Iam Come Back

Iam Come Back
Andre yang angkuh


__ADS_3

Bang Andre sedikit terkejut melihat kehadiran Tian, dengan adanya aura membunuh pada diri Tian, yang membuat bang Andre merasa sedikit terancam.


“Hei kamu! Aku tanya kamu! Siapa yang memukul anak buahku?” bang Andre bertanya pada Tian.


Bang Andre adalah ketua preman di desa itu. Jika dia menginginkan uang, tidak perlu merampok, cukup meminta biaya keamanan kepada seluruh penduduk desa.


Tidak pernah ada yang berani menantang keinginannya dan perintahnya, juga tidak pernah ada orang yang berani memukul anak buahnya.


Oleh sebab itu, dia sangat marah saat tahu kalau ada yang berani mengusik anak buahnya. Dia pun langsung membawa gerombolan anak buahnya untuk melihat siapa yang berani mengusik anak buahnya.


Max tertawa dan menjawab, “Wah-wah siapa yang berteriak ini? Teriakannya sudah kayak orang utan.”


“Siapa kamu? Lancang sekali kamu bicara pada bang Andre?” ucap salah satu anak buah Andre


“Siapa aku? Kalian tak perlu tahu siapa aku! Tapi kalian perlu tahu, aku yang sudah memukul anak buahmu.”


“Wow, berani sekali kamu. Apakah kamu saudaranya Mark? Besar sekali nyalimu Mark! Beraninya memanggil orang untuk memukul anak buahku!” ucap bang Andre.


“Haduh, ini sebuah kesalahpahaman. Tuan Mark tidak memanggil siapa pun, tapi aku datang dengan sendirinya!” kata Max.


“Boleh juga kamu, lihat saja bagaimana aku memberi kalian pelajaran!” bang Andre menatap Max dan mengancam mereka.


Mark sudah sangat ketakutan, dia pun langsung meminta ampun pada bang Andre, “Bang Andre, anakku ini memang belum tahu aturan di sini. Tolong ampuni dia, saya janji tidak akan berani lagi.”


“Ternyata ini anakmu ya, bisa saja kemaafkan! Tapi ganti rugi biaya berobat 600 juta dan berikan lengan kalian. Maka urusan ini selesai sampai di sini.” Bang Andre tertawa licik.


“Apa? 600 juta?!”


Mark dan Lula merasa seperti tersambar petir. Dulu bagi Mark dan Lula, uang segitu hanyalah nominal yang sangat kecil. Tetapi di saat ini, mereka sudah tak punya apa-apa, uang segitu bagi mereka yang sekarang sudahlah sangat banyak.

__ADS_1


“Jangan patahkan lengan anakku, anakku masih muda, aku mohon! Jika kamu ingin lengan, ambillah lengan kami berdua!” Mark menangis memohon kepada bang Andre.


“Haha, tentu saja tidak bisa begitu! Untuk apa aku meminta lengan tua bangka seperti kalian? Dengar tidak kalian? Jangan sampai aku turun tangan!” bang Andre mencibir dan menatap Max.


“Bremm ... bremm ... bremm ...”


Tiba-tiba terdengar suara mobil di luar rumah, satu per satu mobil masuk ke dalam gang. Bang Andre dan anak buahnya pun penasaran dan melihat ke luar. Di depan rumah, sudah ada puluhan mobil yang terpakir.


Sudah tidak terhitung lagi beberapa orang yang turun dari mobil-mobil itu. Semuanya berbadan besar dan wajahnya sangat sangar. Mereka menyerbu masuk ke dalam halaman rumah Mark. Seketika itu juga, halaman rumah Mark yang memang tidak besar itu penuh dengan orang.


Mereka mengepung anak buah bang Andre yang hanya bejumlah 80 orang. Mereka semua juga memegang senjata tongkat masing-masing dan menatap bang Andre serta anak buahnya dengan tatapan ingin menerkam musuh.


