Iam Come Back

Iam Come Back
Kebencian Gio


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Max telah bangun namun tidak beranjak dari tempat tidurnya, ia meraih ponselnya lalu menekan pesan yang ingin ia kirim untuk Keysia.


Max tidak berhenti menghapus dan menulis kembali pesan yang akan ia kirim ke Keysia, ia merasa malu dan juga bingung dengan apa yang ingin ia lakukan.


Apa yang ingin aku lakukan? Bangun sepagi ini hanya untuk mengirim pesan untuk Keysia. Apakah aku masih waras atau tidak! Kirim? Tidak! Kirim? Tidak! Ah, kirim saja apa salahnya?


Sukses.


Pesan yang Max kirim ke handphone Keysia kini telah sukses, ia merasa bingung melihat pesannya sampai. Namun tidak ada tanggapan ataupun balasan dari Keysia.


Apa Keysia masih tidur? Atau sudah mulai sibuk dengan semua pekerjaannya, apalagi usaha keluarganya saat ini sedang mengalami masalah.


Max bangun lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri, dan setelah itu ia akan bersiap untuk segera pergi ketempat dimana ia bekerja.


Pagi yang cerah, tapi tidak secerah hatiku, berkirim pesan, namun hingga saat ini pesanku belum juga di balas.


"Ayo kita berangkat Tio" ajak Rezaldin keluar dari dalam kamar lalu mengunci dari luar pintu kamar kos yang ia tempati.


"Ayo"


Mereka berdua berjalan beriringan, kali ini Rezaldin terlihat lebih banyak diam, hingga membuat Max merasa bingung melihat Rezaldin diam..


"Za kamu kenapa?" tanya Max melihat sejenak ke arah Rezaldin, lalu beralih melihat ke arah jalan setapak yang ia gunakan untuk berjalan kaki untuk segera sampai di tempat kerjanya.


"Hem, aku tidak apa-apa Tio, aku hanya merasa masih sangat mengantuk dan itu membuatku terlihat seperti ini." Rezaldin sedikit menjelaskan apa yang tengah terjadi dengannya.


"Baiklah, akan lebih baik kalau kita sarapan terlebih dahulu, agar kita kuat dan lebih semangat untuk bekerja." Ajakan Max.


"Ayo, isi perutku juga sudah mulai melakukan demo." Rezaldin menampakkan senyuman tipisnya melihat ke arah Max yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Waktu begitu sangat cepat berlalu, jam makan siang di kantin tempat ia bekerja, Max secara halus menolak tawaran makan siang bersama yang Lisa tawarkan untuknya.


"Maaf Lisa, aku telah memesan makanan, dan akan lebih baik jika kamu mengajak makan Gio. Lihatlah sepertinya ia sangat mengharapkan kamu makan siang bersamanya," ucap Max melihat ke arah Gio yang kini tengah menatap tidak suka ke arahnya.


"Tidak! Aku tidak sudi makan bersama dengannya." jawab Lisa, dan kata-katanya terdengar jelas di telinga Gio, membuat Gio sangat kesal dengan apa yang tengah ia dengar.


“Semua ini karenamu Tio, Lisa tidak memperdulikan aku lagi semua karena dirimu, hanya dirimu, awas saja kamu akan mendapat ganjaran dengan apa yang tengah kamu lakukan padaku.” Ucap Gio dengan suara pelan.


Rasa benci dan iri Gio semakin menjadi-jadi kepada Max, hingga ia menyusun rencana agar Max dikeluarkan dari tempat kerjanya dan menghubungi kedua teman gengnya untuk segera berkumpul di depan perusahaan dimana ia bekerja bersama dengan Max saat ini.


"Temui aku sore hari ini, di depan tempat aku bekerja, sudah waktunya kita melakukannya. Pemuda itu semakin bertingkah, aku sangat tidak menyukai semua yang telah ia lakukan. Lisa adalah wanita yang aku sukai, namun justru Lisa lebih memilih mendekatinya dari pada diriku.


