
Naufal memang mengkhususkan diri pada informasi dan data-data intelijen. Tentunya dia sudah mengetahui tentang rencana kedatangan mereka ke kota S. Bahkan dia yakin, hanya dia lah yang tahu lebih banyak tentang mereka dibanding yang lainnya.
"Bisakah kita membicarakan hal yang menyenangkan sekarang?" Max dengan santai menggoyangkan gelas anggur merah di tangannya.
Dag!
Jeffrey jatuh berlutut di depan Max dan berkata dengan emosi, "Jenderal Dragon Lord, maafkan saya yang tidak mengenali Anda. Tolong selamatkan hidup saya! Saya mohon ..."
Dug! Dug! Dug' Jeffrey terus menerus membenturkan dahinya ke lantai.
Max mencibir dan berkata, "Saya tidak membutuhkan nyawa kamu. Saya hanya menginginkan video!"
Mendengarnya Jeffrey semakin ketakutan.
"Jenderal Dragon Lord, saya akan menyerahkan videonya dengan kedua tangan ini! Apa pun yang Anda inginkan, akan saya lakukan.”
"Oke, bagus kalau begitu!”
Segera Jeffrey mengeluarkan flash disk yang berisi file video yang dimaksud dan membawanya ke Max.
"Putar videonya."
Segera ketika video itu ditayangkan, tampak pemandangan yang sangat mengesankan di tepi danau saat Max diserang oleh segerombolan orang.
Dan tidak disangka dari kejauhan terlihat ada Pak wali kota S yang terdahulu, yang bernama Eko Hermawan.
Saat Max tertembak, ekspresi wajah Eko malah tersenyum. Ternyata Eko Hermawan sudah lama bersekongkol dengan rumah tangga Rony untuk membuat Max terbunuh.
Setelah menonton video tersebut, wajah Max berubah muram. Suhu di dalam ruangan seketika menjadi lebih dingin. Hingga Jeffrey pun bergidik sendiri. Pria di hadapannya tampak sangat menakutkan, seakan-akan sekali dia marah, dia dapat membalikkan semuanya.
"Inilah yang telah terjadi, Jenderal Dragon Lord. Pak wali kota S terdahulu, penjabat-penjabat lainnya, dan segerombolan orang itu sudah bekerja sama dengan rumah tangga Rony. Setelah Anda menghilang selama 6 tahun ini, pak wali kota S terdahulu yang sudah purna dari jabatannya sekarang menjadi direktur di sebuah perusahaan. Penjabat lainnya juga dipromosikan, masing-masing dari mereka bertanggung jawab atas sebuah perusahaan. Merekalah yang dengan ceroboh telah mencoreng nama Anda di media," jelas Jeffrey.
KRAAK!
Dia menyaksikan dengan ngeri ketika Max menghancurkan gelas anggur yang ada di tangannya menjadi pecah berkeping-keping.
"Besok pergilah menemui Eko Hermawan," katanya dingin.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Max bangkit dari kursinya dan kemudian pergi bersama dengan Sebas.
Sepeninggal keduanya, Jeffrey masih berlutut di lantai dan tidak berani bergerak sedikit pun. Seluruh tubuhnya gemetaran dan banjir keringat dingin.
Sebelum Max datang ke markasnya, Peter menelepon Jeffrey untuk pergi ke rumah utama keluarga Setiono dengan maksud untuk memancing Jeffrey dan Joan. Pada saat itu Jeffrey setuju.
Tapi sekarang dia menyesal. Andaikan dia memiliki 1.000 orang bersamanya pun, dia tidak berani menentang mereka.
Sekarang Jeffrey mengerti mengapa tidak ada informasi apa pun setelah Max tertembak. Selama ini, dia hanya tahu bahwa Max dan Joan pernah bertemu di suatu tempat.
Ketiadaan informasi ini membuktikan bahwa Max tidak benar-benar terbunuh. Dan semua informasi ini adalah rahasia militer.
Kemudian Max dan Sebas datang ke sebuah villa yang merupakan termpat tinggal dari orang-orangnya Sebas.
"Jenderal, kelima orang itu yang merupakan pelaku penyerangan tehandap Anda sudah datang," bisik Sebas.
"Nah, bawa mereka masuk!" kata Max dingin.
