Iam Come Back

Iam Come Back
Telepon dari Keysia


__ADS_3

Kenapa hingga saat ini Keysia belum menghubungiku? Apa yang terjadi dengannya? Apakah ia tidak memiliki handphone? Tentu saja ia memiliki handphone, kemarin malam aku bisa melihatnya di warung makan, ia bermain dengan handphonenya. Dalam pikiran Max.


Max beranjak dari duduknya berjalan ke arah dispencer untuk menyeduh kopi saset yang telah ia sediakan sebelumnya, karena memang ia adalah pencinta kopi sama seperti yang selalu ia minum di kantornya ketika tengah bekerja. Tapi merek kopi yang ia minum saat ini harganya lebih terjangkau dari pada kopi yang selalu ia minum ketika berada di perusahaannya.


Selesai menyeduh kopi, Max kembali berjalan ke arah ke arah tempat tidurnya, lalu duduk dan menaruh gelas kopinya di atas meja mini yang ada disamping tempat tidurnya.


Jam telah menunjukkan pukul 10 malam, ia belum mendengar tanda-tanda Rezaldin telah kembali ke kamarnya.


“Apa Rezaldin belum kembali? Tidak biasanya ia kembali selarut ini, biasanya ia hanya kembali pukul 9 tidak lebih apalagi sampai jam 10.” Ucap Max.


Max merasa sedikit panik dan khawatir ketika ia belum mendengar suara langkah kaki Rezaldin, karena itu bukan kebiasaan Rezaldin kembali larut malam seperti ini ke kostnya.


Max beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu kamarnya, lalu membuka melihat-lihat sekeliling yang kini mulai nampak sangat sepi.


Mungkin para pekerja keras yang lainnya suda pada istirahat karena besok pagi mereka semua akan kembali melakukan aktipitas, bekerja dan bekerja mengais rezeki untuk mencari sesuap nasi.


Max duduk di bangku yang berada tepat di depan jendela kamarnya melihat ke arah jalan masuk menuju kamar kostnya, namun yang ia tunggu tidak kunjung kembali.


“Apa jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi dengan Rezaldin? Aku sangat khawatir padanya.” Kekhawatiranya Max.


Max kembali melihat ke arah jalan masuk menuju ke arah kamar kost, dan mulai melihat banyangan seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


"Rezaldin, apa itu kamu?" tanya Max masih melihat ke arah orang yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"lya, ini aku, apa kamu takut? Sehingga bertanya seperti itu padaku?" Rezaldin tanya balik.


"Tidak sama sekali, aku tidak pernah merasa takut dengan siapapun," jawab Max santai.


Takut pada siapa? Aku ini tentara dan sekaligus pembisnis Za, di dunia militer dan bisnis lebih menyeramkan daripada melihat setan sekalipun.


Max tersenyum sendiri mengingat ucapan Rezaldin, ia merasa lucu dengan pertanyaan Rezaldin.

__ADS_1


"Aku masuk Tio, mau istirahat, ini sudah sangat larut"


"Masuklah," angguk pelan Max melihat ke arah Rezaldin yang kini tengah membuka pintu kamarnya lalu masuk dan kembali menutup pintunya.


Trinss.


Max beralih melihat ke dalam kamar ketika mendengar nada suara handphonenya berdering di dalam kamar, dan itu membuatnya kembali masuk ke dalam kamarnya.


Siapa yang menelpon di jam seperti ini? ini sudah sangat larut, Max meraih hapenya lalu menatap layar ponselnya yang menampakkan nomor yang tidak ia Kenal.


Hem, nomor baru, siapa lagi yang mengetahui nomorku yang ini, Max lalu mengingat siapa yang telah ia berikan nomor telponnya, Keysia.


"Halo."


"Halo" Max kembali mengulang kata-katanya karena di sebrang sana tidak ada yang menjawab, yang ia dengar hanya hembusan napas saja.


"Halo, ini siapa? Jika tidak ingin menjawab aku tutup sambungan telponnya ya." Max mulai menjauhkan handphonenya dari telinga karena ingin mematikan sambungan telpon tersebut, namun ia bisa mendengar suara teriakan dari balik telpon.