Setelah selesai menghubungi kedua anggota gengnya Gio mulai menampakkan senyuman jahatnya, ia tersenyum karena nanti sore ia akan memberi perhitungan untuk Max.


Tunggu saja, kamu akan mendapatkan hukuman dari apa yang telah kamu lakukan Tio.


"Aku pulang duluan Za," ucap Max menaikkan tangan pada Rezaldin.


"Hati-hati Tio"


"Oke"


Max berjalan melewati pintu gerbang perusahaan yang ia tempati bekerja, dan tanpa sengaja melihat dua pemuda yang melihat sinis ke arahnya.


Namun Max hanya menanggapi senyuman sinis kedua pemuda itu, karena menurutnya tidak penting juga meladeni orang yang tidak ia kenal.


Max berjalan di antara para pekerja yang lainnya hingga di simpang tiga jalan, para pekerja mengambil alur jalan masing-masing untuk sampai di rumah atau kontrakan mereka. Hingga membuat Max berjalan sendiri menyusuri jalan yang mulai nampak sepi.


Max terus melangkahkan kakinya untuk segera sampai di kost yang ia tempati, namun tiba-tiba seorang pengendara motor melajukan motornya dengan sangat kencang, hingga membuat Max hampir tertabarak jika saja ia tidak berbalik dan melihatnya. Tapi balok yang di bawa kedua pengendara motor yang ingin memukul kepala Max hanya membuat goresan di wajah Max.

__ADS_1


Ah.


Suara Max ketika wajahnya mendapat goresan dari balok yang di bawa kedua pemuda yang mengendarai motor tersebut, hingga membuat wajah Max mengeluarkan cairan berwarna merah karena luka goresan di wajahnya.


Siapa mereka? Kenapa mereka ingin melukaiku? Apa salahku?.


Pemuda itu menghentikan laju motornya, lalu turun dan berjalan ke arah Max sambil meregankan otot-otot lehernya, Max bisa melihat kalau kedua pemuda itu bersedia menyerangnya.


Kedua pemuda itu semakin mendekat ke arah Max, Max bisa melihat pemuda yang membawa balok kini telah siap untuk memukulnya, sementara pemuda yang satunya siap menyerangnya dengan caranya sendiri.


"Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian menyerangku? Aku tidak mengenalmu" teriak Max sedikit kesal kepada kedua pemuda yang kini tengah tersenyum sinis melihat ke arahnya.


"Tidak usah banyak tanya, hajar" jawabnya kasar.


Pemuda itu mulai melayangkan balok untuk memukul tubuh Max namun dengan sigap Max menghindari pukulan itu agar ia tidak terkena. Kedua pemuda yang menyerangnya kewalahan untuk melayangkan tinjunya tepat pada sasarannya.


Seorang Jenderal Besar yang ditakuti oleh semua orang di dunia militer maupun dunia bawah, tiba-tiba diserang oleh dua pemuda yang menurut Max hanya seekor semut.


Max mulai menyerang balik dengan menggunakan beberapa gerakan saja, dua pemuda itu langsung tergeletak di jalanan itu.


“Ah ada-ada saja dua orang ini, kenali lawanmu sebelum menyerang, dasar bodoh!” ucap Max dengan sedikit kasar.


Pada saat itu juga, kejadian itu sudah direkam oleh Gio untuk dijadikan bukti kekerasan terhadap orang. Ini bisa dibilang kalau Gio sudah menjebaknya agar Max dikeluarin dari perusahaan yang Max tempati.


Setelah mengatasi dua pemuda itu, Max kembali berjalan menuju pulang ke kostnya. Max juga mampir dulu ke sebuah warung untuk membeli makanan untuk ia makan.


Tibanya Max di kostnya, ia langsung menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan badanya. Setelah membersihkan badanya, ganti baju, dan membersihkan lukanya yang terdapat diwajahnya.


Kemudian Max memakan makanan yang ia beli di warung tadi dengan memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2