
Rezaldin berbohong kepada Max karena ia pasti akan merasa sangat malu jika Max sampai mengetahui apa yang terjadi dengannya.
"Kamu jangan bohong Za, aku ini teman kamu, jadi aku harap kamu tidak berbohong padaku, aku ini teman kamu kan? Jika kamu mengangap aku temanmu maka ceritakan apa yang terjadi denganmu"
Rezaldin yang mendengar ucapan Max hanya terdiam, ia merasa malu jika ia harus berbagi hal ini kepada Max. Namun untuk meringankan beban di hatinya ia memilih untuk menceritakan apa yang dilakukan Vina di belakangnya.
"Vina menghianatiku."
Itulah kata yang terucap dari mulut Rezaldin, Max menghembuskan napasnya pelan. Duduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya di tiang tempat tidur Rezaldin, ketika mendengar apa yang di katakan Rezaldin barusan.
"Akhirnya kamu megetahuinya juga Za."
Rezaldin mengerutkan dahi ketika mendengar apa yang baru saja Max katakan, ia bingung sekaligus penasaran dengan apa yang baru saja Max katakan.
"Maksud kamu apa Tio?" tanya Rezaldin bangun, ikut duduk di lantai tepat di samping Max.
"Sudah lama aku mengetahui hal ini Za."
"Apa? Sudah lama kamu mengetahui hal ini? Sejak kapan kamu tau?” tanya Rezaldin penasaran dengan apa yang baru saja Max ucapkan.
Max kembali menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan, beralih melihat ke arah Rezaldin yang tengah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Sejak awal aku tiba di kota ini, apa kamu ingat? Ketika kamu menemaniku ke pasar untuk membeli semua keperluan yang aku butuhkan di kamar aku. Kaki aku tiba-tiba sakit, sebenarnya itu hanya pura-pura, karena aku tidak ingin kamu melihat Vina bersama dengan pemuda lain yang aku pikir itu adalah kekasihnya. Terlihat dari cara ia memeluk tubuh pemuda yang memboncengnya, dan di pasar malam, aku juga melihatnya makan bersama di dalam warung bersama pemuda yang sama, dan apa kamu tau? Kenapa aku mengajakmu makan di tempat lain? Karena aku tidak ingin kamu melihat hal itu," Max mengingatkan dan juga menjelaskan semua yang tengah ia lihat.
"Apa? Itu berarti Vina telah membohongiku selama ini, ia selalu mengatakan padaku jika la sangat mencintaimu, dan akan selalu menungguku untuk datang melamarnya, namun ternyata! Semua yang di katakan bohong semua."
Rezaldin nampak sangat kesal ketika mengatakan hal itu, ia marah ternyata selama ini Vina hanya mempermaikan cinta tulusnya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini sejak awal Tio? Kalau saja aku tau semua ini dari awal, mungkin hatiku tidak akan sesakit ini lagi."
Max kembali menarik napasnya lalu membuanya secara perlahan, menatap wajah Rezaldin yang nampak sembab di hadapannya.
"Maaf karena tidak mengatakan hal ini padamu, aku tau aku salah, namun aku memiliki alasan. Oleh karena itu aku tidak mengatakan hal ini padamu, hal yang akan membuat kamu terluka, jika saja waktu itu aku mengatakan, apa kamu akan percaya padaku? Di saat kita bertemu dan berkenalan untuk yang pertama kalinya," jelas Max.
Rezaldin mencerna semua kata yang Max katakan padanya, memang benar jika saja waktu itu Max mengatakan hal ini padanya pasti ia tidak akan percaya, dan mungkin akan berakhir dengan kebencian.
Seputaran pertanyaan mengelilingi kepala Rezaldin, ia tadinya hanya memikirkan soal pengkhianatan yang Vina lakukan terhadapnya, namun justru saat ini ia hanya memikirkan siapa Max yang sebenarnya?
"Semua yang kamu katakan itu benar Tio, tapi apa alasan kamu sehingga tidak mengatakan hal ini padaku?" Rezaldin menghadap Max ketika mengatakan itu, rasa penasaran soal siapa Max yang sebenarnya mulai menghampirinya.
"Sejujurnya, aku pernah mengalami kejadian yang hampir mirip. Tapi bedanya aku dulu pernah dijebak dan difitnah lebih kejam daripada fitnah yang aku alami di pekerjaan ini. Aku dijebak dengan cara memasukkan obat tidur di dalam minuman yang aku minum, sehingga aku difitnah berhubungan badan dengan wanita, padahal faktanya aku telah dijebak. Setelah kejadian itu, aku dicaci maki, bahkan sempat diusir dari rumah. Tetapi masalah itu sudah teratasi, mereka yang menjebakku serta memfitnahku sudah berada di penjara. Dan teman aku pernah mengalami hal serupa seperti kamu Za, maka dari itu aku tahu ciri-ciri orang seperti Vina.” Max menundukkan wajah ketika selesai mengatakan itu kepada Rezaldin.
Namun tanpa Max sadari ternyata Keysia berdiri di ambang pintu mendengar semua yang ia katakan, tanpa ia ketahui. Keysia ke kamar Rezaldin karena mencarinya, namun justru ia mendengar semua yang Max katakan pada Rezaldin.
__ADS_1
Apa?! ternyata Tio pernah mengalami kejadian yang serius, Tio pernah dijebak dan difitnah. Apakah Tio saat ini masih mencintai wanita yang menjebaknya? Tetapi hal itu sepertinya tidak mungkin. Apa karena ini? ia tidak melakukan hal itu padaku?
Rasa sedih dan kecewa tergores di hati Keysia ketika mendengar semua yang Max katakan pada Rezaldin, ia tidak tau kenapa ia merasakan hal itu? Apa karena Max adalah suaminya atau ada hal yang lain? Entahlah, namun itu semua telah membuat Keysia merasa sedikit kecewa.
Rezaldin menepuk pelan bahu Max ketika mendengar semua apa yang Max katakan.
"Kisah cinta kita hampir sama Tio, Sungguh hatiku sangat sedih dan terluka. Ketika melihat Vina tengah melakukan sesuatu di dalam kamar HomeStay bersama dengan selingkuhannya," jelas Rezaldin kembali menampakkan wajah sedihnya.
"Sabar, suatu saat dan suatu hari kamu pasti akan menemukan gadis yang jauh lebih baik, dan sangat mencintaimu." Max menguatkan hati Rezaldin, ia sangat tau rasa sakit yang tengah Rezaldin rasakan saat ini.
Entah kenapa Max merasa ingin jadi mak comblangnya Rezaldin dan Alena Veyron.
"Sama sepertimu yang telah menemukan gadis itu?" tanya Rezaldin.
Max termangut-mangut ketika mendengar pertanyaan Rezaldin yang terdengar menohok untuk dirinya.
"Ah, mandi sana, tubuh kamu bauk,"
Max menampakkan wajah sedikit ceria ketika ia mendengar ucapan Rezaldin, ia tidak tau kenapa hatinya tiba-tiba menghangat ketika mendengar pertanyaan Rezaldin.
Keysia masuk ke dalam kamar dengan wajah yang nampak sedikit kecewa ketika mendengar ucapan Max di dalam kamar Rezaldin, ia tidak tau kenapa ia merasa sangat sedih mendengar kata itu.
__ADS_1
Aku akan menunggu dimana Tio akan menceraikan aku, lagian Tio menikahi aku karena tidak ingin merasa malu, dengan kata lain ia hanya terpaksa menikahi aku.