Iam Come Back

Iam Come Back
Buku nikah sudah didapatkan


__ADS_3

Tangan Max menyusup masuk ke dalam baju yang Keysia kenakan, dan mulai menyentuh bagian depan istrinya yang terasa berisi sempurna menurutnya. Itu untuk ke dua kali Max menyentuh bagian depan Keysia, mungkin merasa tidak tahan dengan godaan tubuh Keysia hingga ia memilih untuk menyentuh bagian itu.


Keysia hanya terdiam tidak bereaksi apapun ketika tangan Max mulai bermain di bagian depannya, ia hanya ikut menikmati di setiap sentuhan Max pada tubuhnya.


Mungkin Keysia akan mempertanyakan, kenapa aku tidak pernah melakukan hal ini kepadanya. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya, namun aku menahan semua karena aku ingin melakukan hal indah itu bersamanya di rumah mewahku dan tentu akan menjadi rumahnya kelak.


“Maafkan aku Key,” itulah kata yang keluar dari mulut Max ketika selesai melakukan apa yang baru saja ia lakukan, dan kembali memeluk tubuh Keysia dengan sangat erat hingga akhirnya ia ikut terlelap sambil memeluk tubuh istriku, istri yang mulai membuat ruang di dalam lubuk hatiku.


Hari yang Max dan Keysia nantikan telah tiba, dimana mereka berdua akan ke kantor KUA untuk melunasi buku nikah mereka yang tertahan selama empat bulan.


Max dan Keysia menggunakan angkutan umum untuk segera sampai di kantor KUA, setelah sampai di depan kantor KUA, Max turun begitupun dengan Keysia. Setelah membayar ongkos angkutan umum, mereka berdua berjalan masuk ke dalam kantor urusan agama tersebut.


Setelah sampai di dalam kantor KUA Max di persilahkan masuk kedalam ruangan, khusus untuk melunasi pembayaran buku nikah. Setelah semuanya selesai ia urus, Max tersenyum keluar dari dalam ruangan tersebut berjalan ke arah Keysia yang menunggunya di ruangan tunggu sambil membawa buku nikah di tangannya.


"Ayo kita pulang" ajak Max pelan, mengulurkan tangan untuk Keysia.


Keysia tesenyum, meraih tangan Max, lalu beranjak dari duduknya berjalan berdampingan keluar dari kantor tersebut. Senyuman itu tidak luput dari bibir keduanya, entah kenapa Max terlihat lebih ceria daripada sebelumnya.


"Besok kita akan ke rumah kamu Key, untuk menemui keluarga kamu," Max tersenyum beralih melihat ke arah Keysia yang berdiri di sampingnya karena saat ini mereka berdua tengah menanti angkutan umum untuk kembali ke kost mereka.


"Apa kamu yakin?" tanya Keysia.

__ADS_1


"Tentu saja aku yakin," jawab Max lantang.


Setelah sampai di kost, Keysia membuka kunci kamar lalu masuk, begitupun dengan Max yang ikut masuk. Keysia lansung berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan yang sempat mereka berdua beli di jalanan ketika kembali dari dari KUA.


"Makan dulu Tio."


Tanpa menjawab, Max beranjak dari duduknya, berjalan ke arah Keysia yang kini tengah duduk di hadapan makanan yang telah ia siapkan.


Max duduk lalu meraih piring yang Keysia ulurkan untuknya, dan memulai makan siang bersama tanpa ada suara yang ada hanya suara sendok yang saling bertabrakan dengan piring. Hingga selesai meraka tidak berbicara apapun kecuali sibuk pada makanan yang mereka makan masing-masing.


Keysia membuat kopi untuk Max setelah membersihkan sisa-sisa makanan, bahkan Max yang mengambil alih untuk mencuci semua piring bekas makanan yang telah selesai mereka makan. Keysia meletakkan kopi dihadapan Max lalu duduk di hadapannya dan mulai berkata.


