
Mereka semua jatuh berlutut di lantai, "Kami juga akan mengatakan semuanya."
“Bentar, aku ingin kalian berlima untuk mengakuinya dengan membuat sebuah rekaman video, rekaman video itu juga akan digunakan sebagai bukti.”
Setelah persiapan untuk membuat rekaman video pengakuan, mereka berlima sudah bersiap mengakuinya.
"Rony Setiono lah yang menemui kami dan yang mengatur semuanya untuk membunuh anda pada saat itu! Kami mengatakan hal yang sebenarnya, bahkan kami masih menyimpan sebagian dari bukti-bukti itu. Semua ada di ponsel ini..."
Dika menyerahkan ponselnya ke tangan Max yang langsung membacanya. Kelima pria itu juga pandai, mereka masih mempertahankan bukti-bukti. Dari bukti-bukti itu, tampak jelas sekali bahwa itu adalah perbuatan Rony Setiono.
"Hahaha. jadi begitu. Baiklah masukkan mereka ke penjara,karena sudah melakukan percobaan pembunuhan." Instruksi Max terhadap Barry.
“Hah? Apa? Masuk penjara? Kita kan sudah mengatakan semuanya!” ucap Dika.
Max mendengarkan ocehan dari Dika, tapi Max tidak menjawab apapun. Lalu bawahan Barry membawa kelima pria itu untuk di penjarakan.
Ketika Budi dan yang lainnya keluar dari gedung. Mereka melihat beberapa orang berseragam militer sedang berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Mereka pun ketakutan setengah mati. Ada rasa penasaran juga tentang siapa identitas Max Setiono yang sebenanya.
"Bagus! Sekarang kasus rencana pembunuhan yang terjadi padaku sudah jelas. Sedangkan mengenai Eko Hermawan, besok saya mau lihat apakah dia masih bisa hidup tenang."
Keesokan paginya, Max pergi ke sebuah perusahaan. Pimpinan perusahaan itu adalah Eko Hermawan.
Sebas yang ada di sebelahnya berbisik, "Jenderal, sebelumnya saya sudah membuat janji dengan pria itu. Kita akan segera bertemu dengannya."
"Baik!” ucap Max
Tidak lama kemudian, seorang resepsionis datang, "Tuan Sebas, silakan ikut saya ..."
Lantai 45 adalah kantor Presiden Direktur. Ada beberapa petugas keamanan yang menjaga pintu masuk. Setelah melalui beberapa prosedur pemeriksaan, Max akhirnya diizinkan masuk.
Eko sedang bekerja di kantornya.
Mendengar ada seseorang yang masuk, dia berkata tanpa mendongakkan kepalanya, "Tuan Sebas, silakan duduk. Mohon tunggu sebentar! Saya akan segera selesai."
__ADS_1
Pada saat itulah Max berkata, "Eko Hermawan yang begitu mengagumkan!"
"Hah?"
Mendengar kalimat ini, Eko merasa familiar. Seolah dia pernah mendengarnya di suatu tempat. Dia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat seseorang dan berseru terkejut, "Max?"
Secara alami Eko Hermawan sangat takut, karena juga ada rasa bersalah atas rencana pembunuhan terhadap Max. Itulah yang membuatnya merasa takut ketika melihat Max.
“Iya ini aku, kenapa seorang Eko Hermawan sebagai mantan wali kota S tampak gugup, seperti mau menghadapi kematian aja?!” tanya Max sambil tersenyum.
Meskipun tangan dan kakinya gemetar begitu hebat, tapi dengan tenang mulutnya mengatakan, “Hah? Kenapa aku harus gugup saat bertemu denganmu?”
Max hanya tersenyum, lalu dia duduk di sofa, “Iya aku percaya kalau kamu tidak gugup, aku hanya datang untuk melihat keadaan seorang mantan wali kota. Bagaimanapun juga kamu adalah orang yang dulu dikagumi semua orang pada saat masa itu.”
“Iya saya baik-baik saja! Tapi saya tidak memiliki hubungan apa pun denganmu, jadi saya tidak membutuhkan salam darimu. Lagi pula sekarang saya sangat sibuk. Kalau tidak ada apa-apa lagi, silahkan kalian keluar dari ruangan saya!” usir Eko ketus.
“Haha ... jangan galak-galak seperti itu. Lagi pula kedatanganku ke sini adalah juga untuk membicarakan tentang masa lalu yang terjadi 6 tahun yang lalu.”
