Iam Come Back

Iam Come Back
Tanya keadaan


__ADS_3

"Oh begitu, lega rasanya mendapatkan jawaban darimu. Kirain kamu ...”


"Ah, sudahlah, akan lebih baik jika kita melanjutkan pekerajaan kita," Max beranjak dari duduk berjalan menuju arah dimana tempat ia bekerja di ikuti oleh Rezaldin di belakangnya.


Sebulan telah berlalu, saat ini Max mulai sibuk dengan kehidupan barunya di kota C, kota yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Menjalani hidup tanpa membawa apapun dari rumah mewahnya dan memilih tinggal di dalam kontrakan sempit.


Bekerja sebagai buruh kasar di kota C itulah yang tengah Max kerjakan, meski pun sebelumnya ia hanya bisa menandatangani berkas dan dokumen atau menjalankan misi dalam dunia milliter.


Kehidupan baru yang Max jalani benar-benar membuatnya bisa merasakan susahnya hidup tanpa memiliki apa pun, bahkan untuk makan saja ia harus berhemat.


Di jam makan siang di tempat ia bekerja, Max duduk bertopang dagu di meja kantin. Ia memikirkan apa saja yang tengah terjadi di rumah dan di perusahaannya saat ini, ia terus memikirkan semuanya.


Mengingat saat ini sudah cukup satu bulan ia meninggalkan rumah dan perusahaan, hingga akhirnya ia di kejutkan oleh tepukan tangan Rezaldin di bahunya.


"Tio, kamu memikirkan apa?" tanya Rezaldin duduk di samping Max.


"Aku tidak memikirkan apa-apa," bohong Max beralih melihat ke arah Rezaldin yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Benarkah? namun sepertinya aku melihat sesuatu yang kamu sembunyikan."


Selidik Rezaldin nampak sedikit tidak percaya dengan apa yang di katakan Max kepadanya.


"Benar Za, aku tidak memikirkan apa-apa. Oh iya, apa kamu sudah memesan makanan?" tanya Max melihat ke arah Rezaldin.


"Belum, aku menunggu Lisa membawakan kita makanan sama seperti hari-hari sebelumnya."


Hahaha.

__ADS_1


Max tertawa di saat ia mendengar apa yang baru saja Rezaldin katakan yang menunggu Lisa datang membawakannya makanan.


Dan memang benar yang di katakan Rezaldin, setelah beberapa saat Lisa datang dengan membawa rantang makanan untuk mereka bertiga.


Pucuk di cinta bulan pun tiba itulah yang terlintas dalam pikiran Rezaldin saat ini.


"Makan Tio,” ucap Lisa memberikan piring kepada Max untuk ia gunakan makan.


"Terimakasih, kamu tidak perlu melakukan hal ini Lisa, kami bisa memesan makanan di sini."


Merasa tidak enak, mungkin itulah yang tengah Max rasakan saat ini, karena tiap hari Lisa membawa makanan untuk mereka berdua makan.


Makan siang yang Lisa bawa kini telah habis tak tersisa di nikmati oleh mereka bertiga. Namun Tanpa mereka bertiga sadari seseorang tengah menatap tidak suka melihat ke arah mereka bertiga.


Jam makan siang berlalu dengan sangat nikmat, Max dan Rezaldin kembali melanjutkan pekerjaannya karena jam makan siang telah berakhir.


"Ayo Za, semangat," ucap Max menyemangati Rezaldin di saat ia melihat Rezaldin tengah mendorong gerobak yang penuh dengan ikan segar untuk ia bawa masuk ke dalam tempat para pekerja wanita untuk di bersihkan kemudian di kemas.


Hingga jam pulang kerja Max duduk sendiri menunggu Rezaldin keluar dari dalam ruangan yang ia tempati bekerja. Namun ternyata malam ini Rezaldin lembur, hingga akhirnya Max pulang sendiri ke kontrakannya karena malam ini Rezaldin pulang agak terlambat.