“Tio apa kamu yakin ingin menemui keluarga aku besok?” tanya Keysia memastikan, apa benar Max akan ke rumahnya besok.


Namun karena keinginan Max yang ingin menemui mereka berdua, hingga ia harus menerima keinginan itu, entah apa yang akan mereka berdua katakan besok setelah aku kembali bersama dengan suamiku.


"Tentu saja aku yakin, aku hanya ingin menemui mereka berdua untuk meminta restu setelah itu kita akan kembali ke kota kelahiranku dan di sana kita akan memulai kehidupan kita yang baru." Jawab Max.


"Bagaimana kalau mereka tidak merestui ataupun tidak menyukaimu? Bagaimana kalau sampai mereka menahanku tinggal di sana bagainmana?” Tanya Keysia khawatir dengan dirinya sendiri, ia takut jika keluarganya melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan ketika ia dan Max kerumahnya.


"Merestui dan tidak merestui, suka tidak suka, itu adalah hak mereka. Namun satu yang jelas, kalau saat ini kamu adalah istriku, istri sahku, siapapun tidak akan memiliki hak untuk memisahkan kamu dariku. Kalau mereka ingin mencoba melakukan hal itu? Mereka akan melihat apa yang bisa aku lakukan,” ucapan Max terdengar santai, namun penuh kata ancaman dan penekanan.

__ADS_1


Keysia hanya mengangukkan kepala mendengar ucapan Max yang terdengar bijak di telinganya, meskipun hatinya tidak senang dengan keinginan Max. Namun setidaknya mencoba untuk menemui mereka berdua jauh akan lebih baik, biar mereka berdua tau kalau aku telah menikah.


Huf, Keysia menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan, setelah itu ia beranjak dari duduknya lalu naik ke atas tempat tidur lalu merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Tetapi tidak tertidur melainkan ia memikirkan apa yang akan terjadi besok.


Sementara Max yang melihat Keysia tengah memikirkan sesuatu, mengusap pelan rambut Keysia lalu berkata.


"Kamu tidak perlu memikirkan semuanya, semuanya pasti akan baik-baik saja." Kata Max.


**********


Rezaldin berjalan sendiri menyurusi jalan setapak, setelah ia berpisah arah dengan para pekerja yang lainnya. Karena biasanya ia pulang bersama dengan Max, namun kali ini Max tidak masuk kerja hingga ia hanya berjalan sendiri untuk pulang ke kostnya.


Jantungnya berdetak sangat kencang ketika melihat seorang gadis yang begitu sangat ia kenal, tengah berboncengan dengan seorang pemuda bahkan Rezaldin bisa melihat gadis itu memeluk erat tubuh pemuda itu dari belakang.


Vina, itulah nama yang keluar dari dalam mulut Rezaldin ketika melihat gadis yang begitu sangat dicintainya tengah bersama dengan pemuda lain.


Apa benar itu Vina? Siapa pemuda yang memboncengnya? Mungkin itu hanya saudara atau temannya, namun kenapa Vina memeluk erat tubuh pemuda itu dari belakang? Bahkan aku bisa melihat pelukan itu terlihat lebih mesra daripada pelukan untuk teman ataupun untuk sauadara.


Mungkin merasa penasaran dengan apa yang ia lihat hingga akhirnya Rezaldin menyewa ojek untuk mengikuti motor yang tengah membawa kekasihnya itu.


Dia atas boncengan ojek, Rezaldin tidak berhenti bertengkar dengan pemikirannya sendiri, yang mengatakan kalau Vina hanya bersama temannya. Namun pemikiran yang lain Rezaldin mengatakan kalau yang bersama Vina adalah kekasihnya.

__ADS_1


Tidak! Pemuda yang memboncengkan Vina adalah temannya, Tidak! pemuda itu kekasihnya.


Hingga sampai di depan sebuah HomeStay, Rezaldin turun dari ojek, karena ia melihat motor yang membawa tubuh Vina masuk ke dalam parkiran penginapan tersebut.


__ADS_2