Iam Come Back

Iam Come Back
Hadiah untuk Rena


__ADS_3

Kemudian Viola membalikkan badan dan pamit kepada Dennis dan orang tuannya, “Om tante, saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya akan segera kembali.”


Harrison tiba-tiba berdiri dan mengatakan, “Begini saja, kami ikut denganmu. Kami juga ingin melihat bagaimana pekerjaan dan kantormu.”


Viola awalnya tidak ingin mengiyakan, namun dia menatap Max dan meminta persetujuan.


“Baiklah, kalian ikut saja.” Kata Max.


Sebelum pergi, Dennis terlebih dulu ke kasir untuk membayar makanan. Glenn dan istrinya semakin menyukai Dennis.


Setelah tiba di parkiran, Viola menatap Max dan berkata, “Ayo naik mobilku, aku akan menunjukan beberapa rumah padamu.”


“Baiklah, kamu yang paham pada daerah ini.” Ucap Max.


Viola pun menyetir mobil dan di mobilnya ada orang tuanya serta Max, mereka menuju ke rumah yang dimaksud oleh Viola. Kira-kira satu jam kemudian, mereka telah sampai di daerah pinggir kota yang memiliki pemandangan luar biasa.


Namun setengah jam kemudian, Viola menghentikan mobilnya di sebuah villa besar.


“Viola, bukankah dia mau membeli rumah? Mengapa kita melihat villa?” Dennis bertanya setelah turun dari mobilnya.


Viola menatap mereka dan mengatakan, “Max memang mau beli villa kok.”


Semua orang tercengang kaget mendengarnya! Mereka melihat Viola dan Max dengan tatapan tidak percaya.


“Be-beli villa?” Dennis mengulangi perkataan Viola dengan nada gemetar.


“Iya, Max mau beli villa yang ada pemandangan bagus. Jika hanya ingin membeli villa yang ada di Green Mountain House sudah cukup, tidak perlu mencari yang lain lagi kan.” Jawab Viola.


Harrison dan Dennis sungguh terkejut. Rumah mereka memang di Green Mountain House, namun mereka membelinya dengan mengerahkan seluruh tabungan mereka. Mereka tidak akan sanggup membeli properti di villa Green Mountain House.

__ADS_1


Villa yang ada di sini sangatlah mahal, harganya mencapai ratusan miliar. mereka tidak percaya Max mampu membeli villa di sini! Bahkan Glenn dan Nadia pun tidak percaya.


Mereka paham dengan betul latar belakang yang dimiliki Max. Mana mungkin bisa membeli villa? Dia sudah bukan Max 6 tahun yang lalu yang memiliki segalanya! Sekarang dia tidak punya apa-apa!


Tiba-tiba ada gerombolan orang yang keluar dari dalam kompleks villa. Glenn dan Nadia melihat gerombolan itu, mereka mengenali orang yang memimppin gerombolan orang tersebut.


Dia adalah bos properti Green Mountain House, Darius Bradley, yang juga adalah bos tertinggi di perusahaan Viola bekerja. Dia pernah bertemu dengan Darius di sebuah acara tahun baru.


Darius langsung berjalan ke hadapan Max dan berkata dengan hormat dengan sedikit membungkukkan badan, “Tuan Max yang terhormat, anda bisa menghubungi saya jika anda datang ke sini, saya pasti akan menjemput anda.”


“Selamat datang Tuan Max!” para karyawan di villa Green Mountain House menyapa Max dengan serempak.


Dennis dan Harrison sangat syok melihat pemandangan itu! Mengapa dia bisa mendapatkan perlakuan istimewah seperti ini?  Glenn dan Nadia mencoba mencermati Max sekali lagi.


“Tidak perlu repot-repot, aku datang ke sini hanya untuk membeli sebuah villa.” Ucap Max dengan tenang.


“Apa dia sudah pernah membeli properti sebelumnya?” tanya Glenn dan Nadia ke Viola.


Glenn dan Nadia syok mendengar perkataan dari Viola.


