
“Isaac, aku sebagai saudaramu sungguh kecewa! Kamu sudah sangat meremehkanku? Keluar!” Joan meraung dengan keras.
“Kamu sungguh akan menyesal jika kamu tidak mendengarkanku!” teriak Isaac.
Pada saat itu juga Alena kembali ke Green Mountain House dan mencoba menghubungi Max lewat telepon. Setelah terhubung, Max lalu bertanya, “Ada hari ini? Apakah ada masalah di lokasi kontruksi?” tanya Max.
Alena dengan wajah lesu memberi tahu apa yang telah terjadi.
“Oke, serahkan saja padaku. Aku akan pergi ke lokasi konstruksi besok malam.” Ucap Max.
Max menutup teleponnya dan berganti menelepon Sebas, “Sebas, aku butuh sekelompok orang besok malam.”
“Jenderal, kamu harus menghubungi Tian! Ada begitu banyak orang di bawah Tian!”
Tian dengan cepat berinisiatif menghubungi Max, “Jenderal sudah benar menghubungiku, ketika Jenderal berada di kota S, aku telah melatih sekolompok tim cadangan pasukan khusus di kota S. Totalnya ada tiga ratus orang!”
Dalam setengah bulan terakhir, mayor jenderal Tian telah melatih sekelompok pasukan khusus di kota S. Tian sendiri telah memilih 300 orang dari 15.000 pasukan.
“Oke, baiklah, kamu bawa pasukan khususmu ke sini besok malam. Mereka juga belum memiliki pengalaman yang begitu banyak, itu cocok buat mereka untuk mencari pengalaman!”
“Siap, Jenderal!” Bisa didengar bahwa Mayor Jenderal Tian sangat bersemangat di ujung telepon.
Lima jenderal di bawah komando Max semuanya adalah jenderal besar di Negara X, Max juga mempunyai jenderal-jenderal besar di semua Negara.
Akan tetapi, para jenderal besar masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda. Seperti, Mayor Jenderal Sebas adalah komandan operasional keseluruhan, sedangkan Mayor Jenderal Tian adalah instruktur yang berspesialis dalam melatih pasukan khusus.
Pada hari kedua, Alena mematuhi Max dan melanjutkan proyeknya secara normal. Tetapi alami, hal tersebut dilihat oleh orang-orang dan menyebar ke Joan.
“Apa? Mereka berani melanjutkan proyek pembangunannya? Mirza! Bawa lebih banyak orang malam ini, dan beri mereka pelajara!” ucap Joan sambil marah.
Malam telah tiba, Max telah meminta Alena untuk membawa karyawanya ke tempat yang lebih aman. Kemudian Max dan mayor jenderal Tian menetap di lokasi konstruksi untuk menunggu kedatangan Tian.
Setelah beberapa saat, mulai banyak orang berdatangan. Mirza telah membawa ratusan preman dan masing-masing dari mereka sangat kuat, bahkan tidak perlu membawa warga sekitar.
“Ternyata tidak orang sekali pun di sini? Ya sudah lah, hancurkan semuannya!” perintah Mirza.
__ADS_1
Kemudian dari sisi kegelapan, terlihat sosok Max dan Tian keluar sembari melihat mereka.
“Wah, masih ada orang ternyata, kalian pekerja di sini? Melihat dari pakaian kalian, sepertinya kamu adalah tentara?” Mirza melihat Max dan Tian dari atas ke bawah.
“Haha, apakah Alena sudah terlalu merendahkan kita? Dia mengirim dua mantan tentara hanya ingin menghentikan begiitu banyak dari kita? Siapa yang kalian takuti dengan sebuah radio di bajumu?” Mirza memandang rendah mereka berdua.
“Oke, patahkan kaki dan tangan mereka, dan kirim ke rumah sakit, asalkan kalian tidak membunuh siapa pun!” perintah Mirza.
Ketika preman-preman yang dibawa Mirza hendak melakukan aksi, Tian mengambil radio dan mengatakan, “Operasi dimulia!”
“Cyuu ... duarr!” sebuah suara tajam mendengar.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki cepat di sekeliling, seorang pasukan khusus bersenjata lengkap muncul di hadapan mereka dan otak mereka lansung kosong.
