
“Pantas saja Biro Pembangunan Kota telepon kita minta kita untuk ikutan tender! Ternyata gara-gara Alena!”
Adam sekali lagi mengutus Rino dan Yuki untuk bernegoisasi, tapi hasilnya tetap sama. Adam kemudian berpikir sejenak dan akhirnya mengatakan, “Cepat minta Alena balik! Yang penting kita bisa dapetin proyek ini dulu!” Kali ini bukan hanya Rino saja yang pergi, tapi Yuki dan kedua anaknya juga ikut.
“Ngapain kalian datang lagi?” Arya sudah kesal melihat mereka datang mengganggu lagi. Tapi Arya tidak menyangka kalau mereka berempat berperilaku sopan kali ini. Bahkan mereka juga membawakan beberapa hadiah, tapi ini justru membuat Arya dan Nanda semakin curiga.
“Om, tante, Alena ada?” tanya Lara.
“Alena lagi nggak ada di rumah, dari pagi dia sudah pergi sama Max.”
“Om, tante, kalau Alena sudah pulang, tolong kabarin ya. Kami pamit dulu.”
Setelah mereka berempat pergi, Arya memikirkan apa yang barusan terjadi. ‘Ngapain mereka bawa hadiah segala? Mau nyogok ya? Apa jangan-jangan yang Max katakan itu beneran terjadi?’ ucap Arya yang lirih.
Saat itu Max dan Alena sedang pulang ke Apartemennya masing-masing. Alena menuruti nasihat dari Max untuk mematikan Handphone-nya.
Hari sudah semakin malam, saat Rino dan yang lain pergi dari rumah Alena. Mereka berempat menunggu tidak jauh dari sana, tepatnya di pintu masuk kompleks perumahan. Sudah 4 jam lebih mereka menunggu, tapi Alena masih belum juga pulang. Adam pun sudah berkali-kali menanyakan kabarnya.
Rino sudah mulai kehilangan kesabarannya dan menyuruh Lara untuk menghubungi handphone Alena. “Cepat telepon Alena! Kenapa dia masih belum pulang juga?”
Lara mencoba menghubungi berkali-kali tetapi panggilannya tidak tersambung, lebih tepatnya handphone-nya Alena dimatikan.
“Pa, Handphone-nya dimatiin..”
“Hah? Dimatiin? Dia sengaja apa gimana?” Rino pun menghubungi Alena juga, tap hasilnya tetap sama.
“Alena kan gak tahu bakal begini, kebetulan sekali? Tapi kenapa Handphone-nya mati ya?” tanya Daniel.
Hanya saja mereka kembali dengan tangan kosong, emosi Rino mulai meluap-luap. Disaat itu juga Adam menghubungi mereka berempat, dan Rino menjelaskannya.
Mendengar itu Adam pun mengamuk, ia mengerahkan seluruh koneksinya. Jika mereka berhasil mengamankan proyek ini, kekayaan mereka bisa meningkat puluhan kali lipat. “Pokoknya cepat cari Alena! Masalah ini harus selesai besok pagi!” kata Adam.
“Pa, mana aku tahu Alena sepenting itu! Kenapa juga Biro Pembangunan Kota maunya Cuma Alena yang megang proyeknya? Ujar Rino.
__ADS_1
“Jangan banyak bicara, cepat cari Alena! Jika sampai besok pagi belum ketemu, perusahaan kamu juga aku tarik!”
“Ok-oke, aku cari sekarang juga!”
Malam hari itu, keluarga Veyron tidak ada yang tidur. Mereka semua terus mencari keberadaan Alena ke sana kemari. Sementara itu Alena sedang tertidur pulas di Apartemennya. Entah sudah berapa ratus kali keluarga Veyron mencoba menghubungi Alena, tapi tak ada hasil. Orang tua Alena juga berlari ke sana kemari mencari putrinya, tapi tetap tidak ketemu.
Sinar mentari pun menyinari hari yang baru.
“Hilang sudah proyek kali ini! Dividen kalian semua tahun ini saya potong! Dasar nggak guna!” saking marahnya Adam sampai menggebrak-gebrak meja.
“Sudah hampir jam 7, coba kamu hubungi sekali lagi!” perintah Adam ke Lara.
