
"Sudahlah kamu tidak perlu mengetahui hal ini, cukup aku yang tau," ucap Keysia.
“Oh iya Key, kamu ingin meninggalkan kota ini? Lalu ke kota manakah yang ingin kamu singgahi?” tanya Max.
“Sebenarnya aku juga masih belum memutuskan ke kota yang mana Tio, tapi apakah kamu benar mau membantuku?” tanya balik Keysia.
“Iya jangan khawatir, aku siap membantumu kok.”
“Makasih Tio.”
“Terlalu cepat untuk berterimakasih Key,”
“Iya-iya,” ucap Keysia berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang ada di tangannya.
Max hanya terdiam ketika mendengar ucapan Keysia sambil mengikuti penglihatan, hingga Keysia masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu.
Setelah mendengar guyuran air dari dalam kamar mandi, yang menandakan kalau saat ini Keysia mulai dengan ritual mandinya. Max beralih melihat ke arah tempat tidur dimana ia melihat sebuah cahaya lampu berkedip-kedip.
Sebuah panggilan masuk di handphone Keysia, di sana tertulis dengan jelas nama Family di layar handphone Keysia. Max meraih handphone Keysia, lalu beralih melihat ke arah kamar mandi, mungkin karena merasa penasaran dengan panggilan keluarganya. Hingga akhirnya Max memilih untuk mengangkat panggilan dari keluarganya Keysia tanpa mengeluarkan suara.
Halo, Keysia, kamu dimana? Kembali ke rumah sekarang! jika kamu tidak segera kembali, keluarga kita dalam masalah besar. Pulang sekarang! Jangan sampai tidak pulang! Jika tidak kamu benar-benar akan mendapat hukuman dari kami. Keluarga Keysia mengancam Keysia sendiri.
Dan itu membuat Max benar-benar merasa sangat kesal mendengar semua yang di katakan keluarganya padanya, ancaman keluarganya membuat Max merasa benar-benar sangat marah tidak terima dengan semua yang ia dengar, hingga akhirnya ia memilih untuk mematikan sambungan telponnya.
“Ear, kurang ajar! Berani sekali mereka menggunakan Keysia sebagai alat dan mengancamnya, apa mereka pikir mereka itu siapa? Aku bersumpah suatu hari nanti kalian akan mendapat balasan dariku dengan apa yang telah kamu lakukan pada Keysia." Ucap Max.
Max benar-benar merasa sangat kesal dan marah, ia sendiri merasa sangat bingung dengan dirinya yang terlalu marah dengan apa yang menimpa Keysia hari ini.
Melihat Keysia keluar dari dalam kamar mandi dengan segera Max berjalan menghampiri Keysia lalu memeluknya dengan sangat erat.
__ADS_1
Sementara Keysia yang mendapat pelukan seperti itu dari Max, merasa sangat terkejut dan bingung.
"Kamu kenapa Tio?" tanya Renata menepuk pelan bagian belakang Max.
"Tidak apa-apa Key, maaf karena telah memelukmu," jawab Max pelan melepas pelukan dari tubuh Keysia.
"Tidak masalah, jika kamu ada masalah berbagilah denganku," Keysia tersenyum hangat ketika selesai mengatakan itu.
"Baik, aku akan mengatakan, namun aku juga meminta agar kamu juga melakukan hal yang sama, tidak menyembunyikan apapun dariku, okey."
Keysia hanya mengangukkan kepala ketika mendengarkan ucapan Max, ia merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan masalahnya dari Max.
Biarkan saja, cepat atau lambat Max pasti akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi denganku.
Namun tanpa Keysia sadari kalau Max telah mengetahui yang sebenarnya, Max sengaja tidak mengatakan hal itu kepada Keysia. Karena tidak ingin Keysia merasa sakit hati dengan apa yang telah di lakukan keluarganya itu, hingga ia memilih untuk diam.
Max tidak berhenti memikirkan apa yang telah keluarganya lakukan pada Keysia.