"Tidak masalah, aku juga baru bangun," Max tersenyum ketika selesai mengatakan itu.


''Tio, maaf atas semalam di pasar malam ya, aku merasa sangat tidak sopan meninggalkanmu sendirian.”


"Oh kalau soal itu tidak apa-apa kok key, oh iya gimana kabar kamu?" tanya Max.


“Aku baik-baik saja, hanya saja ...” jawab Keysia yang tiba-tiba diam.


Keysia terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan Max, ia merasa ragu untuk mengatakan semua tentang dirinya, hidupnya kepada pemuda yang baru saja ia kenal.


“Keysia, kenapa kamu diam? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku akan menjadi pendengar yang baik.” Ucap Max.


Keysia tersenyum ketika mendengar ucapan Max, ia tidak tau kenapa tiba-tiba hatinya menghangat ketika mendengar ucapan Max.

__ADS_1


“Sebenarnya keluargaku memiliki usaha dan akhir-akhir ini usahanya mengalami masalah. Keluargaku ingin aku menyelamatkan usahanya dengan menikahi seorang pengusaha yang bisa dibilang sukses. Aku tidak habis pikir kalau aku sudah seperti dijual sama keluargaku sendiri demi menyelamatkan usahanya, orang tuaku juga tidak menghalangi mereka justru sedikit mendukungnya.” Ujar Keysia.


Keysia tiba-tiba menangis ketika menceritakan soal kehidupannya kepada Max, ia tidak tau selama ini ia hanya memendam semua yang terjadi dengannya. Namun kali ini ia telah menemukan seseorang yang bisa ia tempati untuk mencurahkan segala rasa sakit karena ulah keluarganya yang ingin menikahkannya dengan seseorang yang bukan dia cintai.


Hati Max merasa sangat sakit ketika mendengar suara isakan Keysia dari balik telpon. Seandainya saja kamu berada di hadapanku, aku akan memelukmu Keysia, tapi sayang kamu jauh di sana, batin Max.


“Halo Tio, apa kamu masih mendengarkan ucapanku?" tanya Keysia pelan, dan itu membuat Max tersadar dari lamunannya.


Keysia menanyakan hal itu, karena ia hanya mendengar suara hembusan napas Max saja, hingga ia menganggap Max telah tidur.


"Iya, Key, aku belum tidur, aku masih mendengar semua yang kamu katakana. Apa keluargamu saat ini masih memaksamu untuk menikahi seseorang yang bukan kamu cintai?” tanya Max.


“Iya Tio, mereka masih saja memaksaku untuk menikahi pria itu.” Jawab Keysia.


"Sabar ya Key."


Max ikut sedih dengan apa yang terjadi dengan kehidupan yang Keysia alami.


"Sudah dulu ya Tio, aku tutup telponnya, terimakasih karena telah mendengar keluh kesahku, aku tutup ya udah mengantuk mau istirahat, dada Tio."


"Baiklah, dada Keysia."


Setelah sambungan telponnya dengan Keysia tertutup, Max menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Max mulai menyelimuti tubuhnya sebatas perut, untuk mencoba tertidur malam ini, semoga saja bisa tidur hingga pagi.


Setelah selesai menyimpan nomor Keysia, Max meletakkan kembali handphonenya di atas nakas, lalu meraih bantal guling yang selalu ia peluk ketika ingin tidur.


Max memeluk bantal guling yang selalu menemaninya tidur selama beberapa bulan ini, hingga akhirnya matanya berhasil tertutup sempurna hingga akhirnya terlelap dengan begitu sangat nyenyaknya.


Di sisi lain, Keysia juga sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menyelimuti sekujur tubuhnya hingga akhirnya Keysia mulai memasuki alam mimpinya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Max telah bangun namun tidak beranjak dari tempat tidurnya, ia meraih ponselnya lalu menekan pesan yang ingin ia kirim untuk Keysia.


__ADS_2