Lara mencoba menghubungi nomor Alena dan ternyata tersambung. “Halo Alena, ini aku aku Lara! Kamu dimana?”
“Iya, nih di Apartemen, ada apa?” tanya Alena dengan wajah kesalnya.
‘Bego gua, kenapa nggak kepikiran kalau Alena kan punya Apartemen’ guman lara dalam hati.
“Oh? Maksud kamu balik ke jabatan sebelumnya ya! Gak usah deh, aku sudah kerjaan baru.”
“Aku tahu aku yang salah!aku janji gak akan ulangi lagi! Kamu harus pulang sekarang!”
“Bukan begitu, seenaknya saja mecat orang lalu direkrut lagi!! Emang kalian pikir aku ini apa? Ok lah kalau begitu, tapi siapa yang mecat aku, datang kesini!”
“Aku yang mecat kamu! Biar aku yang datang ke sana!”
“Gak, kamu mana punya wewenang? Pasti kakek yang mecat, suruh kakek datang kemari! Atau aku nggak akan balik lagi!”
“Oke, aku akan ke sana!” ucap Adam.
‘Tuut tuut tuut...” setelah mendengar jawaban dari Adam, Alena langsung mematikan teleponnya.
‘Alena sudah gila ya? Nyuruh kakek datang ke sana!’ ucap lara dalam hati.
__ADS_1
Adam setuju apa yang telah dikatakan Alena, seketika itu juga Adam merasakan apa yang namanya penghinaan.
Alena sungguh kaget saat mendengar Adam menyetujui kalau Adam mau datang karena sejak dulu Adam selalu berkuasa atas orang lain.
“Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Max, keluarga Veyron benar-benar meminta aku untuk kembali. Tapi kenapa?” kata Alena yang masih bingung.
Alena lalu menghubungi Max untuk menemaninya agar rasa takut Alena menghilang. Setelah menghubungi Max, mereka berdua menuju depan Apartemen untuk menunggu Adam. Sejak kecil Alena selalu hidup di bawah bayang-bayang kakeknya, dan sekarang dia ketakutan sampia sekujur tubuhnya gemetar karena barusan ia memerintahkan Adam datang menjemput Alena.
“Kenapa takut? Dia datang jemput kamu lho!”
Kurang lebih setengah jam kemudian, sebuah mobil sedan berhenti di depan Apartemen, dan disana terlihat Adam. Tanpa sadar Adam melampiaskan emosinya saat bertemu dengan cucunya.
“Alena! Kamu ... ah sudahlah, cepat naik! Ada hal penting yang mau kakek omongin sama kamu! Tapi Max kamu ajak?” ucap Adam.
“Iya kek, buat nemenin aku,” jawab Alena.
Alena syok saat melihat raut wajah kakeknya tampak begitu ramah, sejak kapan Adam tersenyum pada Alena? Di dalam mobil .... Adam bersikap baik kepada Alena.
“Alena, dulu kamu selalu pantengin pembangunan jalur KRL bawah tanah di Timur kota, ‘kan? Sekarang kamu punya kesempatan, Direktur Kevin dari Biro Pembangunan Kota tunjuk kamu untuknyerahin Planning-nya, sekalian jelasin ke dia.”
“Kamu harus berjuang ya! Kakek yakin kamu pasti bisa!”
Dengan begitu Alena yang masih kebingungan diantar ke kantor Pak Kevin. Waktu menunjukkan pukul 9 kurang, akhirnya Alena dan Max tiba di tempat tujuan.
Kevin langsung beranjak dari kursinya begitu bertemu dengan Alena dan segera memberi sambutan, “Non Alena sudah datang? Ayo duduk! Mau minum teh atau kopi?”
“Aku teh, dia kopi,” sahut Max.
“Kamu dengar, ‘kan. Cepat siapin!” perintah Kevin kepada sekretarisnya.
Dengan santainya Max mengambil tempat duduk sementara Alena masih tampak grogi. Orang yang di hadapan mereka adalah Direktur Kevin, kepala administrasi Biro Pembangunan Kota!
Bahkan orang sebesar Rony Setiono saja tunduk ketika bertemu dengan Kevin. Tapi kenapa dia bersikap begitu ramah terhadap Alena? Sikapnya itu tidak ada bedanya seperti Kevin berlutut kepadanya.
__ADS_1