“Kamu mau membicarakan tentang masa lalu apa dengan saya?” tanya Eko dengan rasa ingin tahu.
“Haha ... saya ingin membicarakan tentang percobaan pembunuhan terhadapku dan aku ingin kamu melihat rekaman video.” Ucap Max
Begitu Max selesai mengatakannya, Eko langsung berkata dengan marah, “Saya tidak mau membicarakan tentang masa lalu apalagi melihat rekaman video, keluar!”
Max menanggapinya dengan santai, “Lihat saja dulu rekaman videonya sampai selesai baru bicara.”
Eko Hermawan pun menghampiri Max, “Emang rekaman video apaan?”
Max menunjukkan kepada Eko video kejadian malam itu di tepi danau. Setelah melihat rekaman video itu, ekspresi wajah Eko tiba-tiba berubah liar, karena rekaman video itu tampak dirinya dengan ekspresi wajah yang jelas bahagia.
Dia menarik napas dan bertanya dengan heran, “Ka-kamu ... dari mana kamu mendapat rekaman video ini?”
Max tertawa sangat keras, “Kalau soal itu bukan urusanmu, saya datang hanya ingin membicarakan ini dan membuat kamu mengaku terhadap rencana pembunuhan terhadapku dengan cara membuat video pengakuan!”
__ADS_1
“Tidak mungkin! Rekaman video ini pasti palsu! Saya harus mengakui apa? saya tidak terlibat apa pun!” ucap Eko.
“Baiklah kalau kamu tidak percaya, kalau begitu saya akan pergi.” Max hendak berdiri dari sofa.
Eko segera mencegah Max pergi, “Tunggu! Katakan saja apa yang kamu mau?”
“Saya hanya ingin kamu mengakui perbuatan yang telah kamu perbuat dan rekam video pengakuan sebagai bukti!” Ucap Max.
“Kamu gila ya? Bila saya mengakuinya, saya akan dapat berbagai masalah.”
Dia berkata lagi dengan cepat, “Baiklah, saya mengakui, cepat rekam videonya!”
Setelah merekam video untuk sebuah bukti, Eko Hermawan memandang Max hanyalah orang yang hilang selama 6 tahun dan sedang menghadapi kesulitan.
Menurut Eko, Max hanya ingin mendapatkan sejumlah uang untuk bertahan hidup. Tanpa disangka, Max memilih untuk bermain-main dengannya.
“Oh iya, berikan 20 miliar untuk melihat rekaman video tadi, dan 20 miliar lagi untuk biaya pembuatan rekaman video pengakuan kamu! Bagaimana?” Max menyebutkan angka.
“Apa? semuanya 40 miliar? kamu sudah gila ya! Kenapa kamu tidak langsung meminta ke keluarga Setiono?” kata Eko dengan marah.
Max kembali tersenyum santai, “Eko Hermawan, apa kamu tidak berpikir ya? Kalau video ini kusiarkan, keluarga Setiono pasti mampu menyelesaikannya. Tapi bagaimana denganmu?”
“Saya ...” Seketika Eko merasakan kepanikan menjalari tubuhnya.
Max tertawa dingin, “Di dalam rekaman video tadi yang sudah saya perlihatkan, kalian ada 4 penjabat-penjabat. Saya akan memberimu waktu 1x24 jam. Apabila besok saya tidak mendapatkan uangnya, video ini saya akan menyebarkannya.”
“Ayo kita pergi!” kata Max kepada Sebas. Mereka berdua pun meninggalkan ruangan.
Eko ambruk ke sofa dengan ekspresi putus asa, meskipun dia sekarang adalah Prsiden Direktur di sebuah perusahaan, tapi 40 miliar adalah jumlah yang mustahil dikumpulkan dalam waktu 1x24 jam. Bahkan jika dibagi berempat, 10 miliar per orang pun sangat sulit.
Eko pun menghubungi ketiga penjabat pada masa itu yaitu Dino, yaya, dan Erwin. Ketiganya orang itu sekarang adalah juga menjabat sebagai presiden direktur di 3 perusahaan yang berbeda yang mereka pimpin dan memiliki kekayaan yang besar.
Tak lama kemudian mereka bertiga datang ke perusahaannya Eko. Kepada mereka, Eko menceritakan semua yang telah terjadi.
__ADS_1