
Hingga sampai di depan sebuah HomeStay, Rezaldin turun dari ojek, karena ia melihat motor yang membawa tubuh Vina masuk ke dalam parkiran penginapan tersebut.
"Berhenti di sini bang, aku mau masuk sebentar," Ucap Rezaldin pada tukang ojek.
Rezaldin menyuruh tukang ojek untuk menunggunya, setelah mengatakan itu, ia berlari masuk ke dalam HomeStay karena ia tidak ingin kehilangan jejak Vina. Sekaligus ia ingin tau, apa saja yang Vina lakukan di dalam HomeStay tersebut.
Rezaldin memelankan langkahnya ketika melihat Vina dan pemuda yang tadi memboncengnya tengah berjalan santai menuju arah sebuah kamar.
Rezaldin bisa melihat pemuda itu merangkul tubuh Vina dengan sangat mesra, bahkan Rezaldin bisa melihat pemuda itu menempelkan bibir di wajah Vina, sementara Vina hanya tersenyum ceria menanggapi, itulah yang Rezaldin lihat saat ini.
Apa Vina mengkhianatiku? Dengan menjalin hubungan dengan pemuda lain di belakang aku? Oh, aku tidak boleh menuduh Vina melakukan hal itu, namun bibir itu menempel lembut di wajah Vina, aku harus tau apa yang Vina lakukan di HomeStay.
Mungkin pengunjung penginapan yang melihat penampilan Rezaldin akan merasa aneh, dengan apa yang tengah ia lihat, karena memang Rezaldin terlihat sangat berantakan ketika ia pulang dari tempat kerja, bahkan pakaian yang ia gunakan berbau ikan.
Rezaldin melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda ketika melihat Vina dan kekasihnya berjalan ke arah kamar, ia hanya memperhatikan Vina masuk di kamar mana, dan setelah ia melihat Vina masuk kedalam sebuah kamar ia kembali melanjutkan langkahnya.
Semoga yang ada di pikiranku tidak sama yang seperti Vina lakukan? Aku sangat mempercayai Vina, jika ia tidak akan pernah melakukan hal ini padaku. Aku sangat mencintainya, bahkan aku hidup menghemat semua agar uang aku cukup untuk melamarnya.
Rezaldin mendekati pintu kamar yang baru saja Vina dan kekasihnya masuk, jantung Rezaldin berdetak sangat kencang ketika mendengar suara tawa Vina dari dalam kamar besama dengan kekasihnya.
Apa memang benar Vina benar-benar telah mengkhinati aku? Kenapa ia tega melakukan hal ini kepadaku? Aku sangat penasaran, apa yang mereka berdua lakukan di dalam kamar HomeStay ini.
Pelan-pelan Rezaldin mendorong pintu kamar yang di tempati Vina saat ini, beruntung pintu kamar yang mereka berdua tempati lupa mereka kunci. Sehingga Rezaldin bisa lebih leluasa melihat apa yang tengah mereka berdua lakukan di dalam.
Tubuh Rezaldin bergetar hebat ketika melihat Vina tengah berada di bawah tubuh kekasihnya dia atas tempat tidur. Meskipun mereka berdua masih menggunakan pakaian yang lengkap, namun yang mereka berdua lakukan benar-benar membuat mata dan wajah Rezaldin nampak berapi-api melihat pemandangan yang suguhkan Vina dan kekasihnya padanya.
__ADS_1
Vina benar-benar mengkhianatiku? la, telah melakukan hal itu padaku.
Rezaldin bisa melihat kekasih Vina menyentuh bagian tubuhnya bahkan bibir mereka berdua saling berpautan satu sama lain dan itu membuat Rezaldin merasa sangat marah.
Marah dengan apa yang tengah ia lihat, tentu saja marah, namun ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menyaksikan semua itu di depan matanya sendiri. Rasa sakit yang tengah Rezaldin rasakan tidak bisa di ungkapkan dengan sebuahkata-kata.