“Gila sekali, 240 miliar dibayar cash?” guman Glenn dalam hati.


“Tuan Max, mari ikut dengan saya.”


Darius langsung mempersilahkan Max untuk menuju ke kantor marketing. Di dalam kantor marketing, sudah ada sampanye untuk menyambut Max, kelihatannya mereka telah menyiapkan kedatangan Max dengan sangat baik.


“Tuan Max, anda ingin membeli villa yang seperti apa?” tanya Darius pada Max.


“Untuk adik saya, yang paling mahal saja!” jawab Max tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


Max merasakan obat penyesalan yang amat dalam. Karena masalah dia yang dulu diangkat menjadi big bos, yang mengakibatkan orang tua dan adiknya Max ikut terusir dari rumah. Dan membelikan sebuah villa bukanlah apal-apa baginya.


Tapi tindakan ini membuat Harrison dan Dennis serta lainnya tercengang. Jumlah aset perusahaan Harrison saja tidak mencapai 100 miliar, sedangkan Max bisa membeli villa seharga ratusan miliar!


Mereka teringat sebelumnya telah menertawakan Max, rasanya ingin menggali lubang dan menenggelamkan diri mereka! Mungkin sekarang di mata Max, mereka hanyalah badut jalanan.


“Tuan Max silahkan ke sini, ini adalah villa paling mahal di kompleks villa Green Mountain House. Harganya 300 miliar, kami berikan diskon 40 miliar untuk tuan Max sebesar 40 miliar, jadi hanya 260 miliar saja. Villa ini memiliki berbagai ...” Darius mulai menjelaskan secara detail villa ini.


“Oh baik, boleh juga nih. Apakah villa ini sudah bisa ditinggalin malam ini?” Max bertanya.


“Oh kalau soal itu, tentu saja bisa! Semua furnitur sudah lengkap dan villa ini juga dilengkapi dengan 4 orang ART, 1 orang kepala ART, 1 buah mobil ART, serta 1 orang sopir.” Jawab Darius.


Kemudian Max mengeluarkan Black Cardnya dan membayar villa itu dengan santai dengan disaksikan oleh semua orang. Lalu Max menujuk Viola dan mengatakan, “Gunakan namanya sebagai sales dari transaksi ini!”


“Baik, saya mengerti, Tuan Max jangan khawatir soal itu.” Jawab Darius dengan rasa hormat.


Viola disaat itu tidak tahu harus tertawa atau menangis, dari transaksi ini, komisi yang dia dapatkan setidaknya 10 miliar! namun dia sama sekali tidak melakukan apa-apa pada transaksi ini.


Gleen dan Nadia sungguh terkejut, mereka langsung merasa Dennis biasa-biasa saja. Harta dan properti yang mereka miliki sudah tidak tertarik lagi di mata Glenn dan Nadia.


Malamnnya, Max pulang ke rumah bukan lagi ke apartemen. Karena orang tua Max sekarang tinggal di rumah Max.


“Pa, Ma, dan Rena. Aku memiliki sebuah hadiah untuk adikku yang tercinta, aku membelikan kamu sebuah villa di kompleks Green Mountain House. Dan hadiah untuk papa sama mama adalah membalaskan dendam kita ke anggota inti keluarga Setiono saat ini, serta merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita.” Ujar Max.


“Hah? Apa? Villa? Beneran kak? Bagaimana kamu bisa membelikan aku villa kak?” ucap Rena yang sangat terkejut mendengar perkataan Max.


“Iya benar, sebuah villa. Kamu nggak perlu tahu bagaimana aku membelinya, pokoknya kamu sudah memiliki villa untuk kehidupan di masa depan.” Jawab Max.


“Anakku, kamu sungguh memperhatikan adikmu. Kami sebagai orang tua sungguh tersentuh apa yang kamu katakan, terimakasih anakku.” Ucap Mark dan Lula yang terharu.

__ADS_1


Hati Max menjadi sangat tenang setelah melihat kedua orang tuannya serta adiknya sudah hidup dengan baik lagi.


__ADS_2