
Karena sistem yang digunakan untuk para pekerja seperti Max hanya menggunakan barapa banyak barang yang ia bawa masuk ke dalam tempat dimana para wanita membersihkan sari laut yang mereka bawa.
Pantes saja, selama sebulan aku hanya mendapat gaji segini, sedangkan mereka mendapat tiga kali lipat dari gajiku. Ternyata mereka menggunakan cara seperti itu, cara yang illegal. Apakah mandornya tidak mempertanyakan hal ini?
Jika ini terus berlanjut maka hanya jangka setahun perusahaan ini akan mengalami penurunan penghasilan yang derastis, hingga bisa membuat perusahaan ini dalam masa kebangkrutan.
Jiwa pebisnis Max kembali tumbuh dalam dirinya, hingga ia berhasil membuat penghimbauan soal tempat ia bekerja. Namun diantara banyaknya pekerja yang Max kenal, hanya satu yang terlihat tidak menyukainya , yaitu Gio.
Max tidak pernah tau, apa yang membuat Gio begitu sangat tidak menyukainya. Bahkan Gio selalu menampakkan wajah kesal dan marah ketika melihatnya meskipun Max tersenyum melihat ke arahnya.
“Kenapa dia?” Itulah yang selalu Max katakan ketika Gio mengabaikan senyuman yang ia lempar kepadanya.
Seperti siang ini semua pekerja wanita maupun pekerja laki-laki mulai berkumpul di kantin perusahaan untuk menikmati makan siang mereka.
Max mulai duduk berhadapan dengan Rezaldin, namun tiba-tiba seorang gadis tiba-tiba duduk di sampingnya dengan membawa sebuah bekal makanan yang terlihat lumanyan banyak.
"Makan denganku Tio," ucap gadis itu meletakkan piring di hadapan Max, sementara Rezaldin hanya terdiam melihat gadis yang ada di samping Max yang bernama Lisa.
Max yang mendapat makanan gratis dari Lisa tersenyum, setidaknya uang hari ini tidak keluar untuk membeli sepiring makanan.
Jiwa irit Max mulai tumbuh dalam dirinya ketika merasakan betapa susahnya mendapat uang yang tidak seberapa menurutnya, bahkan gaji sebanyak itu biasanya Max hanya ia gunakan untuk membeli permen dan sekarang uang sebanyak itu sangat berarti dalam hidupnya yang sekarang.
Hidup Mandiri tanpa mengandalkan harta yang dimiliki ternyata bisa membuat kita menghargai banyak dan sedikitnya penghasilan yang kita peroleh.
Meskipun mau Max bisa kembali kapanpun yang ia mau ke rumah mewahnya, namun kesenangan hati mulai menghampirinya hingga ia betah melakukan semua itu, bekerja menjadi buruh di perusahaan kecil kini telah menjadi pilihan hidup Max.
"Terimakasih, maaf, aku belum mengenal nama kamu," tanya Max pelan tersenyum melihat ke arah Lisa yang kini tengah duduk di sampingya.
"Panggil saja Lisa," Ucapnya mengulurkan tangan pada Max.
__ADS_1
"Tio," membalas uluran tangan Lisa.
"Kalau nama kamu aku sudah tau, karena aku sering mendengar para pekerja yang lainnya menyebut nama kamu." Lisa menjelaskan.
"Baiklah."
"Ayo kita makan,” ajak Lisa mengisi piring kosong yang telah ia letakkan di hadapan Max.
"Reza, kamu juga ikut makan," ajak Max kepada temanya dan itu mendapat senyuman dari Lisa yang duduk di hadapannya.
"Reza, ini piringnya, aku bawa makanan lebih kok, cukup untuk 5 orang.” Lisa menjelaskan.
Dan tentu membuat Rezaldin merasa sangat senang mendapat makanan gratis hari ini, ah, setidaknya uangku hari ini tidak berkurang.
Hidup di rantauan haruslah menggunakan jiwa irit, karena jika tidak, kamu akan merasa sengsara dengan hidupmu tanpa tabungan tanpa uang dan tanpa segalanya.
