Iam Come Back

Iam Come Back
Dibuat bingung


__ADS_3

Jika menyinggung Leon, habislah mereka. Tetapi Max tetap tidak bergerak sedikit pun, diamengabaikan kemarahan Leon.


“Aku bilang sekali lagi! Berdiri dan pergilah ke tempat lain!” suara Leon terdengar sangat keras.


Jangankan Max yang sekarang mempunyai identitas sangat penting, bahkan Max dengan kekayaan yang dulu pun dia tidak takut! Identitas dirinya adalah modal.


Max menghisap rokoknya, melihat kedua orang itu tanpa bicara sepatah kata pun. Masalah bisa sampai tahap ini.


Simon langsung melarai. “Max cepatlah minta maaf pada tuan Leon. Masalah hari ini akan selesai!”


Brian juga menambahkan, “Benar, cepat berdiri dan minta maaf pada tuan Leon. Dia pasti akan memanfaatkan kesalahanmu hari ini.”


Semua orang mulai membicarakan Max. Viola dan Gina melihat semua orang dengan tidak percaya. Jelas-jelas yang bersalah adalah Leon dan teman yang lainnya, bukan?


Tetapi faktanya, dengan status Leon, walaupun dia memukul, bisa saja dia yang benar. Yang dipukul harus meminta maaf!


Max telah selesai merokok, lalu mematikan api rokoknya. Baru saat ini dia menaikkan kepala untuk melihat Leon, dan berkata dengan santai, “Leon, panggil ayahmu untuk meminta maaf. Kalau tidak, masalah ini tidak akan selesai!”


Perkataan Max kali ini sangat mengejutkan semua pihak. Setelah puluhan detik berlalu, semua orang perlahan memberikan reaksi.


“Apa? kau sungguh gila ya? Panggil ayah tuan Leon untuk minta maaf? Tahukah kamu siapa ayah tuan Leon?”


“Benar! Emang kamu siapa? Berani-beraninya meminta wali kota untuk meminta maaf padamu? Kamu adalah pembuat skandal, apakah pantas?”


Brian dan Simon, dan yang lainnya sekarang tidak segan pada Max. Mereka langsung memakinya. Bahkan Viola yang mengetahui sedikit banyak tentang Max pun merasa dia sudah gila.


‘Kamu memang punya banyak uang dan banyak koneksi! Tapi ayah Leon adalah seorang kepala daerah! Dia meminta ayah Leon untuk meminta maaf padanya, bukankah itu hal gila? Itu saja kamu mencari mati Max’ guman Viola dalam hati.


Leon sangat marah ketika mendengar bahwa ayahnya diminta untuk meminta maaf. Dia mengangkat botol wine untuk memukul kepala Max. Namun sedetikkemudian, Max dengan sangat cepat menangkap botol wine dan menahannya.


“Brukk!” lalu dia menendang lutut Leon.


“Aaaa...” Leon berteriak kesakitan, posisinya sudah berlutut di hadapan Max.

__ADS_1


“Max! Apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu melakukan itu pada Leon! Apakah kamu sudah bosan hidup?”


“Kamu sungguh gila, Max!”


Simon dan Brian berteriak dan berlari mendatangi mereka. Tiba-tiba mereka melihat Max mengambil sebuah botol wine dan memukulnya ke kepala hingga botolnya pecah. Darah segar pun keluar dari kepala Leon.


“Aaaa!” Leon berteriak kesakitan.


“Jangan ada yang berani beranjak!” Max berkata dengan suara yang tenang, namun sebuah ancaman.


Semua orang seperti terbius, seketika itu juga mereka berhenti dan melihat Max. Viola pun sangat ketakutan, badannya bergetar.


Max menepuk-nepuk wajah Leon dan mengatakan, “Sebaiknya kamu cepat panggil ayahmu yang katanya menjabat wali kota untuk datang ke sini dan minta maaf padaku!”


“Max mengambil poselnya, lalu menelepon ayahnya, “A-ayah, cepatlah datang selamatkan aku!”


Suara dari sebelah sisi telepon belum sempat merespons ketika Max tiba-tiba merebut telepon Leon. Dia tertawa dan berkata, “Lebih baik kamu cepat datang ke sini untuk meminta maaf! Oh iya, aku adalah Max Setiono!”