Max kembali ke kontrakan dengan membawa beberapa kartu baru yang akan ia gunakan untuk menghubungi orang tua dan adiknya.


la menggunakan jalan setapak untuk segera sampai di kamar kontrakannya. Max membuka kunci kamarnya setelah ia tiba di depan pintu kamarnya masuk.


Max berjalan ke arah tempat tidur ia meletakkan kartu yang telah ia beli di atas tempat tidur, namun sebelum ia mengaktifkan terlebih dahulu ia membersikan diri.


Seharian berada di tempat ia bekerja membuat sekujur tubuh Max berbau ikan, karena perusahaan yang ia tempati bekerja adalah perusahaan yang mengelola sari laut.

__ADS_1


Satu persatu ia mencopot pakaiannya meraih handuk lalu melilitkan di pinggangnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersikan diri terlebih dahulu karena setelah itu ia akan menelpon orang tua dan adiknya, ia ingin menanyakan soal perusahaan dan tentu ingin mengetahui kabar orang tua dan adiknya itu..


Setelah selesai membersihkan diri, ia juga telah selesai mencuci pakaiannya. Hidup sendiri harus melakukan semua itu mulai dari mencuci pakaian, memasak semuanya harus di lakukan sendiri, hidup sederhana ternyata rasanya seperti ini, itulah yang terlintas dalam pikiran Max saat ini.


Max berjalan keluar, berjalan menuju arah lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia gunakan, dan setelah itu ia akan menghubungi Rena adiknya.


Rena terus menatap ke arah langit-langit dalam ruangan kerjanya, ia merasa sangat sedih memikirkan kemana kakaknya saat ini telah pergi, sudah satu bulan kepergian Max sekalipun ia tidak pernah menelponnya.


Trinsss.


Suara ponsel Rena berdering nyaring di sampingnya, Rena melirik sejenak ke arah ponselnya dan memperlihatkan sebuah nomor baru yang masuk. Mungkin nomor Max itulah yang ada di pikiran Rena ketika melihat sebuah nomor baru tertera di layar ponselnya.


Jujur selama sebulan ini Rena terus memikirkan kehidupan yang di jalani Max di luar sana, berjalan tanpa tujuan bukanlah hal yang mudah bagi Max, itulah yang selalu ada di dalam pikiran Rena.


"Halo," jawab Rena cepat, karena ia sangat berharap jika yang menelponnya adalah Max saudaranya yang telah pergi selama sebulan ini tanpa kabar.


Rena tersenyum ketika mendengar suara hembusan napas seseorang yang begitu sangat ia kenal.


"Kak Max, aku tau ini pasti kamu kan?" ucap Rena tersenyum.


"lya ini aku Rena, bagaimana keadaan kamu? Dan kondisi perusahaan kita?" tanya Max dari balik telpon, dengan nada suara yang terdengar sangat berat.


"Kakak sehat? Apa semuanya baik-baik saja? Dan bagaimana kabar kakak? Kakak tinggal dimana sekarang?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang Rena lemparkan kepada kakaknya.


Rena merasa sangat senang mendapat telpon dari Max, rasa khawatir yang sebulan ini ia menghampirinya kini lenyap seketika, ketika mendengar suara kakak yang begitu sangat di khawatirkannya.


"Semuanya baik Rena, aku sehat dan baik-baik saja. Soal tempat tinggal aku, belum saatnya kamu mengetahui hal itu, nanti jika waktunya tiba. Aku akan menyuruhmu untuk datang menemuiku dan menjemputku untuk kembali pulang ke rumah, aku merindukanmu dan suasana di rumah dan di kantor kita.” ucap Max pelan.

__ADS_1


Sedikit rasa bersalah terbesit di hati Max yang membiarkan adiknya mengurus perusahaan sebesar itu sendirian Namun Max selalu yakin jika adiknya adalah orang yang terbaik bisa dipercaya dan di andalkan dalam urusan bisnis, apalagi Rena sekarang adalah big bosnya.


"Aku senang mendengar jika kakak dalam keadaan baik-baik saja, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, apa kamu ingin mendengarnya? Atau tidak?" tanya Rena pelan.


__ADS_2