"Terimakasih banyak Lisa." Ucap Rezaldin meraih piring yang Lisa berikan untuknya. dan mendapat senyuman tipis dari Lisa.
Namun tanpa mereka bertiga ketahui, seseorang tengah mengepalkan tangan, memasang wajah kesal, tidak suka melihat kedekatan Lisa dengan pemuda yang baru saja bergabung di perusahaan itu yang bernama Tio.
lya, aku akui pemuda itu sangat tampan, lebih tampan dan bersih dariku, memiliki postur tubuh yang sispek, bahkan aku bisa melihat kulitnya memerah ketika terkena terpaan cahaya sinar mátahari. Namun bukan berarti kamu harus membuang perhatian kamu ke aku dan memilih memperhatikan pekerja baru itu.
Gio dialah teman kerja Max, mereka berdua bekerja di tempat yang sama. Namun Gio memiliki sikap yang culas dan suka iri dengan apa yang di dapat temannya, hingga pikiran-pikiran buruk itu mulai tumbuh di dalam hatinya yang ingin mengancam Max agar tidak mendekati gadis yang di sukainya.
Max yang tidak mengetahui hal itu, hanya menganggap Lisa sebatas teman kerja saja tidak lebih. Karena menurut Max semua gadis itu sama, jika bosan, gadis itu akan menghianati dan menjalin hubungan dengan pria lain, huf, sebuah kehidupan yang ironis.
Setelah selesai menikmati makan siang bersama dengan Lisa, Max membantu Lisa merapihkan bekal makanan yang ia tempati makanan.
"Terimakasih Lisa, makanannya sangat lezat, aku suka," ucap Max pelan tersenyum melihat ke arah Lisa.
__ADS_1
"Terimakasih Tio, aku senang bisa makan siang dengan kamu," jawab Lisa pelan, tersenyum manis melihat ke arah Max yang kini tengah melihat ke arahnya.
Setelah mengatakan itu kepada Max, Lisa berlalu meninggalkan kedua pemuda itu, berjalan menuju lokernya dan menaruh tempat bekal makanannya karena sebentar lagi jam bekerja akan segera di mulai.
"Sepertinya Lisa ada rasa sama kamu Tio."
Max yang mendengar ucapan Rezaldin hanya menanpakkan senyumannya, karena jujur ia tidak memperhatikan dan tidak melihat hal itu.
"Ah, itu hanya perasaan kamu saja,” Max mengibas tangan di depan wajah Rezaldin.
"Benar, aku bisa melihat tatapan matanya melihat ke arahmu."
"Biarkan saja, aku tidak pernah memikirkan untuk menjalin hubungan dengan gadis manapun." Ucap Max.
Sebenarnya Max ingin mendapatkan gadis yang mencintainya dengan tulus, tetapi Max tidak terbutu-buru dengan hal itu.
Rezaldin menyengitkan dahi bingung mendengar ucapan terakhir Max yang tidak ingin menjalin hubungan dengan gadis.
Apa Tio pemuda yang normal? Kenapa ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan gadis? Apa ia memiliki cerita rumit tentang kisah cintanya? Namun entahlah semua itu hanya Tio yang tau, dan aku tidak akan pernah tau jika ia tidak memberitahukan aku.
“Apa kamu normal?” bisik pelan Rezaldin di telinga Max.
Mungkin terlalu penasaran ingin tau, soal pemuda yang ada di hadapannya hingga Rezaldin dengan segera menanyakan hal itu pada Max.
Sementara Max yang mendapat bisikan seperti itu di telinganya membulatkan mata terkejut mendengar pertanyaan Rezaldin yang terdengar aneh menurutnya.
"Kamu sudah gila menanyakan hal itu padaku," menepuk pelan bahu Rezaldin, jika saja orang lain yang mengatakan hal itu pasti Max telah mengajaknya bertengkar beruntung hanya Rezaldin.
"Aku ini pemuda normal, masih tau mencintai dan dicintai Za. Namun aku tidak terlalu terburu-buru dengan hal ini.” Max menundukkan wajah ketika mengatakan itu kepada Rezaldin.
__ADS_1