
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan,” ucap Max.
“Kak Alena tidak bisa menjalankan metode ini, karena ia masih mengurus proyek-proyek besar kak. Apa boleh aku mengusulkan sesuatu?” tanya Rena.
“Oh begitu, Alena masih belum menjalankan metode yang kamu berikan. Katakan saja usulan kamu,”
“Bagaimana kalau kakak sekalian mencarikan pasangan hidup untuk kak Alena, kalau kakak yang mencarikan, pasti kak Alena tidak kecewa. Karena kakak tahu kalau mencari pasangan untuk Alena itu harus setia dan tulus cintanya.”
Max tersenyum ketika mendengar usulan dari adiknya yang mengatakan kalau meminta mencarikan pasangan untuk Alena.
“Oke, aku akan mencarikan pria yang memenuhi kriteria untuk menjadikan pasangan hidup Alena. Tapi sebelum itu, aku ingin mencari wanita yang benar-benar tulus mencitaiku dan tak memandang materi.” Ucap Max.
Rena tersenyum mendengar ucapan Max, ia sangat setuju dengan hal itu. Bahkan ia juga menginginkan gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya Max adalah gadis yang memiliki sikap polos yang tidak tau apa-apa.
Karena Rena menginginkan kakaknya sendiri yang akan mengajarkan hal itu kepada wanita yang akan mejadi pendamping hidupnya Max kelak. Rena membatin.
“Makasih ya kak, mau menerima usulan dariku,” ucap Rena.
“Sama-sama, bagaimana kabar papa sama mama?” tanya Max.
“Papa sama mama baik-baik saja kak.”
"Baiklah Rena, aku tutup dulu, karena sebentar lagi aku akan masuk bekerja."
Rena yang mendengar ucapan kakaknya, yang mengatakan kalau sebentar lagi akan masuk bekerja merasa sangat terkejut.
__ADS_1
"Kakak bekerja apa, dimana?" tanya Rena, namun tiba-tiba sambungan telpon dengan Max terputus.
Rena mencoba menghubungi kembali nomor yang digunakan Max menghubunginya, namun nomor itu tidak aktif lagi.
"Ear, kenapa kak Max mematikan ponselnya? Aku masih ingin berbicara denganya." Rena merasa sedikit kesal dengan apa yang di lakukan kakaknya, namun ia merasa sangat lega, karena bisa mendengar suara kakaknya.
Max tersenyum ketika ia telah selesai menelpon adiknya serta menanyakan keadaan keluarganya dan semua tentang perusahaan yang di kelola Rena.
Max melepas kartu sim yang baru saja ia gunakan menelpon adiknya, lalu membelahnya jadi dua. Karena ia tidak ingin ada seseorang yang menyalahgunakan kartu sim yang baru saja ia gunakan, setelah melakukan hal itu Max berjalan masuk ke dalam gudang dan bergabung dengan para pekerja yang lainnya.
Sementara Gio yang tidak berhenti merasa iri dengan Max, diam-diam terus mengawasi apa yang tengah Max lakukan, bahkan ia memungut kartu sim yang telah Max rusaki dan buang di lantai.
“Aku ingin tau semua yang kamu lakukan Tio, aku tidak akan pernah terima jika kamu terus mendekati gadis yang aku sukai. Suatu hari dan suatu saat kamu akan menerima ganjaran dari apa yang tengah kamu lakukan padaku, hem, tunggu saja, aku akan membuatmu merasa sangat malu, hingga tidak bisa memperlihatkan wajah kamu lagi di kota ini.” Ujar Gio.
Waktu terus berlalu, tidak terasa 4 bulan Max telah bekerja di pabrik kecil itu. Ada banyak masalah yang terjadi dengan dirinya selama ia bekerja di perusahaan itu. Mulai dari fitnah yang di tujukan olehnya, hingga kasus pencurian yang di lakukan Gio.