Air mata Rezaldin menetes tanpa ia sadari menyaksikan apa yang tengah di lakukan kekasihnya padanya, mengkhianatinya dengan cara seperti itu. Hingga akhirnya ia memilih untuk meninggalkan depan kamar yang di tempati Vina bersama dengan kekasihnya.
Rezaldin menutup pintu dengan cara kasar, membuat kedua sepasang kekasih yang tengah memulai ingin melakukan hal indah merasa sangat terkejut hingga keduanya langsung melepas pautan bibir masing-masing.
Kekasih Vina berdiri berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu, dengan membanting pintu kamar yang di tempatinya bersama dengan kekasihnya saat ini.
"Siapa Sat?" tanya Vina pada kekasihnya yang bernama Satrio.
Setelah mengatakan itu Satrio menutup pintu kamar, lalu menguncinya dari dalam. Kemudian berjalan kembali ke arah tempat tidur dimana Vina masih merebahkan tubuhnya dan menantinya di atas tempat tidur.
Rezaldin mengusap air matanya yang terus menetes membasahi wajahnya, mungkin jika ada yang melihat Rezaldin menangis seperti itu pasti akan mengatakan, kalau ia adalah pemuda yang cengeng. Namun mereka tidak akan pernah tau rasa sakit yang tengah di alaminya saat ini.
Hati Rezaldin benar-benar sakit, melihat orang yang sangat di cintainya melakukan hal seperti itu di belakangnya, di dalam perjalanan kembali ke kostnya Rezaldin hanya terdiam menampakkan wajah sedih.
Bahkan sesekali air matanya berhasil menetes, namun dengan segar ia mengusap air mata itu di wajahnya, tidak ingin tukang ojek yang membawanya pulang ke kost tau apa yang tengah dirasakan saat ini.
Hingga sampai di depan pintu kamar kostnya, Rezaldin hanya terdiam menundukkan wajah membuka kunci pintu kamar lalu masuk.
Max yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, melihat ke arah Rezaldin masuk ke dalam tanpa berteriak memanggilnya terlebih dahulu, karena itu yang selalu Rezaldin lakukan setiap ia pulang dan sebelum pergi bekerja.
__ADS_1
Namun kali ini ia terlihat lebih banyak diam, bahkan wajahnya terlihat sangat sedih itulah yang Max lihat ketika melihat Rezaldin masuk ke dalam kamarnya.
Hingga akhirnya Max memilih ke kamar Rezaldin, bukan untuk menanyakan apa yang telah terjadi? Melainkan ia ingin tau, apa Rezaldin baik-baik saja?
Tok, tok, tok. Suara pintu kamar Rezaldin yang diketuk Max, lalu berkata.
"Za, boleh aku masuk?"
"Masuk saja Tio, pintunya tidak terkunci," sahut Rezaldin dari dalam kamar.
Max mendorong pintu kamar Rezaldin, lalu masuk, dan melihat Rezaldin kini tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memeluk bantal guling, Rezaldin merebahkan tubuhnya dengan mode tengkurap.
"Kamu baik-baik saja Za?" tanya Max pelan.
Max menanyakan keadaan Rezaldin yang tidak seperti biasa ia melakukan hal itu, Rezaldin yang selalu rajin membersihkan diri terlebih dahulu, kini lansung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku baik-baik saja Tio," sahut Rezaldin tanpa melihat ke arah Max, namun dari sahutan itu terdengar suara isakan.
Max yang mendengar itu dengan segera membalik tubuh Rezaldin, ia ingin tau, apa yang terjadi pada Rezaldin itu saja maksudnya.
“Kenapa kamu menangis Za? Apa yang terjadi? Apa kamu di pecat dari tempat kerja?" tanya Max sedikit panik melihat wajah Rezaldin terlihat sembab dan matanya begitu sangat merah.
"Aku tidak apa-apa Tio, kepalaku hanya pusing jadi aku menangis." Jawab Rezaldin
Rezaldin berbohong kepada Max karena ia pasti akan merasa sangat malu jika Max sampai mengetahui apa yang terjadi dengannya.
__ADS_1