
"Kita sudah sampai," ucap Rezaldin berhenti menarik gerobak yang ia tarik dan menaruhnya tepat di depan sebuah kamar, mungkin itu kamar tempat tinggalnya, itulah yang terlintas di dalam pikiran Max saat ini.
Melihat melihat sekeliling rumah kost yang Rezaldin tunjukkan padanya, halaman depan kost yang nampak terlihat cukup lumayan bersih dan rapih, tepat di samping kamar kost ada sebuah pohon besar di sana ia bisa melihat rumah-rumah yang bisa di tempati berkumpul oleh para penghuni kost di waktu mereka tidak bekerja.
"Oke"
"Baiklah ayo kita masuk dan melihat kamar aku sebagai contoh kamar yang lainnya, karena kamar aku dan kamar yang lainnya sama saja. Jika kamu suka kita akan ke rumah pemilik kost ini untuk mengambil dan menyewa untuk kamu tempati menginap selama sebulan."
"Oke"
Hanya kata itu yang selalu Max keluarkan dari mulutnya, ia merasa tidak yakin apa ia bisa dan sanggup untuk menginap di kamar sempit seperti itu, pasti akan terasa panas itulah yang terlintas dalam pikiran Max saat ini.
Mengingat dirinya yang selalu tertidur di bawa hembusan AC yang begitu sangat dingin di tambah tempat tidur empuk dan luas yang ia miliki membuatnya merasa tidak yakin kalau ia akan sanggup dan mampu untuk tidur walau untuk semalam saja.
Tetapi, Max yakin sanggup melakukannya. Max dulu aja pernah melakukan berbagai hal yang sulit di dunia militer, buat Max, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan ia hidup di kemiliteran selama 6 tahun lamanya.
Rezaldin melihat ke arah Max yang dari tadi menjawab semua pertanyaannya dengan satu kata saja, menyengitkan dahi bingung, apakah pemuda ini ingin nenyewa kamar kost atau tidak? Hingga akhirnya ia lebih memilih Max masuk ke dalam kamarnya.
"Nah inilah rumahku Tio, dan jika kamu mau, kamu bisa mengambil kamar kosong yang ada di samping kamarku ini. Di sini sewa kamarnya sebulan murah kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menyewa kontrakan yang layak seperti yang ada di dekat pabrik tempat tinggal aku.” Rezaldin sedikit menjelaskan.
Max mulai melihat sekeliling kamar Rezaldin yang terlihat sangat sempit baginya, karena ukuran kamar kost yang Rezaldin tunjukkan lebih besar dan lebih luas daripada kamar mandi yang ada di rumahnya.
Berpikir dan memikirkan soal tempat tinggal itulah yang tengah Max lakukan saat ini, ia merasa tidak yakin dengan dirinya kalau ia bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini, mencoba itulah yang harus ia lakukan saat ini.
“Bagaimana apa kamu ingin nmengambil kamar sebelah?" tanya Rezaldin menyadarkan Max dari lamunannya.
“Baiklah, sepertinya akan jauh lebih baik" jawab Max pelan sambil mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
“Apakah ini akan menjadi pilihan hidupku? Menjadi orang yang tak di kenali di kota ini? Tapi mungkin itu akan jauh lebih baik, meski sulit, berusaha itulah yang harus kulakukan.” Dalam benak Max.
Setelah mendengar ucapan Max, dengan segera Rezaldin membersikan diri terlebih dahulu sebelum ia ke rumah pemilik kontrakan, karena pakaian yang ia gunakan sangat kotor penuh dengan debu yang di keluarkan pabrik yang ia tempati bekerja.
Max nampak tertegun ketika melihat wajah Rezaldin ketika selesai membersikan diri, Rezaldin yang kotor dan dekil kini tengah berubah menjadi seorang pemuda tampan yang rapi, tidak sama seperti Max menemukannya di stasiun yang menarik gerobak.
"Ayo kita kerumah pemilik kost,” ajak Rezaldin berjalan keluar dari dalam kamar kost.
"Ayo" angguk Max pelan, mengikuti langkah kaki Rezaldin berjalan keluar dari dalam kamar kostnya.
Mereka berdua berjalan keluar, dan kembali melewati jalan searah kerumah pemilik kost. Max nampak heran melihat tingkah laku Rezaldin yang seolah tengah merapihkan penampilannya, Kenapa dia? Itulah yang terlintas dalam pikiran Max ketika melihat Rezaldin tidak berhenti merapihkan penampilannya.
Setelah sampai di depan sebuah rumah yang terbilang cukup lumayan besar di kota C, Rezaldin melihat sekeliling halamam rumah yang akan ia masuki pagarnya.
"Kamu kenapa Za?” tanya Max pelan, menatap bingung melihat ke arah Rezaldin yang terus melihat seseliling halaman rumah.
"Hem, aku tidak kenapa-napa, aku hanya mencari seseorang." Jawab Rezaldin dengan nada suara yang terdengar malu kepada Max.
"Apa gadis itu gadismu?" tanya Max melihat ke arah gadis yang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
Dengan nada suara malu-malu Rezaldin menjawab ucapan Max, “Iya, dia gadisku, aku sangat mencintainya."
"Baiklah, segera nikahi dia." Max menepuk pelan bahu Rezaldin setelah selesai mengatakan itu.
Sementara Rezaldin kembali melihat ke arah gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Ibu ada?" tanya Rezaldin.
__ADS_1
"Ada, kenapa?”
"Ada yang ingin mengontrak kamar kosong yang ada di samping kamarku."
"Oh, masuk, ibu ada di dalam, langsung saja."
"Terimakasih, dan kenalkan, ini orang yang ingin mengontrak di samping kamar aku." ucap Rezaldin memperkenalkan mereka berdua.
"Vina"
"Tio"
Setelah memperkenalkan mereka berdua, Rezaldin dan Max berjalan masuk, sementara Vina berjalan keluar rumah. Entahlah mungkin ada sesuatu yang ingin ia beli sehingga ia keluar dari rumahnya ketika Rezaldin berada di rumahnya.
Max dan Rezaldin mulai memabahas soal sewa kamar selama sebulan, cukup murah dari apa yang aku pikirkan dan akan lebih baik jika aku merenovasi kamar itu menjadi kamar yang layak untuk aku tinggali. Baiklah Max, semangat kehidupanmu yang mengerikan sudah hampir di mulai, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
Setelah kembali dari rumah pemilik kos, Max berjalan berdampingan sambil bercerita-cerita soal kehidupan semua orang yang tinggal di kota C.
"Za, apa di sini ada pasar yang dekat? Aku ingin membeli sedikit keperluanku." tanya Max.
"Ada, pasar tidak jauh dari sini, jika kamu mau kita ke pasar sekarang." Jawab Rezaldin.
"Baiklah."
Max dan Rezaldin memutar arah langkah kaki mereka, menuju arah pasar untuk membeli beberapa keperluan yang akan ia gunakan ketika tinggal di dalam kamar kostnya.
Namun sebelum sampai di pasar tanpa sengaja Max melihat Vina gadis yang Rezaldin cintai tengah berboncengan dengan seseorang yang tidak ia kenal, namun mungkin Rezaldin mengenal orang itu.
__ADS_1
Mengingat ia baru di kota C, Max bisa melihat Vina di bonceng oleh seorang pemuda yang jauh lebih mapan dari pada Rezaldin, terlihat jelas dari motor spot yang digunakan oleh pemuda itu.
Max bisa menebak kalau Vina dan pemuda itu adalah pasangan kekasih terlihat jelas dari cara Vina memeluk dengan erat pemuda itu dari belakang.