Mungkin merasa sangat malu dengan tuduhan yang ia dapat, hingga akhirnya Max lebih memilih kebelakang gudang, duduk sendiri di tanggul mengahadap ke arah laut biru menikmati indahnya alur ombak yang berdesir memabashi pinggir pantai.
Aaaaaa.
Max berteriak menghadap ke arah laut, melepas rasa malu yang kini tengah membalut hatinya, ia tidak percaya jika dirinya harus mendapat malu, dengan tuduhan yang tidak ia lakukan.
Seumur hidupku, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain, kenapa harus mengambil? Semuanya aku miliki, apapun yang ingin aku beli aku sanggup membeli semuanya, bahkan untuk membeli perusahaan ini aku sanggup, mereka sangat keterlaluan menuduhku mencuri uang di depan semua orang.
Max tidak berhenti berkata sendiri, menghadap ke laut berharap rasa malu itu hilang dengan sendirinya, hingga akhirnya ia medengar suara seseorang yang tengah menertawainya.
__ADS_1
Hahaha ...
"Mungkin pemuda itu gila, berteriak dan berbicara sendiri, hahaha ..." Gadis itu terus tertawa menertawai Max yang kini tengah melihat ke arahnya, namun Max tidak bisa melihat wajah gadis itu karena tertutup sebuah selendang berwarna hitam.
"Hei, maksud kamu apa? Siapa yang kamu anggap gila?" tanya Max berjalan ke arah gadis yang kini tengah duduk sendiri di pasir menghadap ke laut.
Dengan rasa penasaran Max berjalan ke arah gadis yang kini tengah duduk di bangku sendirian kembali menghadap ke laut, gadis itu tidak menampakkan wajahnya karena tertutup selendang berwarna hitam, mungkin ia sengaja.
Max berdiri di depan gadis itu, tanpa mengatakan apapun karena gadis itu juga diam, hingga akhirnya ia duduk di sampingnya tanpa berkata apapun.
"Kamu memiliki masalah?" tanya Gadis itu pelan tanpa melihat ke arah Max.
"lya." Jawab cepat Max tanpa berbalik melihat ke arah gadis yang menutup wajah duduk di sampingnya.
Max menarik napasnya, lalu membuangnya secera perlahan ketika selesai mengatakan itu. Ia merasa sangat membutuhkan seseorang yang bisa ia ajak untuk berbicara untuk mengeluarkan semua rasa kesal di dalam hatinya.
"Masalah apa? Jika aku boleh tau."
Suara gadis itu sangat nyaring di telinga Max, membuat Max merasa nyaman berbicara dengan gadis yang baru saja ia temui dan temui.
"Mereka semua keterlaluan, mereka mengira aku mencuri. Padahal seumur hidup aku, aku tidak pernah mencuri ataupun mengambil barang milik orang lain. Semuanya bisa aku miliki tanpa harus mencuri," ucap Max pelan, lupa kalau saat ini ia menjadi orang biasa atas keinginannya sendiri.
Gadis itu melirik sejenak ke arah Max ketika mendengar ucapan Max, gadis itu bisa melihat wajah tampan yang Max miliki, meskipun ia hanya meliriknya sejenak.
"Maaf, maksud aku, aku bisa membeli apapun yang aku inginkan dari hasil keringat aku sendiri tanpa harus mencuri barang milik orang lain." Max membenarkan kata-katanya, karena ia tidak ingin seseorang tau identitasnya selama ia tinggal di kota ini.
__ADS_1
"Ya, begitulah hidup di kota ini. Terkadang kita harus mengorbankan hati dan perasaan demi orang lain," ucap pelan gadis itu terus melihat ke arah laut lepas.
"Maksud kamu apa?” tanya Max melihat ke arah gadis yang menutupi wajahnya yang ada di sampingnya, namun Max bisa melihat sepasang bola mata gadis itu yang terlihat sangat indah, bola mata yang berwarna ungu, bulu mata yang panjang dan lentik dan alis yang sedikit tipis, mungkin gadis ini sangat cantik, itulah yang terlintas dalam pikiran Max.