“Bang Andre, jika dihitung-hitung, mereka ada sekitar 200 orang. Dan jika ditambah dengan yang masih berada di luar, memungkinkan jumlahnya mencapai 300 orang.” Ujar salah satu anak buah bang Andre yang melapor padanya sambil gemetar.


“Hah? Apa? 300 orang?!” bang Andre dan komplotannya terkejut dan panik.


Mereka melihat sekeliling dan menyadari bahwa yang mengepung mereka semua berbadan besar dan memiliki hawa pembunuh. Sangat jelas orang-orang itu adalah petarung profesional.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” Bang Andre pun gemetar dan takut.


Pada saat itu juga, dari dalam kerumunan orang-orang itu, tiba-tiba ada yang berjalan ke depan, yang dikepalai oleh Joan, dan ada 3 orang lagi di sampingnya.


“Ini adalah Joan? Isaac Miller? Paul Sean? Eddie Chris?” Bang Andre pernah menjadi preman di kota S, dia mengenali siapa yang disebutkan tadi itu.


Di mata Isaac, dia tidak lebih dari seorang preman jalanan. Apalagi di depan Joan, dia sama sekali buka apa-apa. Bahkan untuk menjadi pengikutnya pun, bang Andre belum pantas.


“Tuan Joan, apa yang membawamu datang ke tempat kecil seperti ini?”


Bang Andre bertanya sambil menundukkan badanya, namun tidak ada yang menggubris bang Andre sama sekali.

__ADS_1


Mereka langsung berjalan ke pintu rumah dan menunduk hormat kepada Max lalu bertanya, “Tuan Max, apa yang bisa kami lakukan?”


“Aapa?!”


Bang Andre dan komplotannya tercengang ketika melihat pemandangan di depan mata mereka, hampir tidak percaya. Mereka pun terbengong-bengong melihatnya.


“Bagaimana mungkin Tuan Joan bersikap begitu hormat pada anak muda ini? Apa latar belakang anak muda ini?” guman dalam hati Andre.


Bahkan Mark dan Lula pun ikut tercengang tidak percaya. Jika dilihat dari sikap bang Andre, tidak usah ditebak, Tuan Joan ini pasti adalah orang hebat. Tapi mengapa mereka begitu hormat pada Max?


“Mereka telah mengganggu orang tuaku, tolong bereskan mereka!” ucap Max.


Selesai bicara, Max mengajak orang tuanya masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu. Setelah mendengar perintah, Joan membalikkan badannya dan berteriak pada anak buahnya.


“Serang!! Hajar mereka! Tidak ada kata ampun!”


Mendengar perintah Joan, bang Andre terpaku dengan wajah panik. 300 orang menghajar komplotan bang Andre yang hanya berjumlah 80 orang.


Dan sebenarnya, anak buah bang Andre tidak memiliki kemampuan sama sekali. Tidak sampai 40 detik, semua orang sudah tergeletak takberdaya, namun bagi Joan, pertunjukan baru saja dimulai.


Mereka memukuli komplotan bang Andre yang tergeletak di tanah dengan tongkat di tangan. Tubuh bang Andre yang penuh luka pun sudah bergemetar. Seluruh anak buahnya berteriak kesakitan meminta ampun.


Dan Max yang berada di dalam rumah, tidak memedulikan apa yang terjadi di luar. Dia percaya dengan cara kerja Joan. Dia akan membereskan hal ini dengan baik dan rapi dan ketika keluar rumah nanti, dia tidak akan melihat setitik darah pun.


“Max, kamu sangat hebat sekali?” Mark yang masih tidak percaya apa yang telah terjadi, bertanya pada Max.


Dengan tertawa, Max menjawab, “Pa, Ma,tenang saja. Aku sekarang sudah cukup kuat. Tinggu 6 hari lagi, aku akan membuat anggota keluarga inti yang sekarang berlutut di depan anggota keluarga inti terdahulu, dan membuat mereka membayar perbuatan mereka!”


“Ha? Apakah itu benar Max?” Mark merasa ini terlalu gila.

__ADS_1


Namun mengingat apa yang baru saja terjadi di depan rumahnya, dia pun merasa Max tidak membual.


__ADS_2