
Alena menelepon Max dan menyuruh ke rumahnya, untuk berpikir bagaimana mereka akan mendapatkan investor. Tak berapa lama, Max tiba di rumah Alena.
“Alena, kalian tidak perlu khawatir, pada waktunya nanti ada orang yang akan menginvestasinya!” ucap Max sambil tertawa kecil. Siapa sangka itu semua sudah diatur oleh Max.
“Kamu nih! Bantu kami berpikir, untuk mencari jalan keluarnya!”
‘Ding dong ...” terdengar suara bel pintu, setelah dibuka, ternyata Lara datang.
“Paman dan bibi ada di sini? Kakek menyuruhku untuk memberitahu kalian, kalau malam ini ada pertemuan keluarga, kalian harus datang ya!”
Setelah mengatakan hal itu, Lara langsung pulang.
“Alena, Om, Tante, aku pamit dulu ya. Mengenai masalah investasi, aku akan coba membantu kalian!”
Max pergi ke Apartemennya untuk mengurus masalah investasi.
Malam telah tiba, ketiga orang itu datang ke kediaman keluarga Veyron. Halaman yang besar dengan banyak bangunan kecil bergaya barat dan eropa.
Alena menyadari tatapan dari keluarga Veyron mengandung kebencian serta keinginan dendam yang tinggi, seperti dia sudah mengambil sesuatu yang berharga dari mereka.
Mereka paham bahwa keluarga Veyron menganggap mereka sebagai musuh, apalagi keuntungan yang besar telas didominasi oleh keluarga Alena.
Akan tetapi Adam dan beberapa orang sangat menyambut mereka dengan ramah.
“Arya, ayo duduk.”
Setelah semua orang duduk, Adam bertanya pada Alena, “Alena, bagaimana perkembangan proyeknya?”
“Kakek, pendanaan awal sekarang menjadi masalah utama! Dalam waktu singkat tidak mendapatkan investor, dan hanya tersisa 4 hari dari waktu yang ditetapkan.”
“Hahaha ... sudah kubilang kan, bagaimana mungkin perusahaan Aralnaco milik kalian yang kecil mengambil proyek besar?”
“Betul sekali, jangan mengambil jika kalian tak mampu! Apakah kalian tidak tahu kemampuan kalian sendiri?”
Alena dan orang tuanya hanya bisa menahan, karena tidak ada cara menyelesaikan masalah investasi ini.
“Alena, kakek sangat sedih. Kenapa kamu mengabaikan orang yang termasuk anggota keluarga Veyron sendiri?” kata Adam yang tersenyum.
“Kamu bisa mencari kami, meskipun Veyron Corp bukan perusahaan besar, tapi proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah ini masih bisa ditangani. Untuk modal awalmu, kakek bisa memberinya!” Adam berkata serius.
“Pasti tidak sesederhana itu, bukan kek? Apakah pendanaan bersyarat?” Alena langsung bertanya.
__ADS_1
“Iya pasti ada. Beberusan dengan orang pintar memang menghemat waktu.” Adam berkata sambil tertawa.
Rino mengambil berkas dan langsung menyerahkan perjanjian dari samping, “Alena, lihatlah ini?”
Alena menerima dan segera membaca perjanjian itu, isi perjanjiannya sangatlah sederhana.Veyron Corp berinvestasi di perusahaan Aralnaco, tetapi menginginkan 95% keuntungan dari proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah.
Setelah Arya membaca sampai selesai, dia sangat kesal tubuhnya bergetar, karena ini sama saja penipuan. Adam sama sekali tidak menganggap Arya sebagai anak.
“Apa-apaan ini pa? Apakah kalian tidak merasa malu memiliki nama keluarga Veyron? Jika masalah perjanjian ini sampai didengar oleh orang luar, maka reputasi keluarga Veyron akan anjlok! Karena mereka pikir keluarga Veyron hanya memanfaatkan perusahaan Aralnaco.” Ujar Arya yang sangat marah.
“Arya, tutup mulut kamu, kamu sudah berani bicara seperti itu?” ucap Rino.
“Sudah-sudah, Alena, Arya, Nanda, kalian jangan marah, sebenarnya kalian bisa pikirkan dulu. Tetapi coba pikirkan kalau aku berinvestasi di proyek ini, kalian bisamendapatkan banyak untung juga. Kira-kira bisa menghasilkan berapa miliar. Kalian tentukan sendiri ...” ucap Adam sambil tersenyum licik.