Sebelum Mirza bisa bereaksi, seorang pasukan khusus memukulnya hingga terjatuh ke tanah.
“Buk! Buk!”
Meskipun preman dan para pembunuh itu sangat kuat, tetapi mereka tidak ada kesempatan untuk melawan sama sekali. Semua preman itu sudah terjatuh di tanah, dengan mengangkat tangan.
“Haha, 58 detik ... nyaris tidak lolos!” ucap mayor jenderal Tian sambil melirik jam tangannya.
Mirza yang jatuh ke tanah mendengar laporan tersebut, matanya segera terbuka dan rahanya jatuh karena syok.
“Apa? Pasukan khusus? Mayor Jenderal? Kita hanya preman kecil, untuk apa membutuhkan pasukan khusus untuk datang?” ucap Mirza.
Kemudian Mirza melihat sekumpulan sinar inframerah mengarah ke mereka dan langsung semua orang mengerti apa itu.
“Semua sniper, keluar! Perintah Tian.
Para sniper pun muncul.
“Tian, cari tahu identitas mereka!” ucap Max sambil merokok.
Yang berdiri di sampingnya adalah mayor jenderal. Tetapi mayor jenderal tersebut menghormati, bahkan menerima perintahnya. Identitas macam apa yang dia miliki?
__ADS_1
Tian mencengkeram leher Mirza sampai mengudara, otomatis Mirza berkata, “Aku akan mengatakan yang sebenarnya! Kami dikirim oleh Joan!”
“Dalam 20 menit suruh Joan datang menemuiku, jangan sampai aku yang mencarinya. Dan jika itu terjadi, maka kalian akan tamat di sini!” ucap Tian dengan senyuman menakutkan.
“Baik, baik, aku akan meneleponnya sekarang!,” jawab Mirza yang terlihat ketakutan.
Mirza menghubungi Joan, saat itu juga Joan sedang duduk menikmati suasana di sebuah bar, “Apa masalah sudah selesai? Tadi keluarga Veyron menanyakan,” tanya Joan dengan santai.
“Kabar buruk, terjadi masalah! Cepat lah datang ke sini dalam waktu 20 menit! Kami telah ditahan!”
“Ditahan?”
Mirza belum selesai berkata, telepon itu terputus.
Setelah mendengar situasi yang tidak terduga itu, Joan berkata, “Kumpulkan semua saudara dan ikut aku sekarang!”
20 menit kemudian, satu per satu mobil van muncul di lokasi konstruksi. Dalam kepemimpinan Joan, ratusan orang menerobos masuk bersama-sama.
Mereka semua melihat Mirza dan yang lainnya terbaring di lantai, di depannya berdiri dua orang, yaitu Tian dan Max. Meskipun dia melihat sesuatu yang tidak biasa, siap yang dia takuti di kota S?
“Joan bukan? Sekarang jawab pertanyaanku, siapa yang menyuruh kalian berbuat demikian?” tanya Max.
“Emang siapa kamu? Berani-beraninya bertanya padaku?” jawab Joan.
Tetapi momen setelah itu dia sama sekali tidak menyangka, dia melihat Tian mengeluarkan pistol mengarah pada tengah alisnya. Pistol itu tentunya terisi!
“Bodoh! Pertanyaan yang sungguh bodoh! Kalian sungguh tidak pantas bertanya pada beliau!” kata Tian.
Joan pun sudah mulai gemetar ketakutan, dari dulu belum ada yang berani melawannya dengan pistol. Joan berlutut dengan gemetar, “Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik! Jika kulihat ini adalah pistol model khusus, sepertinya milik kemiliteran?”
Joan adalah seorang veteran yang licik, dia bisa melihat aura kemiliteran yang tegas dari Max dan Tian. Terutama model pistol di tangan Tian, dia tidak sengaja melihat bahwa pistol itu disiapkan untuk pasukan khusus.
Tian tidak berkata apa pun, hanya saja jaket yang dikenakan tiba-tiba terbuka, menampakkan pakaian biasa yang dia kenakan. Terlihat ada tanda bintang di pundaknya! Mayor Jenderal! Dan ternyata adalah Mayor Jenderal.
Joan sangat terkejut dan hampir pingsan. Tidak disangka, dirinya bisa bertemu dengan kejadian seperti ini.
__ADS_1