Max mengusap rambutnya kasar, tidak terima dengan semua yang di katakan keluarganya Keysia di balik telpon, hatinya merasa sangat resah ingin melakukan sesuatu yang pantas untuk keluarga Keysia yang menganggap Keysia sebagai alat.
Suatu hari dan suatu saat kalian akan mendapatkan ganjaran yang telah kamu lakukan kepada Keysia, aku bersumpah itu pasti akan terjadi kalian. Menjauhkan Keysia dari keluarganya adalah cara yang tepat, sebelum keluarganya melakukan sesuatu yang lebih buruk pada Keysia.
Cukup lama Max bertengkar dengan pemikirannya sendiri, hingga akhirnya Rezaldin mengagetkannya dengan menepuk pelan bahunya.
"Woi, kamu lagi memikirkan apa? Memikirkan gadis cantik itu ya? Sudah tidak usah berpikir terlalu lama, lakukan saja apa yang hatimu inginkan. Ini makanan yang kamu pesan, satu untukku, satu untukmu, dan satu untuk Keysia," Rezaldin memberikan kantong plastik yang berisi dengan tiga bungkus makanan kepada Max.
Max tertawa ketika mendengar ucapan pertama yang di katakan Rezaldin, ia merasa lucu sendiri hingga membuatnya tertawa.
Mungkin Rezaldin berpikir menjalani kehidupan bersama seorang gadis yang baru saja ia kenal itu hal yang mudah, melainkan sebaliknya, apalagi kalau kalau hobi dan selera berbeda pasti akan ada percekcokan yang terjadi setiap harinya, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
__ADS_1
"Sudah Tio, masuk dan makan, kamu tidak perlu memikirkan semuanya, ayo masuk sana kasian Keysia kelaparan belum makan malam."
"Baiklah Za, ayo masuk dulu, aku juga sangat kelaparan"
Setelah mengatakan itu, Max dan Rezaldin masuk ke dalam kamarnya Max untuk makan malam bersama-sama. Di dalam kost mereka bertiga sempat bercanda.
“Akhirnya kamu pulang juga Za, kirain kamu lupa arah jalan pulang,” candanya Max.
“Hahaha ....” mereka bertiga tertawa.
"Keysia, ayo kita makan dulu," ucap Max meletakkan kantong hitam yang berisi dengan makanan di atas meja kecil.
Keysia yang mendengar ucapan Max beranjak dari duduknya, berjalan ke arah dapur yang nampak sangat sempit di dalam kamar Max. Lalu mengambil piring dan juga sendok tidak lupa Keysia mengambil untuk Max dan juga Rezaldin.
Keysia mengeluarkan bungkusan makanan dari dalam kantong yang Max letakkan di atas meja, lalu menyimpannya ke dalam piring kemudian memberikan kepada Max dan Rezaldin.
"Terimakasih banyak Keysia," ucap Max pelan tersenyum meraih piring yang Keysia berikan untuknya.
"Sama-sama Tio, justru aku yang berterimakasih kepadamu, karena bersedia menolong dan menampungku, aku sangat bersyukur karena telah mengenalmu."
"Ayo kita makan," ajak Rezaldin.
"Ayo."
Mereka bertiga menikmati makan malam bersama, dengan menu makanan yang sederhana, Max dan Keysia saling melempar senyuman satu sama lain. Meskipun sederhana, namun suasana hati Max dan Keysia berdua nampak sangat senang, terlihat jelas dari cara mereka berdua saling melempar senyuman.
Max sampai membayangkan diriya sendiri makan bersama dengan istrinya, ah, pasti akan sangat menyenangkan hidup bersama dengan istri yang peduli dan perhatian denganku. Aku ingin mencari istri yang bisa membuat aku merasa nyaman di setiap aku bersamanya, dan melakukan semuanya bersamaku.
Kelak jika aku memiliki istri, aku akan sangat menyayanginya dan memperlakukannya sebagai ratu di rumah mewahku. Aku tidak akan membiarkannya melakukan apapun, yang ia lakukan hanya terus berada di sampingku bukan melakukan hal yang lainnya.
__ADS_1