Iam Come Back

Iam Come Back
Terhipnotis


__ADS_3

"Maksud aku? bukan aku yang melakukan, namun aku yang di tuduh," itulah yang gadis itu katakan sambil menundukkan wajah.


Max bisa melihat kesedihan yang di pancarkan oleh mata ungu gadis yang duduk di sampingnya.


“Apa kamu juga mengalami hal yang sama? Sama seperti yang aku rasakan saat ini?" Tanya Max tanpa beralih melihat ke arah lain.


"Iya." Jawab gadis itu singkat berlaih melihat ke arah Max, namun tanpa sengaja mata mereka berdua saling bertatapan.


Dengan cepat gadis itu beralih melihat ke arah lain, karena merasa aneh menatap bola mata pemuda yang ada di sampingnya.


"Lupakan soal aku, dan pokus pada masalahmu, cari tau siapa yang telah melakukan semua ini padamu. Pelajari agar ini tidak berlanjut lama, rasa malu akan berdampak buruk pada pandangan sesama."


Setelah mengatakan itu gadis mata ungu itu beranjak dari duduknya, berjalan menjauh dari tempat yang Max tempati duduk.


"Hei," teriak Max.


Namun gadis itu tidak berbalik melihat ke arah Max, ia justru terus melanjutkan langkahnya berjalan semakin jauh dari tempat dimana Max tengah duduk saat ini.


Max menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan melihat ke arah gadis yang baru saja dikenalnya, namun yang jadi masalah ia tidak mengetahui nama gadis itu.


“Aku sangat naif, tidak menanyakan nama gadis itu sebelumnya, namun mata itu sangat indah, aku bisa melihat kesedihan yang di alami oleh gadis itu.” Ucap Max pelan.


Max kembali memikirkan apa yang baru saja gadis mata ungu itu katakan, ia harus mencari tau siapa yang telah melakukan semua ini padanya.

__ADS_1


Mungkin akan lebih baik jika aku kembali bekerja, biarkan saja mereka memandang aku dengan sebelah mata, yang jelasnya aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan, jam istirahat juga hampir selesai.


Max beranjak dari duduknya, meninggalkan bangku yang baru saja ia tempati duduk bersama dengan gadis mata ungu itu, sambil berfikir apa yang akan ia lakukan untuk membersikan namanya di perusahaan tempat ia bekerja.


Max kembali melewati jalan yang baru saja ia lewati untuk segera sampai di perusahaan dimana ia bekerja, tanpa memikirkan pandangan Gio, Max berjalan ke arah Rezaldin yang kini tengah mendorong gerobak.


"Za, apa masalah ini masih ramai di perbincangkan?" tanya Max pelan.


Bahkan pada Rezaldin saja aku merasa sangat malu melihat wajahnya, namun untuk membersikan namaku, aku akan melakukan semua ini.


Max merasa sangat malu dituduh mencuri di tempat ia bekerja, untuk bertahan dengan kehidupan barunya ia memilih untuk membersikan namanya daripada harus kembali dengan nama yang buruk.


"Kamu tidak usah memikirkan hal itu, aku percaya kamu bukan orang seperti itu Tio, sudah mulai bekerja lagi agar gaji kita banyak," jawab Rezaldin menyemangati Max yang kini tengah di landa kegundahan.


Sementara Gio masih saja memasang wajah sinis melihat ke arah Max, aku tidak akan berhenti membuat masalah sebelum kamu di keluarkan dari pekerjaanmu Tio.


Max kembali bekerja, sama seperti yang ia lakukan, di hari-hari sebelumnya. Gadis yang Gio sukai yang bernama Lisa, masih memperlakukan Max dengan sangat baik, bahkan lebih baik dari sebelumnya.


Dengan senyuman Max meraih piring yang di berikan Lisa padanya, dan tanpa sengaja mata Max melihat ke arah Gio yang terus menatap tajam ke arah Lisa, Max terus melihat tatapan mata Gio sampai ia melihat bergantian ke arah Lisa yang kini sibuk menyajikan makanan untuknya.


Apa Gio menyukai Lisa? Kenapa tatapan matanya seperti merasa kesal melihat ke arah Lisa yang kini tengah sibuk menyajikan makanan untukku? Apa mungkin karena ini? la tidak suka denganku? Atau ada hal yang lain, ah, aku juga harus mencari tau soal ini.


Max berdiri di halte sendirian memandangi langit yang terlihat sangat mendung, langit juga ikut merasakan rasa sakit yang tengah ia rasakan, tuduhan yang di tunjukkan untuk dirinya, membuatnya membuat harga dirinya tercoreng rendah di mata para pekerja yang lainnya

__ADS_1


Namun di antara semua para pekerja, banyak yang tidak percaya jika ia melakukan hal yang seperti itu, semua karena kebaikan yang ia tunjukkan pada semua rekan-rekan kerjanya.


Hujan mulai turun membasahi bumi, sementara Max menikmati butiran air hujan menerpa wajahnya. Beban di hatinya merasa sedikit hilang ketika ia menutup mata menikmati sentuhan air hujan membasahi seluruh wajahnya, hingga mengingat ucapan gadis yang bermata ungu itu.


Max membuka matanya, ketika ia mendengar sebuah langkah kaki yang berjalan sedikit cepat menuju arah dimana saat ini ia tengah berteduh.


Max melihat seorang gadis berlari menuju ke arah halte, ia tidak berhenti menatap wajah gadis itu. Hingga gadis itu berdiri di sampingnya sambil mengibaskan rambutnya yang basah, bahkan wajah Max tersapu oleh rambut basah gadis itu.


"Maaf," itulah kata utama yang keluar dari dalam mulut gadis itu ketika tanpa sengaja melihat Max menyapu wajahnya dengan tangannya akibat terkena oleh rambut basahnya.


Mata Max seperti terhipnotis melihat penampilan gadis yang ada di hadapannya, gadis itu tidak menggunakan gaun mewah dan mahal


Namun yang digunakan gadis itu hanya baju kaos berwarna biru tua di padukan dengan celana jeans berwarna biru langit, sepatu cats putih yang ia gunakan, sepatu yang hampir sama yang pernah menginjak kakinya ketika berada di dalam kereta, yang membuat penampilan gadis itu terlihat sangat menawan di mata Max.


Bentuk tubuh yang mungil, tinggi sebatas bibir Max, bentuk wajah yang tirus, bibir mungil, hidung kecil mancung semua terlihat sempurna di mata Max.


Eh, tunggu dulu, mata itu? bulu mata itu? alis itu? Kenapa sangat mirip dengan gadis yang aku temui tempo hari di pantai. Kalau memang dirinya kenapa ia tidak mengenalku, justru ia hanya melihat aku sekilas lalu kembali melihat ke arah lain.


Cukup lama Max terus melihat ke arah gadis yang ada di hadapannya, bahkan Max menyandarkan tubuhnya di tiang besi agar bisa melihat gadis yang ada di hadapannya yang tidak berhenti mengacak rambut panjangnya.


Cantik, dan nampak sangat menarik di mataku, Max tidak berhenti menatap ke arah gadis yang ada di hadapan, ia tidak berhenti mengagumi kecantikan wanita yang ada di hadapannya.


Hujan mulai sedikit mereda, dan membuat gadis itu berlari meninggal kan halte dimana Max masih menatap ke arah gadis yang kini semakin menjauh darinya, eh dari halte.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan? Aku tidak pernah menatap ataupun mengagumi wanita, gadis itu benar-benar telah membuat aku terhipnotis dengan semua pesona yang ia miliki.


__ADS_2