“Haha ... kecuali kalian pikir bisa mendapatkan investor dama 4 hari, maka bisa memulai proyek tepat waktu.” Sahut Yuki.
Keluarga Veyron menyimpulkan bahwa dalam waktu 4 hari terakhir, Alena tidak bisa mendapatkan investasi. Sehingga dia hanya bisa patuh untuk menandatangani perjanjian itu.
“Kalian tak perlu buru tanda tangan, rundingkan saja dulu.”
Adam membawa rombongan itu pergi, dan hanya meninggal mereka.
“Benarkah? Baiklah, bukankah masih ada 4 hari lagi? Kalau masih tidak bisa juga, baru kita tanda tangan.”
“Iya benar pa, boleh juga cara ini!”
Mereka bertiga sudah setuju.
Setelah Adam dan yang lainnya kembali, merekapun juga setuju. Mereka yakin bahwa mereka bertiga tidak akan menemukan investor dalam 4 hari.
......
Sisa 4 hari, Alena bekerja keras ke sana kemari untuk mencari investor. Tetapi hasilnya tetap nihil.
Tinggal 1 hari lagi, Alena sungguh putus asa, dan menghubungi Max untuk segera ke rumahnya. Max tiba di rumahnya, tetapi mereka bertiga terlihat lesu.
Arya bangkit berdiri, “Ayo, kita tanda tangan perjanjian itu sekarang!”
“Jangan dulu, kita tunggu sebentar lagi! Bukankah besok sebelum jam 9 pagi juga boleh?” Max menghalangi.
“Alena, ingat jangan tanda tangan malam ini, tunggu sampai besok pagi, aku akan keluar sebentar.”
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Max meninggalkan tempat itu. Max menghubungi Sebas dan ia segera menuju Apartemennya.
Di depan apartemen, Sebas menunggu Max lebih awal.
Sebas menghampiri Max, dan bertanya, “Ada masalah apa jenderal?”
Max mengambil selembar kertas, “Segera hubungi perusahaan ini!”
Keesokan paginya,
Arya memanggil Alena untuk bangun, “Ayo, kita segera tanda tangan kontrak dengan papa! Kalau tidak, semua akan telat!”
Ketika Arya bertiga sampai di rumah keluarga Veyron, Adam dan yang lainnya sedang menunggu. Melihat mereka bertiga itu datang, mereka sungguh menertawakannya.
“Alena, apakah perlu? Semua orang sudah tahu, kalian tidak bisa mendapatkan investor. Apa yang sedang kamu perjuangkan?”
Lara dan Daniel langsung mengejek.
Saat ini, di mata mereka bertiga, Alena itu bagaikan anjing liar yang mengibaskan ekornya untuk mengemis.
Pada saat itu, Alena berkata, “Kakek, kami bersedia tanda tangan perjanjiannya.
Alena terpaksa menandatangani perjanjian itu dengan tidak berdaya.
“Berhenti, jangan tanda tangan!”
Saat itu, Max ternyata datang ke sini dan langsung membuang pulpen dan merobek kertas perjanjian tersebut.
“Apa yang kamu lakukan Max?” tanya Alena yang marah pada Max.
“Aku menolak perjanjian itu, beri aku waktu sepuluh menit!”
Semua ikut marah, karena kertas perjanjian sudah dirobek Max, “Hah, sungguh bodoh kau, emangnya bisa dalam sepuluh menit bisa dapat investor langsung? Oke baiklah, aku tunggu. Jika tidak ada investor, maka proyek ini akan diambil alih Veyron Corp! Bagaimana?” ujar Adam.
“Deal!” Sahutnya Max
Adam pun penasaran, semua ingin melihat apa yang akan terjadi setelah sepuluh menit. Lara dan yang lainnya sedang menunggu untuk mengejek.
Dengan cepat, waktu sepuluh menit pun hampir hambis, tetapi, “Brum ... brum ... brum ...” suara mobil yang berdatangan.
Deru mesin mobil terdengar, memenuhi seluru kompleks keluarga Veyron. Gerakan yang begitu besar menarik semua orang keluar dari rumah itu.
__ADS_1