
“Non Alena, silahkan duduk!”
“Duduk sini,” ujar Max sambil menarik tangan Alena yang tadi hanya terdiam.
Tak lama segelas kopi dan teh pun dihidangkan. Kedua tangan Alena masih bergetar saat dia mengambil gelasnya, berbeda dengan Max yang duduk dengan satu kaki yang menyilang selayaknya bos.
Di hadapan Max, Kevin terlihat seperti pelayan. Bahkan Kevin tidak berani menatap wajah mata Max. Inilah Direktur Kevin yang sosoknya selalu ditakuti!
Alena berusaha menenangkan dirinya, kemudian dia beranjak dari tempatnya dan menyerahkan semua berkas, “P-Pak Kevin ... perkenalkan aku Alena, ini planning-nya yang sudah aku buat. Silahkan dilihat-lihat!”
Kevin melihat dan membaca seksama berkas-berkasnya dengan pengurus lainnya sembari Alena menjelaskan isinya. Setelah kurang lebih 30 menit terlewati, Kevin bangkit dari tempat duduknya dan mengatakan, “Gak salah kami milih Non Alena! Ini planning yang sempurna, kami kasih nilai 95!Beberapa detail ada yang kami koreksi, dan sekarang sudah sempurna.”
“Ehem .. berarti kalian milih Alena?” tanya Max dengan tatapan yang mengerikan ke Kevin.
“Dari total 40 tender yang masuk, nilai Non Alena yang paling tinggi! Dan juga dari dulu kami sudah survei kemampuan Aralnaco yang memang layak! Sekarang tinggal ikutin prosedurnya aja, 4 hari lagi sudah bisa tanda tangan!”
Tak heran Alena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena ini semua sudah ditetapkan secara internal! Max pun beranjak dan mengajak Alena untuk pergi, “Terima kasih ya ...”
Mendengar Max berterima kasih, Kevin kaget sampai dia hampir terjatuh. Lalu kevin mengatakan, “Eh? Jangan begitu! Kami yang sehgarusnya berterima kasih!”
Bahkan ketika mereka sudah keluar pun, pikiran Alena masih melayang-layang. Adam dan yang lainnya langsung mengerumuni mereka, “Alena, bagaimana?”
“Kakek, tahap awal sudah selesai. Nilai kita yang paling tinngi yaitu 95, kata Pak Kevin 4 hari lagi sudah bisa tanda tangan kontrak. Kontrak ini a ... kita yang handle, tapi ini masih ada prosedur lainnya, dan juga jangan kasih tau siapa pun dulu!” Alena tadinya ingin bilang kalau dialah yang ditunjuk, tapi karena ada kakeknya, ia pun mengganti kata-katanya.
“Kerja bagus! Alena, kamu memang kebanggaan kakek! Kamu pahlawan keluarga kita!” Adam dan yang lainnya terlihat sangat gembira, bagaimanapun juga proyek ini bernilai triliunan! Bahkan Alena masih merasa mimpi.
Setelah itu Alena pulang ke rumah, sedangkan Max pulang ke Apartemennya. Adam dan yang lainnya juga pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Lara sempat ragu dan memberanikan diri untuk bertanya, “Kakek beneran mau kasih Alena yang handleproyeknya? Aku takutnya Alena punya maksud tersembunyi dan nantinya proyek ini jadi di luar kendali kita.”
“Lara, ini sudah aku antisipasi! Kamu nggak dengar Alena bicarakan tadi? Sekarang proyeknya sudah fix jadi milik kita, 4 hari lagi tinggal tanda tangan. Sekarang Alena sudah tidak berguna lagi. Lagian juga perusahaan sekecil Aralnaco punya dia memangnya sanggup nanganin proyek yang harganya triliunan? Makanya 4 hari lagi kalian yang tanda tangan! Dan juga aku cuma kasih Alena jabatan kosong saja, tapi sebenarnya bukan dia yang handle proyeknya.”
“hahaha ..., kakek memang jenius!”
Alena tiba di rumah dengan disambut orang tuanya, Arya dan Nanda memandang Alena dengan tatapan tidak percaya, “Max emang sudah menebaknya dengan betul.”
