
"Ini tidak kenapa-napa Za, dibandingkan dengan pukulan di kepala yang di terima gadis yang ada di dalam kamarku saat ini. Aku bingung karena ia ingin menginap di kamarku, tidak mau kembali ke rumahnya lagi, apa yang harus aku lakukan Za? Bantu aku menyelesaikan masalah aku ini." Ucap Max.
Max nampak lebih terbuka kepada Rezaldin, karena ia tidak ingin membuat Rezaldin dalam masalah nantinya. Biar bagaimana pun karena Rezaldin ia bisa menemukan tempat tinggal yang sedikit layak menurutnya.
Rezaldin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ketika mendengar ucapan Max. Dia juga ikut bingung, membiarkan seorang gadis menginap di kamar pemuda lajang seperti Max biasa-biasa saja.
Selama tidak ada yang mengetahui semuanya akan baik-baik saja, namun jika ada yang mengetahui itu akan menjadi sebuah masalah besar salah sedikit Max bisa di suruh langsung menikahi gadis itu.
Melihat kebingungan yang Rezaldin nampakkan Max kembali berkata.
"Apa yang harus aku lakukan Za, gadis itu meminta bantuan padaku untuk membawanya keluar dari kota ini." Max kembali mejelaskan.
"Sebenarnya tidak jadi masalah Tio, gadis itu menginap di dalam kamar kamu, tapi usahakan jangan sampai ada warga lain yang mengetahui hal ini. Cukup aku yang tau, karena jika sampai salah satu warga yang mengetahui ini, kamu akan dapat masalah dan akan berakhir menjadi suami gadis itu." Rezaldin menampakkan senyuman jailnya ketika mengucapkan kalimat terakhirnya kepada Max.
la merasa lucu sekaligus senang melihat wajah Max yang nampak sangat takut ketika mendengar ucapan terakhirnya.
"Sudahlah ajak aku menemui gadis itu, kalau cantik dan menawan suruh saja tidur sekamar denganku, dan besok aku sendiri yang akan mengatakan kepada warga kalau ada seorang gadis menginap di dalam kamarku, hahaha." Ucap Rezaldin dengan penuh candanya.
Rezaldin tertawa melebar ketika selesai mengatakan itu.
Max menepuk pelan bahu Rezaldin ketika mengatakan itu, ia merasa tidak senang mendengar ucapan Rezaldin seperti itu.
"Apa-apaan kamu Za, ini bukan masalah kecil, ini masalah besar bagiku, ayo ke kamar aku," ajak Max kepada Rezaldin.
Mereka berdua berjalan beriringan, Max berjalan di depan, sementara Rezaldin berjalan di belakang, ia membuka pintu kamarnya lalu masuk, begitu pun dengan Rezaldin.
Rezaldin membulatkan mata ketika melihat gadis yang sangat cantik tengah duduk di atas tempat tidur Max. Rezaldin tidak berhenti menatap ke arah gadis kecil yang mengenakan baju kaos berwarna hitam yang kini tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur Max sambil memeluk bantal guling Max.
"Tio, apa bantal gulingmu wanginya harum?" bisik Rezaldin di telinga Max dan itu membuatnya mendapat pukulan dari siku Max.
Karena pertanyaan Rezaldin terdengar koyol di telinganya, namun ia juga menanggapi apa yang di bisikkan Rezaldin di telinganya, melihat Keysia memeluk erat bantal gulingnya membuatnya bertanya.
__ADS_1
“Apa bantal gulingku baunya harum?” Max membatin.
"Keysia" panggil Max pelan menatap ke arah gadis yang kini terus melamun, entah apa yang ia lamunkan.
"lya, ada apa Tio?" jawab Keysia pelan.
"Kenalkan teman aku, namanya?” ucapan Max terhenti ketika dengan segera Rezaldin berjalan ke arah Keysia dan memperkenalkan sendiri dirinya.
"Kenalkan namaku Rezaldin, biasa dipanggil Reza." Ucapnya mengulurkan tangan.
"Keysia Putri, panggil saja Keysia," balas Keysia pelan menampakkan senyuman manis di bibirnya.
