
Albert dengan setelan jas dan sepatu kulitnya berjalan keluar dari mobil. Begitu Albert keluar, ia melihat Max dan Sebas, tetapi Albert belum mengetahui identitas Max dan Sebas.
Albert melihat Max dan hatinya bergetar dan memiliki rasa takut, karena Max ternyata masih hidup. Yang berarti rencana Albert yang ingin membunuh Max sudah gagal.
“Kenapa kamu datang kesini?” tanya Albert dengan gemetar.
“Aku cuma datang untuk melihat rumahku ini.” Ucap Max sembari memandangi rumah itu.
“Rumah ini sudah tidak ada hubungannya denganmu lagi sekarang, pergi sana!” kata Albert dengan tegas.
Kemudian terdapat senyuman di mulut Max, “Usst, santai saja. Bagaimana kalau aku tidak ingin pergi?”
Pengurus rumah memelototi Max seperti seekor serigala, “Sampah apa kamu? Berani mengotori rumah ini? Kalian sudah di suruh pergi, kenapa kalian masih tidak pergi.”
“Mulut busuk,” ucap Max dengan ringan.
Sebas yang tadinya di belakang Max, langsung maju untuk menampar wajah pengurus rumah dengan keras. Membuat wanita itu terlempar beberapa meter dan menjerit.
Albert dengan ketakutan mengatakan, “ kamu ... kurang ajar ... aku sudah menelepon satpam ...”
‘Plakk!’ Sebas menampar wajah Albert sampaikeluar percikan darah dari mulut Albert.
“Uhuk-uhuk ... jangan mendekat lagi ... tolong jangan bunuh aku ...”
Meskipun Albert adalah seorang pembisnis yang pintar, tetapi kecerdasannya tidak akan menyelamatkan dirinya pada situasi itu!
“Albert, aku akan memberimu waktu 1x24 jam untuk segara pindah! Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya sendiri!” ucap Max dengan dingin dan kejam.
‘Orang yang menghilang selama 6 tahun itu masih ingin kembali ke rumahnya? Jangan harap’ ucap Albert dalam hati.
Max langsung pergi setelah mengatakan itu.
Setelah kejadian itu, Albert langsung ke rumah utama keluarga Veyron untuk menemui ayahnya.
“Pa, ada masalah besar!” Albert bergegas masuk dan segera memberitahu Rony semua masalahnya.
“Pa, papa harus balas dendam untuk aku ... lihat bagaimana aku dipukuli.”
Rony langsung marah melihat anaknya dipukuli.
“Sampah bernama Max itu kembali, dan sekarang dia berani menyentuh anggota keluarga Setiono yang sekarang?” ucap Rony.
__ADS_1
“Apakah kamu tidak bisa mengalahkan sampah seperti Max?” Rony berkata lagi sembari melototi Albert.
Albert terlihat sedih setelah mendengar kata-kata Rony, “Bukan begitu pa, ada orang pria yang sangat kuat di sampingnya. Jika aku tidak menyerahkan rumahnya pada saat itu, dia tidak segan-segan membunuhku pa ...”
“Baiklah, besok kamu bawa orang ke rumahmu. Aku ingin melihat apa yang dia bisa lakukan padamu? Dan besok aku tunggu kabar baiknya!”
Kemudian Albert ingin menambah lebih banyak orang yang besok akan dibawa, “Pa, sebaiknya kamu membawa lebih banyak orang ... takutnya Max akan membawa banyak orang juga.”
Mata Rony bersinar dengan niat membunuhnya, “Bagaimana jika kamu membawa Isaac Miller?”
“Boleh juga tuh pa!”
Isaac Miller adalah preman di kota S dengan ratusan bawahan yang terkenal kejam! Sudah tak terhitung berapa banyak darah yang mengalir di tangan Isaac. Selama bertahun-tahun, Isaac sudah banyak membantu Rony.
......
Di sisi lain, Alena telah pulang ke rumah setelah hari yang sibuk dan wanita itu menyadari kalau dia tidak mengabari sahabatnya itu.
“Ayah, Ibu, Max tadi datang ke sini? Tanya Alena.
“Enggak tuh, kayaknya dia juga sibuk nak.” Ucap Arya.