Sambil duduk di sofa, Max melihat-lihat data dari kelima pria itu. Setelah selesai melihat data tersebut, ternyata mereka semua adalah seorang pembunuh.
Kelima memandang Max dengan ekspresi arogan.
Max mencocokkan wajah mereka dengan data yang ada di tangannya, lalu dia menyebut nama mereka satu per satu "Yoga, Dika, Dama, Budi, Fajar"
Kamu siapa? Mengapa membawa kami semua ke sini?" Tanya Budi sambil memberinya tatapan dingin.
"Mungkin kalian semua sudah tidak mengenal saya. Saya adalah Max Setiono, yang kalian coba bunuh 6 tahun yang lalu."
"Apa?! Max Setiono?! Tidak mungkin! Dia sudah tidak ada di muka bumi ini!!" Setelah mendengarkan namanya mereka semua berseru kaget.
Untuk mengatasi suara keterkejutan mereka, Max menaikkan nada bicaranya agar semua mendengarkannya. "Jangan khawatir. Saya hanya ingin mencari informasi tentang rencana pembunuhan terhadapku yang kalian lakukan 6 tahun yang lalu ...”
"Selama kalian menceritakan semuanya, saya akan membiarkan kalian pergi." Ucap Max.
"Apa hubungannya denganmu? Ayo kita pergi dari sini! Kalau tidak pergi kita akan semakin dipermainkan olehnya." ajak Budi ke semua rekannya.
Mereka semua memilik andil di balik layar dan tampak jelas mereka sama sekali tidak ada rasa takut ataupun bersalah.
__ADS_1
"Jadi kalian tidak mau memberitahuku?" tanya Max.
CRAK!
Tanpa berkata apa pun, Max meletakkan sebuah pistol di atas meja beserta beberapa peluru di sebelahnya.
Melihat itu, wajah kelima pria itu seketika berubah, karena mereka pada saat ini semua senjata mereka telah diamankan oleh bawahan Sebas.
"Kesabaran saya ada batasnya" kata Max dengan tegas sambil menatap Budi dengan dingin.
Budi tertawa dan tersenyum dingin, ujarnya, "Emang kami takut sama mainanmu? Memangnya Anda berani membunuhku di tempat seperti ini?"
Kelima pria itu pastilah memiliki alasan untuk tidak membuka mulut. Siapakah orang yang berada di balik layar? Jelas-jelas mereka sama sekali tidak takut dengan ancaman Max.
Max tetap diam. Dia mengambil sebutir peluru dan membongkarnya. Lalu dia menuangkan bubuk mesiu yang ada di dalamnya ke atas meja dan menyalakan korek api.
‘SHAASHI’ Nyala api itu langsung melalap bubuk mesiu di meja dengan ganas dan hampir membakar keempat wanita itu.
Kali ini Sebas meraih Budi dan menyeretnya ke hadapan Max. Max membongkar peluru lagi dan menaburkan bubuk mesiu itu ke wajah Budi.
Budi langsung berusaha memberontak, tapi tenaga Sebas yang sangat kuat membuatnya tidak dapat bergerak sama sekali. Sadar bahwa mereka berada di dalam situasi yang berbahaya, tubuh mereka semua gemetar ketakutan.
Sambil tertawa-tawa seperti psycho, Max kembali menyalakan koreknya. Dia mendekatkan nyala api ke wajah Budi hingga hanya berjarak beberapa senti. Jika Max tidak berhati-hati dan nyala api itu sedikit saja mengenai wajah Budi, pasti wajah Budi akan segera terbakar dan rusak.
Akan tetapi Max berpikir, kalau cara ini sungguh tidak ada manfaatnya. Akhirnya Max menemukan cara agar mereka bisa memberitahu semuanya.
Max mengeluarkan pisau belati miliknya, lalu dia menancapkan ke kakinya yang sebelah kanan.
‘Arrgggh’ suara Budi yang kesakitan.
"Baiklah! Baiklah! Aku akan mengatakan semuanya." Ucap Budi dengan rasa takut.
Budi melihat ke arah Max sambil berteriak ketakutan dan panik.
Setelah Sebas melepaskannya, Budi pun jatuh ke lantai.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Max sambil memandang keempat pria lainnya.
__ADS_1