“Beruntung banget Tio, dapat gadis cantik seperti ini, aku juga mau jika menemukan gadis cantik seperti ini di jalan, dan tanpa berkata apapun aku akan menikahi gadis itu dengan segera.” Rezaldin membatin.
Setelah memperkenalkan diri dengan Keysia, Rezaldin kembali berjalan ke arah Max yang masih berdiri menyandarkan tubuhnya di tiang kamar kost yang ia tempati selama beberapa bulan ini.
"Kamu sudah membersihkan diri Tio? Aku perhatikan bajumu masi sama yang kamu gunakan pergi bekerja tadi, pasti bau kamu amis deh bau ikan," ucap Rezaldin dengan sedikit mengejek.
"Apa benar aku bau ikan Key? tanya Max melihat ke arah Keysia.
Max sengaja menanyakan itu pada Keysia, karena hanya Keysia baru saja memeluknya dan pasti ia bisa menghirup bau ikan itu di baju yang ia gunakan bahkan bau ikan yang melengket di tubuhnya.
"lya, kamu bau ikan Tio," jawab Keysia tertawa pelan menutup mulutnya dengan tangannya.
Rezaldin yang melihat ke akraban keduanya mengerutkan dahi bingung.
Apa mereka berdua saling mengenal? Kenapa Tio menanyakan soal bau baju dan tubuhnya kepada Keysia? Apa mereka baru saja? Ah, sudahlah itu akan menjadi urusan mereka berdua.
"Baiklah aku membersikan dulu, tubuhku juga sudah mulai merasa gerah." Max berjalan ke arah lemari plastik tempat pakaian, lalu mengeluarkan baju dan celana yang akan ia gunakan setelah memebersikan diri.
Setelah mengambil pakaian yang akan ia kenakan, Max berjalan ke arah kamar mandi, namun sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, Rezaldin pamit untuk keluar membeli makanan.
__ADS_1
"Tio, aku keluar dulu."
"Kemana?" tanya Max.
"Beli makanan."
"Aku juga titip dua ya, entar uangnya nyusul."
"Oke, aku pergi dulu, Keysia, kamu hati-hati sama pemuda itu."
Rezaldin terkekeh pelan keluar dari dalam kamar Max, sementara Max hanya menggeleng kepalanya ketika mendengar ucapan Rezaldin yang kembali mengejeknya.
Max masuk ke dalam kamar mandi, sementara Keysia menatap layar hapenya yang dari tadi tidak berhenti berkedip. Keysia mengaktipkan mode silent pada layar hapenya, hingga tidak mengeluarkan suara ketika seseorang tengah menelponnya.
“Ngapain keluargaku meneleponku lagi? Pasti memintaku untuk pulang dan memaksa untuk menikahi orang itu,” dalam pikiran Keysia.
Keysia sungguh merasa terganggu, akhirnya Keysia memutuskan untuk mematikan handphonenya agar tidak terganggu lagi, karena Keysia saat ini butuh ketenangan.
Selesai membersikan diri, Max keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang ia bawa masuk ke dalam kamar mandi tadi, lalu berjalan mendekat ke arah Keysia sambil berkata.
"Kamu tidak mandi Key? Aku tadi menghirup wangi yang tidak enak," tanya Max dengan menampakkan senyuman tipis di bibirnya.
Keysia membulatkan matanya terkejut menatap ke arah Max ketika mendengar apa yang tengah Max katakan padanya.
"Benarkah? Hingga saat ini aku memang belum membersikan diri, semua itu karena keluargaku,” ucap Keysia dengan nada suara kesal.
Memang benar, semua karena keluarganya yang ingin memaksanya untuk menikahi orang yang tidak dikenal itu, hingga ia tidak sempat membersikan dirinya terlebih dahulu saat buru-buru keluar dari rumahnya.
"Memangnya apa yang telah keluargamu lakukan padamu?" tanya kembali Max ingin tau yang sebenarnya.
"Sudahlah kamu tidak perlu mengetahui hal ini, cukup aku yang tau," ucap Keysia.
__ADS_1