Kemudian Alena masuk ke dalam kamar dan menelepon Max.
“Halo ... Al, bagaimana dengan masalah investasinya?” langsung tibul pertanyaan dari Max
Alena terlihat sedih berbicara tentang itu, “Hei ... jangan membicarakan tentang itu, semua orang tidak setuju!”
“Tenang saja, aku akan menemanimu pergi, pasti akan berhasil! Oh ya, apakah kamu mau pergi ke suatu tempat bersamaku besok?”
“Boleh, emang mau kemana?”
“Besok kamu juga akan tahu.”
Keesoka paginya pada pukul 8, Max dan Alena muncul di rumah Max yang dulu.
“Alena, hari ini aku akan meminta rumahku kembali!” ucap Max.
“Hah??” Alena yang terkejut.
Albert yang sudah menunggu Max melihatnya datang, dia mencibir, “Kamu berani juga datang?”
__ADS_1
“Sudah beres-beres untuk pindah? Aku akan mengambil kembali rumah ini! Ucap Max tanpa ekspresi.
“Hoi, kamu siapa sekarang? Ingin mengambil rumahku? Lancang sekali kamu!” ucap Albert sembari membawa sekelompok orang-orang ke situ.
Di samping Albert terdapat seorang pria yang mengenakan Tang dan memiliki bekas luka di wajahnya yang sangat mencolok. Serta orang-orang di belakang pria itu yang membawa berbagai senjata untuk ngelawan Max.
Pria itu adalah Isaac Miller yang terkenal di kota S! Tidak tahu sudah berapa banyak nyawa yang sudah ia cabut dan betapa besar jumlanya penjahat di bawahnya.
Albert merasa lega, melihat lebih dari 100 preman yang datang.
Alena ketakutan dengan para preman itu dan segera bersembunyi di belakang Max.
Albert mendorong Max dengan kasar, “Kamu sudah berani menyinggungku, hari ini aku harus balas dendam! Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu hidup lagi!”
“Max, ayo kita segera pergi, kita tidak akan bisa mengalahkan mereka! Ucap Alena sambil menangis.
“Hahh, mau pergi? Terlambat! Apakah kamu pikir bisa datang dan pergi semaumu?” ucap Albert dengan menaikkan nadanya.
“Hahaha ...” semua orang tertawa dan para preman itu melangkah maju. Melambaikan senjata yang di tangan mereka yang membuat Alena ketakutan.
Berbeda dengan Max, dengan wajah tanpa ekspresi hanya menelepon seseorang ketika menghadapi situasi itu, “Sebas, panggil resimen dari wilayah militer kota S! Suruh mereka untuk bersenjata lengkap!”
Alena sungguh ketakutan dan tidak mampu mendengar kata-kata Max. Tetapi karena suara Max yang dalam dan rendah, semua orang bisa mendengarnya.
Albert mencibir lagi, “Hahaha ... duh? Menelepon seseorang? Apa lagi yang bersenjata lengkap? Oke lah, aku tidak akan mengganggumu, aku ingin melihat siapa yang bisa kamu panggil?”
Lima belas menit kemudian, satpam yang menjaga pintu masuk depan rumah tercengang karena kendaraan mliter yang penuh dengan puluhan tentara melaju kawasan rumah elit tersebut.
“Gila ... ini lebih dari seribu orang kan?”
“Ya tuhan, siapa yang telah menyinggung seseorang disini?”
Percakapan para satpam.
Rumah milik Max adalah nomor A25, kini lima kawasan rumah elit A21, A22,A23,A24,dan A25 dipenuhi dengan tentara bersenjata. Para tentara itu diatur menjadi 6 barisan dengan senjata standar di setiap tangan mereka, tentara itu hanya menunggu perintah.
Di depan rumah, Albert menatap Max dengan wajah kesal yang sudah menunggu sedikit lama, “Mana yang kamu panggil? Kenapa tidak ada yang datang? Apa mungkin takut? Hahaha ...”
Lalu Max menjetikkan jarinya, “Tekk!”
“Duk, duk, duk ...” tanah berguncang tiba-tiba dan langkah kaki seragam terdengar keras.
__ADS_1