelas meskipun ia dalam keadaan tidur, Keysia menghentikan apa yang tengah ia lakukan dan mulai membangunkan Max.
"Tio, bangun, ini sudah pagi." ucap Keysia pelan.
Max mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membukanya.
"Key, ini sudah jam berapa?" tanya Max dengan nada suara serak khas bangun tidur.
"Jam seperti biasa aku membangunkanmu"
"Oh, aku pikir aku akan terlambat"
"Nggak akan pernah terlambat, bangun jika kamu masih tiduran begitu, nanti beneran akan terlambat."
Keysia sedikit mengeluarkan omelannya untuk Max, ini pun untuk yang pertama kalinya ia lakukan, hingga membuat Max tersenyum medengar ucapannya yang terdengar garing di telinganya.
Mungkin Keysia lagi dapat, itulah yang terlintas dalam pikiran Max ketika mendengar ucapan Keysia.
Max menghembuskan napasnya bangun, lalu beranjak dan lansung berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, dan menggunakan pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi ke tempat ia bekerja, Max meraih makanan yang telah Keysia siapkan di atas meja mini dekat dispencer.
Max mulai memakan sarapan yang telah Keysia siapkan untuknya, sambil sesekali melihat ke arah Keysia yang sibuk dengan urusannya di dapur.
Pagi ini Keysia nampak sedikit berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya setelah ia menikah, Keysia yang biasanya bertutur kata pelan dan lembut, namun pagi ini ia terlihat lebih sensi, hingga mengeluarkan omelan pertamanya setelah 10 hari menikah.
Ada apa dengan Keysia? Kenapa sikapnya berubah? Apa ia marah dengan apa yang aku lakukan semalam? Itulah yang terlintas dalam pikiran Max saat ini.
__ADS_1
Setelah sarapannya ludes ia makan, Max mengeluarkan amplop dari dalam kantong celananya untuk diberikan ke Keysia.
"Keysia," panggil Max pelan menatap ke arah Keysia yang sedang menyibukkan dirinya sendiri di dapur.
"lya, ada apa Tio?" jawab pelan Keysia berbalik melihat ke arah Max yang melihat ke arahnya.
Max beranjak dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Keysia, karena sepertinya Keysia enggan mendekat ke arahnya, itulah yang Max lihat pada diri Keysia.
Gadis bermata ungu itu menatap ke arah Max yang kini semakin dekat berjalan ke arahnya, hatinya bergetar hebat ketika menatap pemuda yang telah menyentuh seluruh bagian tubuhnya semalam. Bahkan bekas bibir itu masih membekas sempurna di lehernya, iya Max telah meninggalkan tanda kepemilkan pada lehernya.
"Ini untukmu," ucap Max menyerahkan amplop coklat yang berisi seluruh gajinya bulan ini pada Keysia.
"Apa isinya Tio?" tanya Keysia meraih amplop coklat yang Max berikan padanya.
"Semua gaji aku bulan ini."
"Kenapa kamu memberikan semua gaji kamu padaku?" tanya Keysia yang penasaran.
Dan itu membuat hati Keysia terasa menghangat ketika Max mengatakan hal itu padanya, la merasa sangat senang, karena Max mengakui pernikahan mereka yang terdengar keterpaksaan menurut Keysia.
"Apa kamu yakin? Ingin memberikan seluruh gajimu padaku?" tanya Keysia pelan menatap wajah Max.
"Aku yakin dan sangat percaya padamu,” jawab Max menyakinkan Keysia dan seketika senyuman terhias di bibir Keysia.
"Terimakasih karena telah percaya padaku Tio, aku janji tidak akan menghancurkan kepercayaan kamu itu." Ucap Keysia.
"Aku tau, kamu tidak akan melakukan hal itu padaku. Oh iya, aku akan terlambat jika kita masih mengobrol aja, hehehe," ucap Max.
__ADS_1
"Baiklah, Tio terimakasih banyak." Keysia menempelkan bibirnya di wajah Max ketika selesai mengatakan itu.
Max merasa sangat gugup ketika Keysia melakukan hal itu kepadanya, ia merasa seperti sebuah aliran listrik menyengat seluruh bagian tubhuhnya.
Namun ia suka dan senang dengan apa yang di lakukan Keysia pagi ini padanya, semoga besok Keysia melakukan hal ini lagi padaku, karena ini akan menjadi penyemangatku sekaligus vitamin dalam diriku.
Hari berlalu dengan begitu sangat cepat, tidak terasa pernikahan Max dan Keysia kini telah berusia empat bulan, itu berarti mereka telah menikah selama seratus dua puluh hari.
Keysia menjalani harinya sebagai istri yang bisa di andalakan mengurus suami dengan sangat baik, dan sejak malam dimana Max menyentuh tubuh Keysia untuk yang pertama kalinya, dan sejak malam itu pula mereka berdua sering tidur bersama dalam tempat tidur yang sama.
Keysia tidak merasa canggung lagi tidur di samping Max, begitupun dengan Max yang tidak merasa canggung lagi, tidur sambil memeluk tubuh Keysia. Meskipun ia harus menahan rasa sakit karena hasrat yang selalu menggoda di setiap malamnya.
Tidak lama lagi hasrat dalam diriku akan membeku semua karena godaan bentuk tubuh Keysia yang selalu menggodaku di setiap malam hariku, apa yang harus ku lakukan? Apakah aku akan sanggup menahan hingga, dimana aku akan membawa Keysia ke rumah mewahku, dan memperkenalkannya pada keluargaku.
Max terbangun dan menatap wajah Keysia yang kini tengah terlelap dalam dekapan tubuhnya, ia tersenyum sambil mengusap pelan wajah Keysia yang terlihat begitu sangat mempesona di matanya.
Bersabarlah Keysia, sebentar lagi aku akan membawamu pulang ke rumah. Ke rumah kita, istana kita, setelah aku menemui keluargamu dan meminta restu dengan cara yang baik, biar bagaimana pun mereka adalah keluargamu.
Max menempelkan bibir di dahi Keysia, gadis yang telah menemani hidup dalam kesusahan tanpa pernah mengeluarkan keluh kesah kepada Keysia meskipun ia tau kalau hari yang mereka berdua jalani bersama sangat berat.
Berat di bagian ekonomi, karena selama empat bulan Keysia harus ektra irit menggunakan gaji Max agar dalam satu bulan semua kebutuhan mereka berdua terpenuhi.
Sebenarnya gaji Max cukup untuk sebulan, bahkan bisa lebih, karena ia tau istrinya adalah gadis yang tau cara mengirit uang belanja. Namun ia harus menabung sebagian gajinya untuk menebus buku nikah mereka yang masih tertahan di kantor KUA.
Sehingga mengharuskan Keysia harus ektra benar-benar irit, karena rencana Max setelah buku nikah telah berada di tangan Max berencana ingin menemui keluarga Keysia. Meskipun Keysia melolak keinginan Max, namun Max tetap bersi keras ingin tetap menemui mereka berdua sekaligus meminta restu untuk pernikahan mereka berdua.
Keysia merebahkan tubuhnya di samping Max, menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlihat, lalu mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Keysia hampir terlelap, namun tangan Max mengejutkan dengan apa yang tengah Max lakukan pada dirinya.
Tangan Max menyusup masuk ke dalam baju yang Keysia kenakan, dan mulai menyentuh bagian depan istrinya yang terasa berisi sempurna menurutnya.