Setelah telepon ditutup, Leon tiba-tiba tertawa sinis dalam hati, “Max, habis kamu kali ini! Lihat saja bagaimana aku memberimu pelajaran nanti!”


Max tidak berbicara sepatah kata apa pun, dia mengambil sebotol wine lagi dan memukul ke badan Leon.


“Aaaa!” Dari dalam ruangan itu terdengar suara teriakan Leon yang sangat kesakitan.


Semua orang yang berada di sana tahu, Max akan habis di tangan ayahnya Leon. Mungkin juga nyawanya tidak akan selamat.


Viola sangat tercengang melihat kejadian hari ini. Bagaimana pun juga, dia tidak pernah menyangka Max bisa mengambil langkah yang menghancurkan dirinya sendiri seperti ini. Sekarang, siapa pun tidak ada yang bisa menyelamatkan dia.


Tidak sampai 20 menit, beberapa mobil tiba di depan Queen Hotel. Gerombolan orang-orang itu pun masuk ke dalam hotel. Mendengar suara langkah kaki yang sangat jelas, Leon pun sangat bersemangat.


Gerombolan orang itu masuk ke ruangan mereka. Mereka semua berpakaian rapi, lengkap dengan jas. Kelihatannya mereka semua adalah penjabat.


Yang memimpin mereka adalah seorang pria paruh baya yang bergaya mewah dan tampak berwibawa, auranya memenuhi seluruh ruangan. Dia adalah Robin, ayahnya Leon.

__ADS_1


Mereka berjalan masuk dengan buru-buru. Apalagi setelah melihat Leon, mereka langsung menyelonong masuk dalam ruangan.


“Ayah, selamatkan aku! Dia memukulku dengan botol wine hingga seperti ini!” Leon meminta pertolongan ayahnya.


Namun Robin berjalan melewati Leon dan tidak memedulikannya. Dia malah menatap Max dan bertanya, “Kamu baik-baik saja kan?”


Para penjabat yang mengikuti Robin menatap dan menolong Leon, mereka semua ikut memperhatikan Max. Semua orang yang berada di sana terbengong. Terutama Leon, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya


“Ayah, aku ini anakmu! Aku yang terluka bukan dia!”


Leon merasa sangat kecewa dan sakit hati. Namun Robin tetap tidak berani menatap Leon, dia masih melihat Max.


“Aku tidak apa-apa, hanya saja anakmu semena-mena dan selalu membawa namamu untuk membuat masalah.” Max menjawab pertanyaan Robin.


Robin menarik Leon dan memberikan sebuah tamparan di wajahnya dan pukulan di perutnya.


“Plak! Bruk!” suara tamparan dan pukulan yang keras.


“Bagaimana mungkin aku punya anak seperti kamu ini! Bikin malu saja! Apa kamu ingin mencelakakan ayah hah?!”


Leon benar-benar dibuat bingung. Hingga kini, dia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi. Mengapa ayahnya bisa sampai tega memukulnya seperti itu? Padahal jelas-jelas dia yang terluka. Namun mengapa malah Max yang mendapat perhatian dari ayahnya?


Tidak hanya Leon yang dibuat bingung, orang-orang yang menyaksikan kejadian itu juga sangat tercengang. Mereka sekarang menatap Max dengan tatapan yang berbeda. Apa yang sebenarnya terjadi?


Hanya Viola yang sedikit mengerti keadaan yang terjadi. Mungkin karena identitas Max yang mampu menekan kekuasaannya Robin? Inilah mengapa Max berani bertindak sesuka hatinya.


Pada saat itu juga, seorang pria berjas rapi dan membawa tas kerja masuk dari luar, dia adalah Anton Purnomo.


“Eh? Bukankah dia adalah sekretaris pemerintahan, Anton Purnomo?”


“Betul, memang dia! Sekretaris nomor 1 di kota S! Dia adalah sekretaris bos besar. Setiap kali dia muncul, pasti untuk mewakili wali kota S.”


Mereka semua dengan cepat mengenali Anton, mereka semua sangat terkejut dengan kedatangan sekretaris nomor 1 itu.

__ADS_1


__ADS_2