“Tapi bagaimana proyek ini bisa sampai ke tangan kita? Bukankah ada banyak perusahaan yang lebih besar selain keluarga Veyron?” tanya Nanda ke Alena.
Orang tuanya Alena terdengar bingung, tetapi di antara mereka semua, Alena lah orang yang paling bingung. Lalu Alena menghubungi Max untuk menanyakan apa yang terjadi tadi dan panggilan itu di los speaker biar kedengaran sama Arya dan Nanda.
“Max, kamu bisa beri penjelasan, kenapa harus aku yang tanda tangan?” ucap Alena sembari menunggu penjelasan dari Max.
Karena Alena selalu merasa kalau Max selalu mendukung keputusan atau rencananya dan apa pun yang dikatakan Alena pasti akan selalu menjadi kenyataan.
Lalu Max menjawabnya dengan sedikit tertawa, “Alena, apakah kamu sudah lupa? Saat kita menghadiri perjamuaan malam itu, apa yang dikatakan mayor jenderal Sebas? Hal yang dikatakan orang-orang besar itu pasti menjadi kenyataan.”
Alena tersenyum canggung, “Aku pikir mayor jenderal Sebas hanya bercanda saja, tapi tidak demikian.”
......
Empat hari berlalu dalam sekejap
Alena datang ke Apartemennya Max untuk menjemputnya, mereka mengenakan sebuah setelan formal dan mereka hendak menandatangani kontrak.
“Bentar, aku mau beri tahu kakek tentang ini!” Alena menelepon Adam.
__ADS_1
“Iya a, ada apa?”
“Kakek, aku akan pergi menandatangani kontra sekarang, ini ingin memberi tahumu saja.:
“O-oh masalah itu, Lara dan Daniel sudah pergi, jadi kamu tidak perlu pergi lagi. Jangan khawtir, mereka akan menandatangani atas namamu! Jangan terlalu khawatir masalah ini.” Ucap Adam.
Kemudian Adam menutup telepon dengan tidak sabar, Alena tercengang ... telepon wanita itu hampir jatuh.
“Alena, apa yang terjadi?” tanya Max.
“Kakek berkata bahwa masalah ini tak ada hubungannya denganku ... seseorang akan menandatangi kontrak ini atas namaku!” jawab Alena dengan air mata menetes dari matanya dan Alena mulai nangis.
“Jangan khawatir Alena, tidak ada yang bisa mengambil apa yang sudah menjadi milikmu!” ucap Max.
Max yang melihat sahabatnya yaitu Alena sedang menangis langsung marah! ‘Ternyata keluarga Veyron sama sekali tak tahu malu!’ kata hati Max. Lalu Max berbalik dan mengirim sebuah pesan langsung kepada direktur Biro Kontruksi Perkotaan!
......
Pada saat itu, di pertemuan tanda tangan kontrak. Puluhan perusahaan duduk bersama dan menunggu pengumuman hasilnya.
Neil Barton adalah Wakil Direktur Biro Kontruksi Perkotaan yang akan mengumumkan hasilnya, “Saya akan mengumumkan bahwa proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah akan dikembangkan oleh Veyron Corp!”
Penonton langsung heboh mendengar pengumuman Neil, semua orang tidak mengerti bagaimana Veyron Corp bisa menang. Kemudian saat itu perwakilan dari Veyron Corp, Lara Veyron dan Daniel Veyron berdiri dan menerima ucapan selamat dari orang-orang di sekitar mereka.
Direktur Kevin yang sudah siap ingin menandatangani perjanjian konrak melihat Lara dan Daniel, lalu pria itu bertanya, “Hah? Dimana Nona Alena?” Kevin melihat sekeliling dengan ekspresi heran di matanya.
“Begini direktur Kevin, Alena sekarang sedang sibuk dengan hal-hal lain,kita akan tanda tangan atas namanya.” Lara berkata sembari tersemyum.
__ADS_1
Kevin mencibir dengan senyuman dingin, “Aku mau bertanya, kamu ingin menandatangani kontrak ini atas nama Nona Alena, atau kamu akan menandatangani dengan nama orang lain?”
Mereka tentunya tidak berencana untuk menulis nama Alena ... kalau begitu bukankah akan menjadi kontrak milik Alena? Lara dan Daniel sudah siap untuk tanda tangan menggunakan nama Adam.